AES 932 Do I Need Closure?

Saya masih penasaran. Pengalaman-pengalaman terakhir ini masih terasa mengambang dan mengganjal saya, karena hingga sekarang tidak pernah tuntas. Saya hanya ingin sekedar berbagi, atau sebetulnya lebih tepat menulis sesuatu yang saya pikirkan atau rasakan tanpa mengharapkan ada yang membaca. Itu tujuan saya menulis, Mencurahkan banyak hal yang saya alami sebagai suatu bagian dari upaya mengerti arti hidup dan memahami pesan semesta melalui pengalaman-pengalaman yang sudah dilalui.
Karena penasaran itu saya sore tadi menghubungi seorang kerabat yang kebetulan adalah seorang psikolog. Yang ingin saya ketahui adalah apa yang harus saya lakukan agar dapat menuntaskan semua yang saya alami ini. Kerabat saya ini menganjurkan agar saya bisa ngobrol langsung. Saya masih harus mencari waktu dimana saya bisa sendirian dan bisa ngobrol hingga tuntas.
Iseng saya mulai mencari tahu di internet. Ini merupakan hal yang selalu saya lakukan jika ingin belajar atau ketika sedang menghadapi berbagai issue. Jaman sekarang memang serba mudah.
Yang saya peroleh adalah katanya sebaiknya saya bisa menerima situasi sebagaimana adanya. Accept things as they are. Lalu saya berpikir, saya sudah mengetahui semua fakta yang ada, saya menerima, saya mengerti, lalu apa? Sekarang begini, ketika kita dihadapkan pada fakta bahwa orang yang kita cintai menghadapi kondisi yang sangat fatal, yang hampir-hampiran, nyaris, sudah sewajarnya kita merasakan sesuatu bukan? Lah itu yang tidak saya alami!
Artikel itu mengatakan bahwa ada atau tidak adanya closure tidak akan mengubah fakta bahwa pengalaman itu sudah terjadi. Bisa saja situasi itu ibaratnya seperti pil pahit yang harus kita telan. Ya, saya tahu itu adalah pil pahit, masalahnya saya tidak merasakan kepahitannya! Dimana letak kesalahannya? Apakah saya berusaha membangun dinding sehingga mati rasa? Sehingga ada mental block yang mem-protect diri saya sehingga tidak merasakan kepahitannya?
Saya terus berdebat dengan diri sendiri ketika membaca artikel itu. Seru sih, seperti dalam sebuah diskusi ramai tapi pelakunya adalah saya dengan diri sendiri hahaha..
Lalu katanya lagi, acceptance is the first step to healing, and when you heal you can move forward. Nah lagi-lagi saya mulai berdebat. Fakta sudah saya akui kebenarannya, sudah saya mengerti. Justru masalahnya saya tidak merasa sakit. Nah di sini justru concern yang saya miliki. Harusnya saya merasa sakit, bukan? Nah itu tidak terjadi, jadi walau saya menerima kondisi itu, tapi karena saya tidak sakit, maka apa yang harus disembuhkan?
Tapi debat saya dengan diri sendiri ini terhenti ketika ada ungkapan bahwa "ukurannya tergantung pada diri sendiri apakah saya membutuhkan closure atau tidak, dan berapa banyak yang saya butuhkan! Kalau tidak butuh mengapa harus memaksakan diri?
Dikatakan juga bahwa ada kemungkinan saya tidak akan mendapatkan closure yang saya inginkan. Yang terpenting adalah urus dan rawat diri sendiri sebaik-baiknya, karena diri sendiri adalah prioritas utama. Closure yang terbaik adalah menjadi diri sendiri, melakukan perjalanan dengan diri sendiri dan menghadapi apapun atau siapapun yang mempengaruhi kebahagiaan dan memfokuskan diri pada orang-orang serta aktivitas yang menghadirkan kebahagiaan dalam hidup. Jadi, apakah closure itu penting? Saya harus bisa memutuskannya sendiri dengan mempertimbangkan keberadaan dan kondisi diri sendiri. Mungkin katanya membiarkan itu semua serta melepaskannya merupakan closure yang saya butuhkan.
Foto credit: 123rf.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31