AES 898 Embracing Life

Kita diberi satu kesempatan untuk menjalani hidup. Well, kalau percaya akan reinkarnasi, mungkin akan mendapat lebih dari satu kesempatan, tapi itu cerita lain karena sebetulnya hingga sekarang belum ada yang yakin hingga 100 persen, sebab katanya jikapun kita tereinkarnasi, kita tidak akan ingat kehidupan kita sebelumnya. Jadi untuk sementara, dalam obrolan kita hari ini, kita ambil premis bahwa hanya satu kesempatan kita untuk hidup.
Barusan saya melihat sebuah gambar, tidak ingat di mana, mungkin di sosial media, foto seorang Jin berwarna biru, dan saya tahu aktor yang memerankannya, Will Smith. Tidak penting apa dan siapa dan juga gambarnya tidak penting, yang ingin saya jadikan bahan obrolan adalah tulisannya. "If you have one wish, what are you going to wish for?" Nah, mulai seru khan obrolannya? Saya langsung berdebat dengan diri sendiri, karena saya harus memprioritaskan sebuah harapan, satu-satunya tidak kurang tidak lebih. Apakah itu? Susah!
Uang? Hmm.. ini dapat dijadikan bahan debat yang menarik. Ketika kita disodori dengan sebuah kesempatan untuk meminta sesuatu yang pasti akan dikabulkan, maka kita akan mulai mempertimbangkan dengan sangat hati-hati. Pertama, saya pikir, kita akan menghubungkan dengan situasi yang sekarang sedang dihadapi. Masuk akal bukan? Jika saya punya uang cukup, maka kano tidak perlu bekerja untuk bisa kuliah. Saya akan dapat membiayai dia hingga lulus, sementara Kano akan dapat menikmati pengalaman yang dia inginkan seperti diam di asrama bersama para mahasiswa lain, ikut klub fraternity atau sorority yang khas Amerika menggunakan huruf Yunani, seperti gamma, beta, Phi dan sebagainya. Kano pernah curhat ke saya bahwa karena harus bekerja dan karena keterbatasan orang tuanya, dia kehilangan kesempatan mengalami itu. Saya agak sedih, dan terus terang jika saya mempunyai sumber yang cukup, langsung saya akan kabulkan keinginannya.
Tapi apakah jika seandainya saya mempunyai kemampuan untuk itu, Kano akan bisa sukses dalam hidupnya? Bisa iya bisa tidak. Kalau sudah begitu akhirnya saya hanya bisa berandai-andai. Benar bukan?
Kita hanya diberi satu kesempatan untuk hidup, dan kita sendiri yang memilih bagaimana menjalaninya. Saya berada di sini, saat ini, karena sebuah pilihan yang diambil 8 tahun yang lalu. Merangkul hidup, embracing life, artinya saya jujur pada diri sendiri, menjadi diri sendiri dan tidak hidup menjadi orang lain atau mengikuti harapan dan aturan orang lain. Tidak! Saya menjalani kehidupan dan menjalani konsekuensi dari pilihan yang sudah saya ambil. Nah mungkin justru ini yang harus saya tularkan pada Kano. Memang betul kesempatan dia untuk menikmati "kehidupan lain, alternate life" tidak terjalani, justru di sini kuncinya. Embracing life adalah kita jalani yang ada sekarang, menerima kondisi yang sedang dihadapi dan living the best life which we have chosen, that has been given. Tapi tentunya sesuai dengan nilai-nilai yang kita miliki bukan berkaca pada pendapat dan harapan orang lain. Kita juga harus dapat berdamai dengan kondisi jalan yang kita ambil dalam hidup dan berusaha menjadi agen perubahan! Nah ini yang harus saya tularkan dan saya ajarkan pada Kano.
Merangkul kehidupan juga artinya kita selalu berusaha menemukan tujuan hidup, purpose of life. Salah satu yang mulai saya pikirkan adalah empowering others. Saya katakan tugas saya sebagai orang tua hampir selesai, saya pernah menulis tentang itu lalu bertanya-tanya apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Ternyata saya pikir tugas itu tidak akan pernah selesai. Walau misalnya Kano sudah mandiri dan dewasa, saya tetap menjadi ayahnya, saya tetap menjaga pintu agar selalu terbuka ketika dia membutuhkannya. Nah daripada hanya menjadi penjaga pintu, apa salahnya saya juga tetap berusaha empowering him? Banyak cara membuat orang lain semakin tegar, kuat dan kokoh. Berbagi pengalaman, mendampingi, membantu, menghibur, bahkan yang sederhana saja yaitu hadir ketika dibutuhkan. Kadang kehadiran dan menyediakan diri menjadi sandaran seringkali sudah cukup. Kesannya cengeng, tapi istilah shoulder to cry on itu pada saat yang tepat lebih berharga dari apapun.
Nah lalu kembali ke pertanyaan tadi, what is the one wish you choose to wish for? Mungkin saya akan berkata, I wish to be able to live my life the best I can!
Foto credit: linkedin.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31