AtomicEssay

AES001 Selametan Smipa TP12 - Hari Ini, Lima Tahun Lalu

Megapenulis arsip2

Sharing tulisan lama, tentang Selametan TP12 yang diadakan tepat di hari kemerdekaan Indonesia ke-71, lima tahun lalu.
.

Acara Selametan Awal Tahun Smipa tahun ini diadakan bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-71, Rabu, 17 Agustus 2016. Diikuti oleh kurang lebih 500 orang -besar, kecil, tua, muda-, melalui berbagai kesulitan dan tantangan -terbatasnya lahan parkir, lokasi yang cukup jauh, cuaca yang sulit ditebak-, acara ini berlangsung dengan baik dan menumbuhkan keyakinan baru bagi kita semua.

 

Yang terakhir yang dinanti

Waktu menunjukkan hampir pukul 8:30 ketika kelompok dipisah untuk kegiatan permainan dan hiking, namun ada satu keluarga di kelompok kami yang belum datang. Dalam hati mulai bertanya-tanya ada apakah gerangan, tapi tetap dalam keyakinan bahwa mereka akan datang bersama janji membawa sekilo semur jengkol!

Sempat melirik pesan dalam WhatsApp grup, dan betapa leganya ketika membaca pesan singkat: ‘sampeeeee’. Ah, ternyata penantian selalu berujung indah, manakala yang dinanti telah datang. Dan semur jengkol yang dilahap beramai-ramai saat botram memang nikmat, pun bagi saya yang baru pertama kali makan jengkol; terlebih saat dibagikan kepada kelompok Kakak dan mendapat sambutan yang sangat meriah. Terima kasih, Ibu Yuni!

 

Sang penjahit bendera

Salah satu tugas dalam sesi permainan adalah menyatukan kain merah dan kain putih yang kami peroleh untuk dijadikan bendera, yang akan dipakai dalam acara penghormatan bendera dalam kelompok. Oma dari Dyah (K-9) yang ikut serta dalam acara Selametan ini, langsung mengajukan diri untuk menjahitnya.

Terharu rasanya melihat beliau dengan tangannya yang masih lincah menjahit kedua bagian kain itu menjadi satu, begitu rapi dan telaten. Rasanya kami yang muda-muda ini tak bisa mengalahkan ketrampilan Oma. Beberapa anggota kelompok yang melihat Oma menjahit, berkomentar bahwa beliau seperti Ibu Fatmawati saat menjahit bendera pusaka. Terima kasih ya, Oma, sudah ikut serta dalam acara Selametan ini!

 

Upacara yang sulit dilupakan

Memandang dan merasakan semangat kibaran Sang Saka saat upacara besar, merasakan debar jantung menyatu dalam irama Indonesia Raya dan membaur dengan bulir air yang tanpa bisa ditahan mengalir dari sudut mata, mungkin itu yang dialami almarhum Gombloh saat terinspirasi menciptakan lagu ‘Kebyar Kebyar’. Lagu ciptaan sang maestro itulah yang dapat mewakili perasaan saya saat mengikuti upacara pengibaran bendera.

Indonesia ...

Merah Darahku, Putih Tulangku

Bersatu Dalam Semangatmu

 

Indonesia ...

Debar Jantungku, Getar Nadiku

Berbaur Dalam Angan-anganmu

Terik matahari siang itu yang menunjukkan semangat yang tak kalah dengan semangat peserta upacara -khususnya gelora Pak Imam saat mengibarkan bendera-, tak mengurangi kekhusyukan yang berlangsung saat upacara penghormatan bendera. Pak Imam seolah meletakkan semua tenaga dan kekuataannya untuk mengobarkan semangat dan rasa cinta di hati kita semua melalui kibaran Sang Merah Putih yang begitu menggetarkan. Berpuluh-puluh kali saya mengikuti upacara bendera, baru kali ini rasa yang begitu kuat membekas lama, bahkan setelah upacara berakhir.

 

Semesta yang bersahabat

Cuaca hari itu, sejak pagi memang menunjukkan keberpihakannya kepada kita. Matahari pagi mulai menebarkan kehangatannya sejak berangkat dari Bandung, seakan ingin mengeringkan tanah basah yang siang hari sebelumnya diguyur hujan lebat; memberikan keleluasaan pada kita semua untuk beraktivitas dengan maksimal pada hari itu. Baru pada siang hari, setelah acara Selametan usai, dalam perjalanan pulang, gerimis turun dalam rintik kecil yang hanya sesaat. Sesudahnya, matahari segera bertahta kembali menemani sore, menemani anak-anak bermain sepeda, hingga senja menjelang.

Malam itu, hujan yang seharian menahan diri, memuntahkan airnya tak henti sampai pagi. Sejuknya udara malam mengantar kita tidur pulas mengakhiri kegiatan hari itu. Sungguh hari yang indah dan menyenangkan. Berita kemenangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mempersembahkan medali emas pertama dalam Olimpiade Rio menjadi penutup hari yang sempurna, sebagai kado manis untuk ulang tahun kemerdekaan ke-71 Republik tercinta ini. Dirgahayu negeriku!

 

-Bandung, 22 Agustus 2016-

Komentar (5)

Andy Sutioso

silakan lanjutkan blogpostnya Mega

Mega

Haduh, ini lagi coba share tulisan lamaaa sambil konsul sama Pak Ahkam, Kak. Hehe...

aileenlais

Bagus banget Mega tulisannya. ^^ Kok aku baru baca sekarang yah... hahaha...

Mega

Thanks, Leen. Hihi... seblm2nya blm pernah dipublish.

inteneka

Halo Bu Mega, tulisan ini telah terpilih untuk dibukukan, mohon izin tulisan ini diterbitkan di buku 5 Atomic Essay Smipa Pecah Telor [AES001], semoga berkenan ya. Terima kasih.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES936 Hidup adalah Udunan

TIdak ada peristiwa kebetulan, minggu lalu salah satu kakak bilang sama saya, kak Andy kapan kita ngobrol... Hmm, pikiran yang sama juga mampir dalam diri, bahwa memang sudah waktunya ngobrol dengan kakak ini. Nyambung ya... Akhirnya hari minggu kemarin kitapun jumpa setelah olahraga pagi - sambil…

Andy Sutioso31
AtomicEssay

AES827 Menyentuh Kesemestaan

Minggu lalu jadi momen yang mendebarkan buat saya saat membawakan Taki-taki kepada orangtua murid di lima jenjang belajar di Semi Palar. Tapi ya begitulah kenyataannya. Sejujurnya Taki-taki kali ini adalah salah satu yang tersulit yang pernah saya bawakan. Materinya bukan sesuatu yang sederhana. Ta…

Andy Sutioso10
AtomicEssay

AES 09 Menyambut Petualangan Baru

“Kamu yang jadi kiper!”, “Aku gambarnya di sini”, “Hallo kak!”, “Hompimpa alaium gambreng…” Suasana sekolah tadi pagi cukup meriah dan hangat. Anak-anak tampak bersemangat menyambut petualangan baru setelah sekian lama berjeda dan ‘mengisi’ diri bersama keluarga. Keceriaan tampak dari wajah-wajah p…

Diki Muhammad Noor41