AES009 Membaca untuk Menulis atawa Menulis untuk Membaca

Beberapa waktu ini, saya sedang merasa kurang produktif, tidak ada tulisan baru, tidak ada gambar baru. Hari-hari terus berganti sebagaimana mestinya, sampai lewat satu minggu, sampai lewat minggu berikutnya, sampai minggu berikutnya lagi, sampai akhirnya terlewat satu bulan. Memang ada momen-momen, saya merasa tulisan-tulisan yang saya buat tidak ke mana-mana, menjadi itu-itu saja. Namun, satu hal yang pasti, sampai saat ini, saya tidak ingin merasa terbiasa dengan momen-momen tidak menulis seperti ini.
Pada pemikiran yang lain, saya merasa perlu membangun kembali motivasi, menjaga keinginan untuk menulis yang hampir padam. Saya ingin terus merasa perlu untuk menulis sesuatu. Terkait hal ini, sebenarnya saya punya formula yang "hampir jitu"–jika tidak dikatakan jitu–untuk bisa tergerak mengetik kata-kata di papan ketik. Formulanya itu adalah: Membaca.
Saya pikir, ketika membaca tulisan apa pun, baik novel, artikel, atau esai, ada saat tertentu saya merasa terdorong untuk menulis. Sampai-sampai, saya percaya, terlebih ketika membaca tulisan-tulisan yang bagus, ada percikan-percikan dalam kepala yang mendorong saya untuk menulis. Membaca, setidaknya memperkaya alam bawah sadar saya akan ide-ide, kosa kata, dan sebagainya.
Namun persoalannya, saya belum tergerak untuk membaca secara penuh dan khusyuk. Ada buku-buku yang ingin saya baca, tetapi saya perlu membeli buku tersebut. Sementara di rumah, banyak buku-buku yang saya beli secara impulsif dan lupakan begitu saja. Saya memang menganggarkan membeli buku-buku hanya dari tulisan-tulisan yang berhasil dimuat di media.
Persoalan ini seolah-olah menjadi pertanyaan klasik, mana yang ada lebih dulu: telur atau ayam? Atau dalam hal ini: membaca atau menulis? Saya perlu menulis untuk bisa membeli buku yang akan saya baca, sementara saya perlu membaca dengan nyaman untuk bisa terdorong menulis.
Di tengah gonjang-ganjing, akhirnya saat ini saya sedang "memaksakan" diri untuk membaca buku yang ada. Buku yang sebenarnya belum benar-benar ingin saya baca. Namun setidaknya, saya bisa tergerak dengan membuat tulisan ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES187 Mata Ashita Novel
Halo teman-teman yang budiman, seperti beberapa tulisan terakhir yang saya buat, saya banyak menjelaskan proses refleksi selama pengerjaan novel ini. Dari hari-hari yang terasa kosong, dari pikiran yang terlalu ramai, dari pertanyaan tentang sakit, kehilangan, kesepian, sampai harapan yang entah ka…
AES 001 Tentang keinginan yang belum jadi tulisan
Sebetulnya saya udah lama pengen nulis di blog ini, Rasanya tuh kaya ada sesuatu didada yang pengen keluar,tapi selalu ketahan.Setiap kali mau mulai,jari-jari udah siap di keyboard,tapi pikiran malah ribut sendiri. Selalu orang lain yang dijadiin perbandingan, "Tulisan kamu nanti aneh, yang lain ba…
ichaleia86
AES863 Penerimaan Diri
Masih dalam konteks Literasi Diri, lebih luas lagi dalam suasana Festival Literasi yang segera digelar di pekan depan. Festival memang perayaan bersama, sebuah peristiwa kolektif, tapi di sisi lain di sisi dalam diri, apakah kita masing-masing juga merayakan literasi diri kita. Merayakan, mensyukur…

