AES018 Menerima Kehilangan

Beberapa minggu lalu hamster kesayangan si sulung meninggal karena suatu ketidaksengajaan. Sedih, tentu saja, apalagi bagi anak-anak yang telah memeliharanya sejak berusia satu bulan sampai ia meninggal di usia hampir 16 bulan. Berbeda dengan saat ikan peliharaan mereka meninggal, kematian si hamster menorehkan perasaan kehilangan yang amat sangat bagi keduanya.
.
Hamster itu dibeli dengan uang saku si sulung atas permintaannya, dengan catatan ia harus merawatnya sendiri. Sebelum membeli hamster, ia 'berkonsultasi' dulu pada seorang teman yang sudah lebih dulu memelihara hamster tentang ukuran kandang yang sesuai, serta mencari banyak informasi perawatan hamster di internet. Binatang menggemaskan itu pernah hampir meninggal di minggu-minggu awal kehadirannya karena tersedak biji jagung, namun berhasil diselamatkan si sulung. Beberapa kali juga ia sakit dan si sulung merawatnya hingga sembuh. Sedangkan si bungsu senang sekali mengajaknya bermain dan mengajarinya naik-turun halang rintang. Dan, karena akhirnya kami memelihara beberapa ekor hamster, ia pun bercita-cita menjadi seorang pelatih hamster.
.
Malam itu kami menguburkannya di halaman depan rumah. Anak-anak terus menangis sampai mereka tidur. Dan esok paginya si bungsu langsung menangis begitu bangun tidur karena teringat hamster kesayangan, sementara si sulung sudah bisa menerima kehilangannya meskipun masih bersedih. Kesedihan si bungsu masih berlanjut di meja makan saat ia tiba-tiba menangis sambil menyantap makan siangnya. Banyak pertanyaan yang diajukannya, seperti 'apakah si hamster sudah menjadi malaikat?'; 'apakah memang sudah waktunya Tuhan memanggil si hamster, meskipun kecelakaan itu tidak terjadi?'; 'apakah sebenarnya si hamster masih berada di kandangnya tapi tidak terlihat?'
.
Sorenya kami membuat nisan untuk hamster kesayangan, sebagai pengingat dan ungkapan rasa sayang. Anak-anak menaburkan beberapa kuntum bunga kamboja yang luruh di atas makam.
.
Malam itu, aku melihat buku berjudul 'Kamu Boleh Sedih' tergeletak di meja. Seperti kebetulan yang disengaja. Jadilah buku itu pengantar tidur untuk si bungsu. Buku terbitan Kanisius itu berisi panduan self-help bagi anak-anak yang kehilangan orang terdekat. Rasanya memang pas dibacakan untuk si bungsu pada saat-saat seperti itu.
.
Dan, esok harinya anak-anak sudah lebih bisa menerima kepergian hamster kesayangan mereka dengan rela. Si bungsu tidak lagi menangis walaupun masih sedih, akunya. "Nici (nama si hamster) pasti maafin aku kan? Dia sudah bahagia di surga. Kemarin di buku itu dibilang begitu," katanya. Ya ya ya... Dia pasti sudah bahagia di tempat barunya, Kay, karena dia tahu kita sangat menyayanginya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES04 Peliharaan
Hari ini aku mau bercerita tentang peliharanku. Dulu aku punya kucing yang aku lupa namanya. Kucing itu berwarna jingga, dan agak kekuningan. Dia datang kerumahku dan aku ajak kenalan, tapi aku dicarak oleh dia dan dia kabur. Keesokan harinya setelah aku pulang sekolah dia duduk dan menunggu. Aku m…
Mikel31
AES01 Kucing kecil di tempat sampah
Di suatu sore, aku dan temanku sedang bersepeda ke pinggir danau. Kami pun bermain di pinggir danau sampai waktu kami untuk pulang datang. Waktu itu kami akhirnya pulang sekitar pukul 5.45 sore. Di perjalanan pulang, aku mendengar suara anak kucing yang sedang mengaung. Akhirnya kami pun mencari su…

AES 466 Hewan Peliharaan
Good Morning, My kitty passed away last night and I am not feeling well, so I won't be in today. Itu sebuah email yang saya terima pagi ini ketika bangun tidur dan bersiap-siap untuk memulai hari saya. Email tersebut dikirim lewat pukul 12 malam. Jadi sepertinya boss saya tidak tidur semalaman kare…
joefelus00