AES008 Puisi

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba sore itu
Ini dari kami bertiga
Untuk kakak yang tertembak siang tadi
Ini adalah potongan puisi yang dikenalkan padaku dan teman-teman sekelas saat kami duduk di kelas 3 SD. Aku selalu mengingat syairnya seperti itu, tidak lebih dan tidak kurang. Waktu itu sih kami hanya disuruh menghafalkan, lalu dideklamasikan di depan kelas tanpa pernah dibahas maknanya. Mungkin ini adalah perkenalan pertamaku dengan puisi.
Syair puisi itu tak pernah hilang dari ingatanku. Isinya begitu lugas. Aku selalu membayangkannya begini: Ada tiga orang anak datang sambil tersenyum malu-malu, membawa bunga untuk seorang kakak yang tertembak di Salemba. Aneh ya, padahal tidak ada kata 'bunga' dalam puisi itu.
Berbekal baris-baris syair yang kuingat itu, beberapa tahun lalu aku mencari tahu lebih dalam tentang puisi di atas. Dan inilah hasilnya.
Karangan Bunga
(Taufiq Ismail, 1966)
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi
.
Puisi ini dibuat untuk mengenang tewasnya seorang mahasiswa UI, Arif Rahman Hakim, yang tertembak dalam sebuah demonstrasi terhadap kekuasaan Orde Lama. Puisi yang cukup berat, sebenarnya. Sampai sekarang pun aku tak mengerti, mengapa dulu guruku memilih puisi ini untuk murid kelas 3 SD. Apakah karena kami hanya diminta menghafalkannya tanpa mengetahui latar belakangnya? Mungkin akan lain ceritanya, kalau puisi ini dikenalkan pada anak Smipa. 
Dan, entah dulu ibu guruku yang menyederhanakan syairnya, atau memang aku yang lupa sehingga hanya sebagian syair puisi Karangan Bunga itu yang tersisa di kepalaku. Yang pasti, puisi tak berima ini ikut meramaikan perjalanan literasiku hingga saat ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES868 Pesta Literasi
Tulisan ini agak terlambat munculnya. Terlambat karena memang belum bisa meluangkan waktu di tengah seminggu keriuhan Festival Literasi. Kemudian juga karena perlu waktu untuk mengendapkan berbagai proses dan pengalaman untuk bisa dituangkan ke dalam esai pendek. Berevolusi dari Festival Buku (Fest…

AES 1361 Kemampuan Literasi
Sepertinya pagi ini saya harus berusaha keras untuk berpikir jernih. Kurang istirahat semalam membuat sulit untuk konsentrasi dan memilih topik obrolan hari ini. Barusan saya memejamkan mata sejenak dan memberikan sedikit waktu agar tubuh saya dapat menjadi lebih segar. Semalam saya membaca sedikit…
joefelus12
AES754 Lagi, Mengapa Menulis?
Dalam rangka Festival Literasi 2025, kembali saya menulis soal ini. Sudah sering saya menulis soal ini. Mudah-mudahan tidak bosan. Saya sendiri tidak pernah bosan karena beberapa keyakinan saya soal menulis. Keyakinan ini bukan hanya hadir karena sekedar nyaho bahwa menulis itu penting, tapi juga d…
Andy Sutioso100