AES 862 Manis Dan Pahit

Manis dan pahit jika berkaitan dengan indera pencecap, itu memang sebuah fakta yang menarik. Dalam pelajaran biologi, bagian lidah kita punya tugas masing-masing; ada titik yang merasakan pahit dan ada titik yang merasakan manis. Juga ada juga range antara manis dan pahit, ada yang manis sekali, ada yang kurang manis, ada yang sangat pahit ada juga pahit yang bisa dianggap sebagai sebuah kenikmatan. Tapi jika itu urusan hati, maka pahit dan manis seringkali merupakan pilihan! Entah secara psikologi benar atau tidak, saya tidak benar-benar paham. Tapi saya memang punya pilihan. Itu justru merupakan semboyan saya setiap hari dan saya cantumkan dalam blog pribadi. Saya selalu berkata bahwa ketika bangun setiap pagi, saya bisa memilih. Memilih ingin bahagia, atau memilih untuk bersedih. Nah mungkin itu juga berlaku dengan urusan manis dan pahit yang ada di dalam hati.
Kesehatan mental katanya ditandai dengan kemampuan kita untuk dapat menguasai emosi yang berlawanan. Memang pada kenyataannya kita memiliki kecenderungan hanya memilih salah satu, tapi juga merupakan kenyataan hidup bahwa kita seringkali tidak mampu tetap mempertahankan satu perasaan dari yang lainnya. Hidup itu tidak sesederhana itu, hidup itu kompleks dan rumit. Kita bisa saja ditarik kesana kemari antara perasaan sedih dan senang, antara kepahitan dan kemanisan hidup. Jika terjebak dalam kepahitan kita bisa terjerumus ke dalam masalah yang jauh lebih serius tapi terus berada dalam situasi yang manis juga tidak berarti tidak mempunyai masalah serius. Berusaha menyangkal adanya problem hidup misalnya merupakan salah satu contoh jika kita ngotot untuk mempertahankan "kemanisan".
Satu hal yang selalu harus kita ingat adalah keinginan kita untuk merangkul dan berdamai dengan perasaan yang kita miliki. Merangkul artinya mengakui dan menerima. Kita bisa saja merasakan kesedihan dan kebahagiaan pada saat yang sama, merasa kuat dan sekaligus lemah dan mengakui bahwa kita terus menerus berubah.
Memilih itu tidak mudah. Walau saya selalu menggembar gemborkan bahwa setiap hari saya mempunyai pilihan, jujur saja, tidak mudah! Wajar setiap orang cenderung untuk memilih merasakan suatu yang manis, yang menyenangkan, tapi kenyataannya kita tidak selalu merasa begitu. Kita tidak bisa dengan mudah memilih walau memang benar bahwa pilihan itu selalu ada. Satu hal yang saya selalu usahakan adalah dengan cara meningkatkan kemampuan saya untuk lebih banyak merasakan hal yang baik.
Perasaan adalah semacam panduan. Perasaan memberikan kita semacam masukan tentang interpretasi kita pada situasi tertentu. Contoh sederhana, Ketika misalnya Kano marah-marah karena seumpamanya saya telat menjemput. Lalu dia mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Perasaan sakit itu merupakan masukan bagi saya, semacam kritik tapi memang dengan cara yang tidak menyenangkan. Yang anak-anak katakan tidak berarti bahwa saya adalah seorang ayah yang buruk, bukan berarti saya gagal sebagai orang tua. Di sini saya mulai melakukan pilihan. Kita cenderung terlalu keras pada diri sendiri, sebaiknya tidak begitu. Memanipulasi feedback, masukan, kritik dari luar tidak akan membantu kita untuk merasa lebih baik. Nah pada saat ini kita sebaiknya mulai mengevaluasi diri. Katakan saja kita membuat semacam daftar inventaris apa saja yang sudah kita lakukan sebagai orang tua, atau dalam kaitan dengan ini saya sebagai seorang ayah. Apakah labeling saya sebagai seorang ayah yang gagal itu benar? Hahaha.. tentu saja tidak, lihat daftar inventaris tadi. Yang saya lakukan saat ini hanyalah sebuah kesalahan, yaitu terlambat menjemput. Terima kondisi itu, minta maaf dan lupakan! Untuk apa terus menerus terjebak dengan perasaan buruk? Saya bukan seorang ayah yang gagal, saya hanya membuat sebuah kesalahan. Saya memilih untuk menerima kesalahan, merangkul rasa pahit, meminta maaf dan move on.
foto credit: associationsnow.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31