Atomic Essays

AES013 Tidak Semua Rindu Harus Diulang

firdabilqispenulis arsip3

Sejujurnya dulu saya adalah orang yang tidak suka anak kecil. Tapi bukan tendensi untuk menyakiti (mencubit, pukul atau memelototi), lebih ke saya tidak bisa being nicer to kids aja. Perlahan saya sadari ketidaksukaan pada anak adalah pola yang diturunkan Ibu. Ia bisa dengan tenang bilang dulu tidak suka anak, termasuk anaknya sendiri. Ia bahkan bisa turun dari angkot kalau di dalamnya ada anak yang menangis. 

Sepertinya itu juga yang bikin saya tidak mau menikah dan punya anak, dulu. Sampai akhirnya kini saya punya dua anak (dan menikah tentunya), ternyata anak-anak itu ya ok saja. Bahkan banyak di antara mereka yang lucu (rupanya maupun tingkahnya). Ketika Kian lahir, saya juga baru sadari bahwa bayi itu sangat lucu, gemas, imut, manis, kecil mungil, semuanya pokoknya. Hal-hal yang tidak saya sadari ketika membesarkan Saka dulu, karena terlalu sibuk dengan rasa takut. Takut salah, takut sakit, takut menyesal, dsb.

Akhir-akhir ini saya juga menyadari bahwa saya sering kangen masa-masa hamil kalau liat ibu hamil, kangen masa gendong bayi newborn kalau lihat bayi mungil, dan gemas pada bayi dan anak perempuan (bahkan baju-bajunya). Tapi tidak, saya tidak sedang ingin menambah anak lagi (dua anak cukup). Saya sangat yakin saya hanya rindu, tapi bukan rindu yang ingin diulang. Saya malah bisa merinding dan bergidik jika mengingat sisi lain dari glowingnya masa hamil dan tenangnya masa early motherhood: kesepian.

Bukan sulitnya menyusui, bukan pula repotnya masa MPASI (yang sempat bikin saya takut punya anak kedua). Tapi perasaan terasing, karena ada manusia kecil yang dependent pada kita. Momen harus melipir untuk menyusui, padahal sedang asik mengobrol saat tamu berkunjung. Momen tidak bisa ikut bepergian, makan belakangan (atau duluan), jam malam mulai pukul 20.00 saat kita sudah tidak bisa lagi ikut nongki/nonton/menghadiri webinar dsb. Banyak pause kecil dalam keseharian yang membuat keterasingan itu semakin terasa. 

Ketika tiba anak sudah mulai bisa sedikit demi sedikit ditinggal pun, ada rasa tidak nyaman yang membuat ingin segera pulang. Lalu kalau anaknya kita bawa, lagi-lagi perasaan asing itu muncul manakala harus pause karena anak ingin ditemani, ingin ke toilet, makan disuapi dan dikejar-kejar. Saya ingat banyak sekali momen kumpul yang seru sebenarnya, tapi dari 2 jam durasi misal, ada lebih dari setengahnya kita ibu-ibu melipir untuk urusan anak. Not to mention urusan domestik yang juga harus dilakukan.

Eksistensi seorang perempuan sepertinya sangat diuji pada masa early motherhood, bagaimana mengatasi perasaan unseen, berusaha tetap adaptif dengan ritme makhluk kecil yang tidak bisa selalu diprediksi. Sebesar apapun dan sebanyak apapun fasilitas dan privilege yang ia dapatkan, saya rasa fase awal menjadi ibu selalu sulit bagi siapapun. Kehidupan dewasa yang sepi ternyata menjadi sesi latihan untuk masuk ke fase kesepian another level: motherhood. Bahkan di level menyamakan dengan sesama ibu lain pun, jarang ada yang beririsan begitu besar. Kesepian seorang ibu, bahkan ada di level individu, saking berbedanya tiap orang, sangat sulit menyamakan atau mencari kesamaan. Beberapa hal mungkin membuat sesama ibu related, tapi frekuensi, durasi, dan seberapa diverse dinamika support system di sekitarnya membuat rasa kesepian setiap ibu menjadi berbeda.


Masa-masa menjadi ibu itu sangat indah, dan hangat. Tetapi sepertinya bukan untuk diulang.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

Atomic Essays

AES012 Waktu Itu Apa?

Kalau dipikir-pikir, awal mula saya menulis di AES ini dan menyelesaikan tulisan ke 1-9, saya masih menjalani pekerjaan full time. 8 jam sehari, commute 4 jam PP seminggu dua kali, sisanya bekerja di rumah atau di manapun yang ada koneksi internet. Selain itu, saya masih pumping dan menyiapkan asip…

firdabilqis12
Atomic Essays

AES016 Bandung Kota Autopilot (?)

Saya tersenyum sendiri menulis judulnya. Banyak seliweran kalimat tersebut akhir-akhir ini, terutama kemarin setelah konvoi pasca kemenangan Persib melawan Persija di Samarinda. Katanya Bandung ini sebegitu terbengkalainya sampai jalanan gelap, transum tidak ada, trotoar tidak ramah pejalan kaki, b…

firdabilqis10
Atomic Essays

AES015 It Takes Two to Tango

AES015 It Takes Two to Tango Sewaktu ramai beberapa pekan lalu saat seorang public figur, penyanyi dan juga podcaster dijuluki Duta Persahabatan, di usia mudanya berpulang setelah sakit lama, publik menyoroti betapa ramah, extrovert dan melimpahnya energi dan cinta yang ia miliki sehingga punya ban…

firdabilqis12