AES 880 Mencoba

Ini adalah malam tersulit bagi saya untuk menulis. Sudah hampir 3 jam memandangi layar monitor tanpa ada terlintas sedikitpun ide. 99% pikiran saya hanya membiarkan hari ini tanpa tulisan sama sekali. Tapi sangat sulit untuk menyerah begitu saja. Apalagi setelah beberapa hari terakhir ngobrol soal komitmen, determinasi dan sebagainya, sementara saya sendiri saat ini memiliki masalah besar untuk memegang hal-hal itu. Kontradiktif sekali ya?
Saya baru saja menyampaikan berita ke Kano dan sepertinya dia tidak menyukainya karena ada hal-hal yang bagi dia tidak nyaman. Nah sampai di sini saya mulai berpikir seandainya saya adalah dirinya, bagaimana reaksi saya? Atau dalam bahasa Inggrisnya putting myself in his shoes. Hmm.. Mungkin saya akan bereaksi serupa.
Baiklah, sekarang saya akan berpikir tentang ketakutan yang biasa saya hadapi. Yang sederhana saja, misalnya takut akan ketinggian. Ini saya sadari betul, butuh waktu lama untuk bisa menghadapi rasa takut ini. Saya ingat ada 1 tempat waktu saya di Hawaii yang berusaha dihindari, yaitu struktur tangga ke tempat parkir. Saya sangat ketakutan karena tempatnya tinggi dan terbuka. Lutut saya kehilangan tenaga begitu mengambil 1 langkah. Butuh waktu berbulan-bulan untuk memberanikan diri. Saya juga ingat ketika dulu bersama 2 orang sahabat mendaki mahkota patung Liberty di New York. Saya punya videonya dimana 2 sahabat saya berusaha memberi semangat terus mendorong saya hingga ke puncak. Jawabannya 1 kata: Mencoba!
Tahukah sebuah keinginan saya yang paling mustahil yang ingin saya lakukan untuk menantang diri sendiri? Saya tahu rasa takut ketinggian ini masih menghantui. Sudah banyak berkurang kok, tapi ketakutan itu masih ada. Tahun lalu ketika saya mendaki gedung tinggi terkenal di seattle, yaitu Space Needle, sepertinya sudah tidak seburuk dulu-dulu. Rasa ngeri masih ada tapi saya bisa menanggulanginya. Nah saya tahu sudah ada kemajuan dalam hal ini, jadi saya akan menantang diri sesuatu yang mustahil tapi ingin saya lakukan sebelum saat saya menutup mata di akhir kehidupan. Apa itu? Terjun payung! Hahahaha..
Kok nekad? Hahaha.. ini memang ide gila. Tapi saya tahu rasa takut akan ketinggian sudah jauh berkurang. Misalnya eskalator di Dupont Circle di Washington DC. Pertama kali saya mengunjungi tempat itu, lebih dari 20 tahun lalu saya keluar keringat dingin. Menurut saya ini adalah eskalator tertinggi yang pernah saya hadapi. Ketika berada di atas memasuki lorong menuju subway, ujungnya hampir tidak terlihat karena begitu curam. Terakhir saya ke sana beberapa tahun lalu bersama Nina dan Kano, saya sudah tidak terlalu takut lagi. Jadi itu bukti bahwa rasa takut akan ketinggian sudah jauh berkurang. Nah mangkanya saya akan menantang diri dengan sebuah kegiatan yang hampir tidak masuk akal. Nah mudah-mudahan saja kesempatan itu tiba sebelum saya nanti harus pulang kampung hehehe..
Foto credit: skydivesantabarbara.com
Komentar (6)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31

