AES006 Pertanyaan Hidup

Mengunjungi tempat-tempat yang ditinggali masyarakat adat seperti di daerah Kasepuhan Banten Kidul, malah memunculkan banyak pertanyaan dalam diri. Bagaimana tidak, di tengah arus modernisasi dan globalisasi, ternyata masih ada kelompok masyarakat yang dengan teguh memegang adat tradisi nenek moyang yang berusia ratusan tahun.
Tapi memang begitu halnya ketika berkaitan dengan agama dan kepercayaan bukan? Ketika sebuah masyarakat meyakini bahwa adat tradisi tersebut sebagai pegangan hidup, maka akan tertanam dengan kuat dalam keseharian masyarakat.
Tahun ini, saya mendampingi teman-teman Kelompok Wowei melakukan 'Ekspedisi Kampung Adat', kegiatannya berupa live-in di tengah-tengah masyarakat adat. Tempat yang terpilih adalah kampung adat Kasepuhan Babakan Lama, yang terletak di wilayah Banten Kidul.
Tentunya teman-teman sudah melakukan riset pendahuluan, terkait kebudayaan di kampung adat dan juga hal-hal yang harus mereka perhatikan seperti jarak tempuh menuju lokasi, transportasi yang harus digunakan, serta hal-hal sehari-hari yang mereka harus bersiap, seperti tidak ada toilet duduk, mandi dengan air dingin, dan makanan pokok di sana.
Berbekal pengalaman teman-teman melakukan perjalanan di tahun sebelumnya, mereka bisa dengan cepat beradaptasi dan berbaur dengan masyarakat di Kasepuhan Babakan Lama. Tentunya karena masyarakat kasepuhan sendiri sangat ramah dan terbuka terhadap warga luar yang ingin belajar di sana. Saat kami datang, Abah Uhay selaku tetua adat, menyambut kami dengan baik, dan mempersilakan kami untuk belajar selama di kampung adat, anggap saja di rumah sendiri.
Hal yang paling menarik selama tinggal kasepuhan, teramati setiap keluarga di sana tampak tidak memiliki banyak pikiran, stress free, dan semua dilakukan atas dasar kekeluargaan, saling menghormati, saling tolong-menolong. Teman-teman Wowei selalu dibantu apa pun kebutuhan mereka. Dan rasa penasaran teman-teman pun terjawab walau hanya berkegiatan di sana selama empat hari saja.
Prinsip hidupnya sederhana, setiap orang tidak boleh mengambil yang bukan menjadi haknya, setiap orang harus memiliki kemampuan bertani, dan setiap orang harus menjunjung tinggi padi dan semua aspek yang menyertai prosesnya sebagai bagian hidup dari warga kasepuhan.
Hasilnya teramati mereka sangat menghargai sesama, menghargai alam, dan terutama padi sebagai makanan pokok. Terlihat saat makan, setiap orang harus menghormati hasil makanan yang akan disantap, yang laki-laki menggunakan iket, dan yang perempuan memakai kain samping. Rutin harian pun sangat sehat, karena sehari-hari bekerja di ladang/sawah.
Berbeda sekali dengan masyarakat kota, dimana dengan tetangga seringkali kurang kenal, bahkan banyak khawatir karena banyak tindak kejahatan. Kemudian masalah aktivitas keseharian yang serba cepat dan instan. Banyak sekali yang harus dilakukan, sehingga semua orang kerap terburu-buru, dan kurang menghayati berbagai hal yang dilakukan.
Akhirnya malah banyak pikiran yang mengakibatkan stress, serta pola hidup yang tidak sehat. Saya sendiri mengalami bagaimana tantangan hidup di kota membuat kita lupa bahwa sesungguhnya hidup itu sederhana, tujuan hidup itu ya untuk hidup dan menghargai setiap waktu yang kita lewatkan hingga tiba waktu untuk meninggalkan dunia ini.
Pertanyaannya jadi, apakah kita yang masyarakat kota ini sudah benar dalam menjalani hidup? Karena pada akhirnya yang paling penting adalah, sejauh mana kita bisa bermanfaat untuk sesama dan juga alam sekitar.

Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES005 Sembilan dan Dua Belas
Dua angka spesial di tahun 2023 ini. Sembilan tahun saya belajar bersama Semi Palar dan dua belas tahun berumah tangga. Hidup bagi saya tampak selalu berkutat di masalah yang itu-itu saja. Tapi selalu bersyukur masih diberikan kesehatan dan keluarga yang rukun, serta lingkungan dan teman-teman baik…
braja20
AES003 Gerhana Matahari, Hari Bumi, Idul Fitri
Memperhatikan bulan saat berpuasa terasa berbeda. Mungkin karena saat berpuasa saya menunggu-nunggu kapan datangnya awal bulan, bulan purnama, dan akhir bulan. Dilansir dari laman bmkg.co.id, "Dari sejumlah fase Bulan, terdapat empat fase utama, yaitu fase bulan baru, fase setengah purnama awal (pe…
braja00AES 012 KENAPA KITA DITAKUTI DENGAN SIMBOL
Pocong bersenjata tajam mulai menakuti kita. Dia muncul di depan pintu, mengetuk. Seolah menakuti walau malah memberikan aroma bau busuk yang terlacak. Polanya punya jejak panjang dengan teror-teror sebelumnya seperti Kolor Ijo, Dukun Santet, dan sebagainya. Kolor Ijo muncul pada era saat ekonomi o…
