AES001 - Lesson In Chemestry: Kimia Kehidupan Dalam Buku

Menulis dimulai dari hanya sebuah kata, sederhana, tetapi ini adalah proses panjang, gerakan kompleks syaraf yang tak terhingga jumlahnya, memanggil ingatan-ingatan tentang kejadian, pengetahuan, dan menggerakan diri kita untuk makin mencari tau. Hal inilah yang membuat saya tak henti mengagumi mereka yang mampu menumpahkan ide dengan menulis terlebih merangkainya menjadi buku.
Buku yang kini saya nikmati adalah “Lesson In Chemistry” karya dari seorang perempuan biasa, usianya layak untuk menjadi bagian dari mereka yang seharian berjemur di teras rumah dan menjalankan hari secara rutin tanpa menantang diri sendiri untuk pencapaian lain dalam hidup. Inilah kehebatan Bonnie Garmus. Pilihannya untuk terus berkarya bukanlah tanpa konsekuensi. Sekalipun berkarir di bidang penulisan sebagai copy writer, tetaplah diterbitkan oleh penerbit commercial adalah tantangan tersendiri, Garmus yang telah menyelesaikan 700 lembar novelnya kemudian mengalami 98 kali penolakan dari penerbit. Kegagalan Garmus bertranformasi menjadi pencapaian gemilang. Buku iini diterjemahkan ke empat puluh dua bahasa dalam waktu yang singkat dari peluncuran. Lesson In Chemistry juga diadaptasi menjadi serial TV. Bukanlah sukses yang sederhana, ini adalah ledakan keberhasilan yang dicapai sebagai akibat dari komitmen kuat seorang penulis berusia 66 tahun.
Taklah saya bermaksud membocorkan ceritanya. Biarlah ini menjadi hak pembaca untuk dibuai rasa penasaran dari tiap lembar buku ini. Dimulai dengan kisah seorang ibu menyiapkan bekal anak. Kegiatan umum yang biasa dilakukan kita, para orang tua. Tetapi kemudian saya dibuat takjub tentang cara Garmus membangun karakter. Pilihan kata yang teliti, mengalir lincah, memercik api imajinasi di kepala pembacanya. Dibumbui kekayaan riset yang mendalam, tampak dalam upayanya memastikan informasi kimia, ilmu psikologi, budaya yang disampaikannya adalah benar. Kesahihan dipastikannya sekalipun ini adalah novel, sebuah karya fiksi.
Bagi pembaca seperti saya, yang bukan penutur asli bahasa Inggris, membaca versi bahasa aslinya: Bahasa Inggris, Lesson In Chemistry memperkaya dalam pengetahuan kosa kata. Terpukau saya dibuat bagaimana memilih kata secara teliti untuk menggambarkan tingkatan perasaaan yang ingin disampaikan. Seperti bagaimana menyampaikan kata “membentak” apakah “yelling” atau ”shouting”atau "snap" ? Garmus telah tuntas melaksanakan tugas hebat untuk hal ini, memberikan dinamika intensitas dalam bercerita dengan pilihan kata, penggambaran kejadian.
Buku ini membuat saya berhenti membaca salah satu buku lain yang mengambil karakter serupa sebagai pelakon cerita. Sama-sama karakter pribadi yang dianggap canggung di masa sekolah, mereka yang kikuk berkomunikasi, dijuluki “freak” “weirdo” . Cara Garmus mengolah karakter menjadikan tema yang sama tampil beda dari umumnya, sehingga buku satunya jadi terasa hambar, karena menampilkan sudut pandang yang banyak ditemukan dalam karya-karya lain.
Kesadaran lain yang saya dapatkan adalah, saya mengingatkan diri sendiri makin berhati-hati untuk memilih bacaan, bukan hanya kepantasan konten yang dituliskan buku tersebut. Tetapi cara penulis menarasikan cerita akan mempengaruhi struktur berpikir pembaca. Terlebih hal ini mengingatkan saya untuk mencari buku-buku yang baik tak hanya dalam hal cerita untuk anak tetapi cara berceritanya: “Not only the story, but the story telling”.
Terbayanglah jika anak kita, yang otak dalam kepalanya masih seperti spon dalam menyerap ilmu dan pengetahuan, disuguhi cerita biasa namun dengan cara bercerita seperti opera sabun kejar tayang, ditulis tanpa pendalaman, dikebut semalam, hanya untuk membuat penonton menganga dan tetap menatap layar kaca saat jeda iklan. Belum lagi bagaimana para pekerja layar kaca bereaksi histerik dalam menghadapi peristiwa. Sungguh buku karya Garmus ini tampil berbeda dari buku kebanyakan, drama disampaikan dengan komposisi tepat, dengan reaksi natural dari manusia terhadap tragedi, takaran emosi yang tepat, serupa makanan yang dibumbui secara proposional, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit. Jangan takut bosan, karena kemampuan mumpuni Garmus memberikan keseharian menjadi rangkaian cerita yang memicu kita untuk menantang intelektualitas untuk memahami.
Senang sekali jika setelah ini saya mendengar dari teman-teman lain berkisah tentang buku ini, ditunggu rangkaian kata-katanya. 
Komentar (2)
Waaah, senang sekali ada posting perdana dari Dhipie juga - membersamai tulisan pertama @Rhea. Tulisannya baguus. Enak sekali di baca - termasuk pilihan kata-katanya. Terima kasih sudah berbagi. Ditunggu tulisan berikutnya ya.
proses belajar dari anak kak. :)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES002 Kenapa Kisah Sulit Selalu Lebih Membekas?
Jujur, pemikiran ini tiba-tiba lewat di kepalaku setelah aku selesai membaca ulang buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela dan Laskar Pelangi. Aku ngerasa ada perbedaan perasaan yang lumayan kontras setelah membaca kedua buku itu. Di buku Totto-chan, walaupun sekolah mereka emang unik dan punya tan…
Nawwa22AES03 Buku Bacaanku
Di Jabawaskita kali ini aku membaca buku “The Alchemist” yang ditulis oleh Paulo Coelho. Aku meminjam buku ini dari Jehan (teman sekelas) dan mulai membaca di awal-awal K8. Aku membaca seluruh buku ini selama 5 minggu (kurang lebih), setiap Jabawaskita. Saat aku melihat cover buku tersebut, aku lum…

AES02 Resensi Buku Nothing Solid
Judul Buku: Nothing Solid Penulis: Risma Ridha Anissa ISBN: 9786020675220 Bahasa: Indonesia Tahun Publikasi: 2024 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman: 368 Buku ini bercerita tentang pertemanan lima sahabat yang mempunyai masalah masing-masing. Karakter utamanya adalah Levi, seorang pere…


