AtomicEssay

AES005 Sarvam Kalwidam Brahma

Gunawan Muhtarpenulis arsip2

Disclaimer : Bila pandangan ini berbeda dengan agama dan keyakinan yang anda miliki, jadikan tulisan ini hanya semacam cerita fiksi untuk menemani secangkir kopi.

Dari sekian banyak negara dibumi, kenapa kita lahir di Indonesia? Padahal banyak negeri lain yang lebih kaya, lebih maju, lebih sejahtera, lebih sadar dan beradab orang orang nya. 

Ada Jepang misalnya, dengan budaya santun dan pencapaian teknologinya. China, salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Atau Austria, dengan barisan pegunungan Alpen nya yang indah.

Tapi kenapa kita lahir di Indonesia?

Ijinkan saya uraikan dari sudut pandang spiritualitas.

Semakin dalam kita menyelami semesta tanpa batas didalam diri kita sendiri, maka niscaya, kita akan semakin memahami bahwa "WE CHOOSE EVERYTHING ". Kita memilih segalanya. Itulah kenapa, semua jiwa tercerahkan selalu menunjuk kedalam diri ketika mereka ditanya tentang dimanakah bersemayamnya sumber takdir yang kita alami.

Kesadaran memilih dan memutuskan sendiri panggung tempatnya mewujud dan mengalami pengalaman rasa.

Secara spritual, sebelum kebumi, kesadaran kita yang lebih tinggi memilih untuk lahir dimana, pada jaman apa, keluarga, sampai bentuk fisik dan cerita hidup yang akan menjadi pengalaman rasa kita sebagai manusia.

Inilah makna dibalik banyak ajaran spiritual dibumi, yang secara tersirat menyampaikan, bahwa, didalam diri kita bersemayam Sumber Penciptaan.

Kesadaran kita yang lebih tinggi itu, dalam bahasa umum disebut jiwa. Marifat Islam dan ajaran spiritual Yahudi menyebutnya Nafsi / Nefesh. Veda dan tradisi Hindu menyebutnya Atman. Ajaran Sunda, Kejawen, Kaharingan, Kapitayan dll menyebutnya Sukma. Ajaran spiritual Batak menyebutnya Tondi, dll label yang diberikan manusia padanya.

Tulisan berikutnya kita uraikan lebih dalam tentang lapisan lapisan kesadaran.

Dibumi (panggung tempat kesadaran mewujud bukan hanya bumi), wadah tempat kesadaran mengalami pengalaman rasa ada banyak sekali, namun mahluk paling kompleks adalah manusia, yang menawarkan pengalaman rasa yang juga jauh lebih kompleks dan lengkap dibanding mahluk bumi lainnya.

Pilihan suatu lokasi negara saat jiwa akan turun kebumi, bukan didasarkan pada pertimbangan nalar manusia, seperti faktor ekonomi, iklim, peradaban dll tetapi didasarkan pada apakah daerah atau negara tersebut bisa menyediakan seluruh pengalaman rasa yang diperlukan sebuah jiwa dalam proses evolusinya kembali kepada Kesadaran Semesta yang dalam bahasa umum disebut Tuhan.

Jiwa yang memerlukan pengalaman rasa hidup dalam ketakutan karena perang misalnya, akan turun didaerah konflik. Jiwa yang butuh mengalami rasanya hidup dipemerintahan korup, akan turun dinegara korup, dst.

Untuk kembali menjadi kesadaran tunggal yang melingkupi seluruh keberadaan, jiwa harus mengalami segalanya. Mengalami seluruh polaritas baik dan buruk. Terang dan gelap. Positif dan negatif. Feminim dan Maskulin, dll

Setiap planet, setiap negara, setiap daerah, menawarkan pengalaman rasa berbeda yang bisa dialami sebuah jiwa. Dalam konteks kesemestaan, semua pengalaman tersebut diperlukan, sebagai pembelajaran jiwa agar kesadarannya terus meluas dan berekspansi, sampai suatu tahapan dimana ia telah lengkap mengalami menjadi segala sesuatu.

Hanya saat jiwa telah menjadi segalanya tersebutlah, maka ia akan kembali melebur menjadi kesadaran tak terdefinisikan, yang bersaksi, bahwa AKU ADALAH SEGALA SESUATU.

Dirgahayu Nusantara.

Komentar (3)

Andy Sutioso

Kalau dikaitkan dengan pemahaman bahwa manusia adalah makhluk spiritual yang mendapatkan (diberikan) pengalaman kehidupan - kemanusiaan, uraian Gunawan di atas jadi sangat masuk akal ya

GGunawan Muhtar

Semoga semakin menambah warna warni di Semipalar Kak Andy

Andy Sutioso

Tentunya Gunawan. Terima kasih untuk kontribusinya. Kalau ditelusuri yang menulis dengan tagar #spiritualitas sebetulnya sudah cukup banyak yang menulis topik ini di sini.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 23 - Agama, Science, dan Spiritualitas

Agama, sciene, dan spiritualitas hadir saling melengkapi. Bila dirasakan ada pertentangan, mungkin kita perlu jeda sejenak, siapa tau, kita terlalu cepat membuat pembatas. Menjaga jarak karena pikiran terlalu cepat menilai dan menghakimi. Jeda dari menilai dan menghakimi akan menghadirkan sesuatu y…

Gunawan Muhtar40
AtomicEssay

AES 13 - Siklus Kesadaran Bumi

Secara astronomi, seluruh benda langit bergerak lewat gaya gravitasinya masing masing. Tak terkecuali bumi dan tata surya kita. Gerak alam semesta ini, bukanlah gerakan acak, tetapi kombinasi tarikan gravitasi, massa, momentum dan pola energi yang sangat presisi. Albert Einstein menyebut keteratura…

Gunawan Muhtar22
AtomicEssay

AES 003 Kematian Yang Gembira

Awal tahun 2000an, 7 hari sebelum meninggal, almarhum kakek, yang dikeluarga kami dikenal sebagai seorang penganut Ajar Pikukuh Sunda (orang umum menyebutnya Sunda Wiwitan / Sunda Buhun), mengumpulkan keluarga besar kami di Subang, Jawa Barat. Beliau memberi tahu seluruh keluarga bahwa “ Abah rek b…

Gunawan Muhtar32