AES 941 7 Tahun

7 tahun yang lalu, tanggal 20 Desember 2016, sekitar pukul 1:30 siang Kano dan saya mendarat di Denver International Airport sesudah menjalani penerbangan selama hampir 48 jam. Kami berdua berangkat dari Bandara Cengkareng menuju Abu Dhabi, tidak ingat berapa jam perjalanannya. Yang masih melekat dalam ingatan, karena ini pertama kalinya saya dan Kano pergi berdua saja, Kano kehilangan boarding pass nya. Entah terjatuh dimana. Jadi kami kembali lagi ke tempat check in dan meminta boarding pass baru. Lalu kami juga terganjal ketika akan memasuki gate karena Kano menggunakan Passport Amerika. Kenapa begitu, karena Kano memang tidak memiliki Visa untuk ke Amerika, dia tidak membutuhkan itu. Dia memang punya 2 kewarganegaraan. Nah yang jadi masalah, Indonesia tidak mengakui kewarganegaraan ganda. Untungnya waktu itu Kano masih dibawah umur sehingga akhirnya diperbolehkan keluar.
Ini perjalanan yang sangat melelahkan. Saya belum pernah melakukan perjalanan selama ini. Dulu ketika melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Honolulu, tidak lebih dari 20 jam. Lebih lucu lagi dulu saya berangkat dari Cengkareng hari Jumat pukul 1:30 siang, tiba di Honolulu hari Jumat, pukul 12 siang. Jadi seolah-olah saya pergi ke masa lalu hahaha.. Tapi perjalanan kali ini saya kehilangan 1 hari. Berangkat tanggal 18, saya tiba di Denver tanggal 20. Entah sebetulnya berapa jam kami dalam perjalanan, seharusnya tidur 2 kali, tapi kami sangat disoriented sehingga semua membingungkan. Yang jelas kami harus ganti pesawat 3 kali. Dari Jakarta menuju Abu Dhabi, lalu ganti pesawat ke Chicago, Dari sana ganti pesawat lagi menuju Denver. Di bandara Nina sudah menunggu kami berdua.
Kesan pertama di Colorado adalah tempat yang sangat luas. Sepanjang jalan dari Airport menuju Fort Collins yang saya lihat adalah padang yang seolah-olah tidak berujung karena luasnya. Horisonnya adalah pegunungan Rocky Mountain yang puncaknya semua putih tertutup salju. Itu kesan pertama, yang kedua adalah dingin karena kami tiba di akhir musim gugur. Tanggal 21 Desember 2016 adalah hari pertama musim dingin. Jadi Kami tiba 1 hari sebelum Winter, dan kami memang disambut salju yang sangat tebal. Itu kesan ke-3 ketika kami turun dari kendaraan dan membawa 4 buah koper besar dan 2 buah ransel. Saya tidak ingat jaket apa yang kami berdua kenakan, yang jelas kami kedinginan dan salju hampir setinggi1 lutut. Itu hari pertama kami di Fort Collins.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menyesuaikan diri, terutama karena cuaca, altitude dan perbedaan waktu. Tengah malam di Fort Collins adalah siang hari di Indonesia. Ketika semua orang tidur, saya sangat segar bugar. Ketika berjalan kaki saya megap-megap karena altitude di Fort Collins itu 5000 kaki di atas permukaan laut. Jadi memang oksigen jauh lebih tipis dibandingkan dengan di Bandung. Butuh waktu untuk menyesuaikan diri, harus banyak minum dan sebagainya karena kepala menjadi sangat pening. Bandung sangat humid, sementara Colorado sangat kering, tubuh menjadi gatal-gatal dan mudah kesetrum ketika memegang sesuatu, efek listrik statis karena udara yang kering.
Kano dan saya tidak memiliki teman. Jadi kemana-mana kami selalu bertiga. Saya tidak tahu apa-apa, tidak mengenal tempat, tidak tahu Utara, Barat, Timur atau Selatan. Kami juga hampir tidak memiliki apa-apa. Saya ingat harus berjalan kaki beberapa ratus meter jauhnya untuk mencuci pakaian. Tidak terlalu jauh sih, tapi sangat sulit jika harus menembus jalanan yang tertutup salju. Untungnya semua mesin cuci dapat dilihat secara online apakah kosong atau tidak. Jadi dari rumah saya sudah tahu apakah ada mesin cuci kosong atau tidak. Bayangkan jika tidak ada informasi sesudah berjalan kaki jauh, kedinginan dan tiba disana semua mesin cuci digunakan orang lain.
Segala sesuatu kemudian berubah ketika saya sudah memiliki pekerjaan. Hidup mulai semakin mapan dan jauh lebih mudah. Kami memiliki mesin cuci dan dryer sendiri, kemudian memiliki kendaraan. Sebelumnya kemana-mana harus naik bus kota. Untuk ke suatu tempat yang jika berkendaraan pribadi hanya 15 menit, butuh waktu hingga1 jam atau bahkan lebih karena tergantung jadwal bus yang kadang karus ganti sampai 3 kali.
Itu semua di awal petualangan kami. 7 tahun hampir tidak terasa. Sepertinya baru saja kemarin kami mencari sekolah untuk Kano. Mengantar Kano setiap pagi menuju tempat bus sekolah yang menjemput, lalu siang hari saya menunggu Kano diantar bus sekolah. Merupakan kegiatan yang baru bagi saya waktu itu. Kemudian sedikit demi sedikit berubah. Kano masuk High School dan tidak diantar jemput bus sekolah lagi, kadang dia berjalan kaki sendiri tapi lebih sering diantar dan dijemput.
Banyak sekali pengalaman baru dan kemudian menjadi terbiasa. Kami memiliki banyak teman bahkan kemudian menjadi keluarga baru. Punya banyak sahabat baru. Hidup terus berlanjut, segala sesuatu berkembang, dan sebagian besar pengalaman itu tertuang dalam lebih dari 1000 cerita yang saya abadikan, penuh dengan tawa dan air mata. Ini 7 tahun yang sangat luar biasa jika ditelusuri kembali. 7 tahun yang sangat berharga, 7 tahun yang bagi saya tidak akan dengan mudah dapat terlupakan. 7 tahun yang berhasil dilalui oleh Kano hingga menjadi seseorang yang membanggakan. Saya merasa bahwa keputusan yang kami buat lebih dari 7 tahun yang lalu itu sebagai sebuah keputusan yang hebat. Ya, 7 tahun yang luar biasa!
Foto credit: noshameonu.org
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 1576 Time Lapse
Sudah sekitar 55 hari saya tidak menulis, bahkan hampir tidak menyentuh komputer sama sekali. Selama itu saya mengalami banyak hal yang sangat membingungkan. Agak sulit saya mulai menulis, apalagi menjabarkannya, sebab ini sepertinya merupakan pengalaman baru yang akhir-akhir ini mulai disadari. Se…
joefelus11
AES 1575 Tisu Gulung
Lebih dari satu setengah bulan saya tidak menyentuh komputer. Saya juga tidak menulis. Ada semacam keinginan janggal untuk menjauh dari banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan. Hingga saat ini juga saya tidak tahu mengapa. 48 hari itu bukan waktu yang pendek, namun untuk orang seusia saya, ya…
joefelus00
AES 1574 Keindahan, Bahasa Semesta
Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.” Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemuk…
joefelus31