AES 869 Negative Bias

"Sorry Mas, aku lagi jengkel. Masa direktur ngomel karena ada beberapa sudut yang kotor, sementara hasil asesmen keseluruhan sudah bagus, lulus dengan di atas 90 poin." Kata sahabat saya.
"Iya, ya, kenapa sih dia justru lebih ngeliat yang negatifnya. Memang kita harus beresin, tapi coba liat tempat lain yang ga lulus, cuma dapet poin 75?" Jawab saya.
"Mangkanya aku jengkel sekali," Kata sahabat saya itu lagi
Saya begitu penasaran. Sama seperti banyak contoh di internet. Saya hobby sekali nonton klip-klip memasak dan saya amati betul-betul. Skill dan jenis makanannya sangat baik dan terus terang saya seringkali tertarik untuk mencoba membuatnya. Tapi, kalau melihat komentar dari mereka yang juga menonton klip itu, pasti ada banyak yang memberikan komentar negatif seperti misalnya: "Wear gloves!", "don't use your hand", atau yang lebih menyebalkan jika ada yang komentar."My mom can cook better!" Dalam hati saya ingin ikut memaki orang-orang semacam itu, apalagi yang terakhir, emang dia bisa mereasakan makanan yang dimasak di dalam klip itu? Tahu darimana jika ibunya jauh lebih enak? Sangat konyol, atau mereka-mereka yang komentar orang masak untuk keluarganya tapi harus memakai sarung tangan, coba saya tanya, ada berapa milyar orang yang memakai sarung tangan ketika sedang menyiapkan makanan untuk keluarganya? Nah karena itu saya mulai sangat jarang mencoba membaca komentar, sebab pasti banyak sekali orang-orang yang sangat negatif yang merusak kegembiraan saya ketika melihat kegiatan memasak itu.
Memang betul, saya juga mengakui kadang mempunyai pendapat, terutama soal kreatifitas dan teknik memasaknya. Banyak orang yang membuat konten tapi saya bisa melihat kemampuannya belum cukup. Wajar saja. Semua orang mulai dari tidak bisa, kemudian belajar hingga menjadi mahir, itu bagian dari kenyataan hidup. Jadi saya berusaha melihat segi positifnya. Itu yang lebih menyenangkan bagi saya daripada mengkritik, apalagi kritiknya hanya sekedar mencemooh. Itu bukan kritik, tapi membully. Daripada mencemooh jika melihat ada sesuatu yang ditampilkn dan kita menganggap itu ridiculous ya skip saja toh? Saya punya prinsip,"Do not yuck other people's yum!" Seperti misalnya orang begitu menghina dan mengumbar rasa jijik melihat orang Philipina makan balut. Buat mereka itu delicacy, kalau buat orang lain tidak cocok ya itu masalah mereka, bukan? Saya tidak bisa makan balut, (balut adalah telur ayam yang sudah tumbuh menjadi embrio dan hampir menetas), ya sudah, tapi bukan hak saya untuk menghina mereka yang menyukainya bukan? Atau orang menghina mereka yang gemar durian? Durian untuk banyak orang dianggap sebagai raja dari buah-buahan hahaha.. Atau kalau Anda ke Alaska, coba deh makan acar hidung moose, atau moose nose jelly. Hehehe.. Membayangkan makan hidung saja untuk sebagian orang sudah membuat isi perut berguncang, tapi bagi mereka di Alaska yang hampir sepanjang tahun suhunya sangat dingin dan penuh es, bagian-bagian tubuh binatang itu bisa diawetkan untuk kelangsungan hidup, survival, daripada dibuang lebih baik diawetkan dengan dibuat jelly atau acar. Atau coba tawarkan jerohan sapi ke orang-orang bule, apakah mereka bisa bertahan? Belum tentu! Atau contoh lain, Pernah makan pinapaitan? Itu semacam sup daging sapi, seringkali menggunakan daging tetelan ditambah jerohan, begitu hampir matang lalu dimasukkan cairan ajaib, yaiotu cairan empedu yang kalau mau tahu, baunya seperti bau kotoran! Serius loh.. dan rasanya ya pahit-pahit bauuu. Nah itu makanan favorit orang-orang daerah Utara Philipina, terutama di pulai Illocos, penduduknya menyebut diri mereka Ilocano. Orang yang belum pernah mencoba, biasanya butuh ketegaran ditambah kekuatan perut hahaha.. Dulu tukang-tukang masak saya kebanyakan dari daerah itu, jadi tidak heran bagi saya menjumpai makanan itu disiapkan untuk menu karyawan. Bentukya seperti coto Makasar, baunya seperti bau jamban! Hehehe.. Saya bukan orang pengecut, dan karena berani menganggap diri sebagai pencinta kuliner, ya saya coba! Dan saya suka! hehehehe..
Ota manusia disinyalir memiliki kecenderungan alami yang memberikan porsi lebih terhadap pengalaman atau interaksi negatif dibandingkan yang positif. Para psikolog mengatakannya sebagai bias negatif (negative bias) dan itu menyebabkan manusia lebih memfokuskan diri pada satu hal negatif debandingkan dengan ratusan atau ribuan hal negatif. Nah setelah saya membaca itu, saya sekarang mengertti mengapa direktur tempat saya bekerja justru lebih memperhatikan sudut-sudut yang kotor dibandingkan prestasi luar biasa para karyawan sehingga memperoleh poin diatas 90!
Katanya juga emosi negatif melibatkan pemikiran yang lebih banyak dan informasi yang diproses lebih menyeluruh daripada hal-hal yang positif. Pernah mencoba membuat daftar hal-hal positif dan negatif dalam diri kita? Saya pernah mencobanya dihadapan murid-murid saya dulu ketika mengadakan reoleksi atau retret tentang pengenalan diri. Saya minta mereka menuliskan datar hal-hal negatif dan positif, kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki. Mereka menuliskan belasan hal negatif bahkan puluhan, tapi hanya beberapa hal positif. Ya kita terlalu banyak mencela diri sendiri daripada menyanjung-nyanjung kebaikan diri sendiri. Coba saja ketika interview pekerjaan. Perusahaan meanyakan, "Why should we hire you? What are your strengths and your weaknesses?" Langsung kita kelabakan bukan? Kenapa? Karena kita cenderung terus menerus berpikiran negatif! Mudah sekali memberi contoh hal-hal negatif, tapi masa kita mengumbar kekurangan kita di dalam wawancara ketika melamar pekerjaan? Ya ntar ditolak dong! Hehehehe
Foto credit: cognitivebias.io
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1579 10 Tahun
Entah sudah berapa kali saya menulis untuk diri sendiri sebuah pertanyaan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, atau mungkin hanya sekedar bertanya-tanya saja, atau hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu.Pertanyaannya sederhana, "Seperti apa saya 10 tahun lagi." Dah, itu aja!Kalau di…
joefelus00
AES 1578 Katakan Tidak!
"Hmm.. bahkan mengucapkan kata "tidak" saja butuh ketrampilan!" kata saya dalam hati.Pertentangan di dalam pikiran saya terus menerus berkecamuk. Kalau ingin mudah, sebetulnya saya tinggal menjawab "ya", hanya saja itu berarti saya sedang menunda-nunda untuk menghadapi hal yang sulit. Jika menjawab…
joefelus10
AES 1577 Seandainya Masih Seperti Dulu
Jalan raya walaupun agak gelap, masih dapat memantulkan cahaya dari penerangan ala kadarnya. Hujan yang turun tadi sore membuat udara lumayan sejuk dan memberikan sedikit efek pantulan cahaya di aspal yang masih menyisakan sedikit genangan-genangan air. Sudah lumayan lama saya tidak mengendarai sep…
joefelus20