AES01 Kenapa Museum Tidak Menarik Yah?

Kalau kita pernah saksikan film "Night at the Museum" kita bisa melihat betapa menariknya segala sesuatu di dalam museum tersebut. Sepertinya setiap benda di sana punya cerita dan sejarah sendiri. Pasti senang sekali berkunjung ke museum seperti itu. Dibuat secara modern dan banyak fasilitas yang menarik. Jika mendengar cerita orangtua saya ketika mereka kuliah di Inggris dan mengunjungi beberapa negara, keinginan untuk mengunjungi museum sangat tinggi sekali. Bahkan orang rela untuk mengantri lama untuk masuk ke dalam museum. Jika dibandingkan dengan banyak museum di Bandung, ketertarikannya saya rasa kurang.
Saya berpikir, apa yang bisa membuat museum itu bisa menarik. Kalau saya sendiri saya sangat suka museum, karena saya suka sejarah. Saya suka membayangkan diri saya berada di zaman dahulu. Sangat menyenangkan sekali berimajinasi. Tapi untuk orang lain mungkin sejarah saja kurang menarik, apalagi kalau museumnya tidak terawat, membosankan, kusam, kurang penerangan, justru cenderung spooky.
Saya pernah mengunjungi Museum Geologi dan Museum Sri Baduga, dan baru saja saya mengunjungi Museum Pos Indonesia. Kesan yang saya dapat tentang museum Pos Indonesia yaitu, saya sangat kagum tentang sejarah surat, pos, dan perangko yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Tetapi lama kelamaan saya memperhatikan bangunannya yang kurang terawat. Dinding yang lembab dan berjamur, lantai stiker yang terkelupas, banyak tempat perangko yang karatan, dan alat-alat pameran yang macet. Saya juga menemukan informasi yang kurang lengkap dan penjelasan yang membingungkan. Belum lagi linimasa display yang tidak berurutan. Fasilitas toilet dan petunjuk arah di museum tersebut juga kurang memadai. Museum tersebut tidak memiliki sentuhan teknologi canggih dalam pamerannya. Saat itu kami juga sempat diberi penjelasan oleh pemandu museum, namun sayang suaranya tidak lantang dan terlihat kurang percaya diri. Sayang sekali yah sejarah yang begitu menarik tapi tidak didukung dengan fasilitas yang baik, jadinya kurang banyak yang mau datang.
Sebenarnya tidak semua museum di Indonesia membosankan. Saya pernah berkunjung ke Museum Satwa dan Museum Angkut yang ada di Malang, dimana museum dikemas sebagai tujuan wisata dengan fasilitas modern, dukungan teknologi, dan penataan yang menarik (Instagrammable), juga dilengkapi dengan wisata kuliner. Sehingga kunjungan ke museum tersebut menjadi hal yang menyenangkan dan dinanti-nanti. Semoga saja pengelolaan museum seperti itu bisa menular juga ke Bandung sehingga kita bisa lebih menghargai keberadaan museum kita.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES10 Value, Spirit, dan Esensi Pengolahan Sampah
Hari ini kami mempunyai kegiatan sesi berbagi bersama Kak Fitri dan Yanuar tentang Pengolahan Potensi Sampah yang dilakukan komunitas Kak Fitri, bernama Dewi Bumi. Untuk memahami gerakan yang dilakukan komunitas ini, kita ingin melihat dari sisi value, spirit dan esensinya. Jika kita lakukan pencar…
AES09 Panduan Ojol Bintang 5 (1/4)
Dalam rangka MPK (Masa Perkenalan KPB), pada hari Kamis lalu kami berpeluang berpetualang di dalam kota. Perkenalan KPB bisa juga dicapai dengan interaksi sesama kami dalam melakukan misi atau kegiatan tertentu secara bersama sama, sehingga teman teman baru KPB dapat saling kenal dan dapat mengerti…

AES08 Tim Lapangan yang Ke Sumba, Kok Tim Kampus Ikutan Repot?
Aku kira tim lapangan live in Sumba akan menjadi tim yang paling repot. TENTU TIDAK, tim kampus juga ikutan repot dongg huhuhu. Kami membuat kalender dari tanggal 15 Mei - 15 Juni untuk merencanakan apa saja yang akan tim kampus kerjakan, dan wahh ternyata banyak juga yang tim kampus perlu kerjakan…
