AES003 Seutuhnya Rumah

kembalilah kita, kembali,
mengakrabi siang yang terik,
pada satu hari yang begini baik.
_
pada mulanya
cuma langkah-langkah kecil
bergantian-berkejaran erat,
langkah yang lekas membawa kita
semakin dekat dengan rumah,
satu tempat yang penuh
dengan kenangan-kenangan ramah.
_
di luar sana, perjalanan
memang selalu melelahkan,
perjalananan yang membuat kita memahami
arti setiap pertemuan demi pertempuran,
hingga menjadi makna yang kelak
kita lebur, kita baur.
_
kembali kita pada suatu rumah,
menjadi anak-anak
yang berbaring di atas serakan dedaunan kering,
yang bersenda derau dengan lembut nyanyian angin,
yang bergelantungan di dahan-dahan yang tenang,
yang berlari riang dengan bayang-bayang.
_
kita coba mendengar lagi memori
yang tersimpan rapi pada setiap sudut rumah ini.
di mana kita pernah menangis dan tertawa?
di mana kita pernah berkali-kali patah dan jatuh hati?
_
pernah kita tabur benih harapan
pada satu sudut halaman.
adakah benih itu telah tumbuh tegas?
adakah benih itu menjadi pohon
dengan buah ranum yang siap lepas?
_
di rumah ini,
kita tinggallah anak-anak
berpegangan-bergandengan
memanjatkan doa-doa sederhana,
selayaknya hidup, juga bahagia.
_
kita cuma anak-anak yang bermain
membentang kain bergambar bintang
dengan pendar yang sebentar-sebentar,
pendar yang terus kita jaga,
pendar yang selalu menjaga kita,
_
karena kelak pada suatu ketika,
tiba waktunya perjalanan melepas lagi
erat genggam jemari kita, satu per satu,
tetapi pendar mungil itu menetap,
bersinar dari rongga dada
menerangi setiap gelap,
menangkap segala harap.
_
akhirnya tiba juga, satu terik yang baik ini,
bersama, kita coba meruwat dan merawat lagi
sebagaimana seutuhnya rumah,
tempat yang selalu membukakan pintunya
bagi kita untuk berkali-kali kembali.
_
Bandung, Semi Palar, 2024
*dibacakan pada acara Selametan Semi Palar 31 Agustus 2024
Komentar (6)
Keren Kak Dhimas!
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Dua Puisi Selametan TP-21
Mekarlah, Mekar bersama-sama, kita menghadap sama rendah dengan penuh kerendahan sukma, berlindung di bawah mendung yang masih canggung. pada satu lembah, pada satu lembar hari yang berulang, kita coba menerka, apa arti pulang, jika kita tak lagi bisa memaknai hangat rumah yang membesarkan kita. se…

AES004 Perkara Makna: Dari Kalah Suit sampai Membacakan Puisi
“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” -Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca Sore itu, saya kalah suit melawan Kak Luna. Tidak tanggung-tanggung, saya kalah telak dengan poin 0-3. Sehingga sesuai kesepakatan awal, yang kalah harus maju sebagai perwakilan SMP untuk menjad…
AES012 - Puisi Picisan di Ngobras 18-6-26
Ini sebenarnya puisi waktu sy utlah kemarin2, tapi dipikiri2 ok juga dibagikan dibacakan ^^. Ada perubahan dari versi awalnya, semoga ternikmati ya ^^. Masuki tahun pelajaran yang entah ke berapa...Memang sedih nyatanya bertambah tuaNamun senang mengarung beramai riaMenerus belajar serasa kembali m…


