AES#020 Pelajaran Kesadaran dari Kucing (2)

Layer selanjutnya. Di antara kami berdua, Sony lah yang paling murka ketika ada pup atau pipis kucing. Karena mungkin, aku jelas menolak membersihkannya . Jadi aku kesal, tapi lalu aku meminta orang lain untuk membersihkannya. Dan tentunya Sony yg ujung-ujungnya ngurusin itu. Maka dialah yang paling ketrigger. Mari kita lihat lapisan-lapisannya pembelajarannya.
- Aku bukannya gak terganggu, tapi kemarahan itu gak muncul penuh karena aku “gak kena langsung”, nggak hands on sama pupnya langsung. Jadi aku nggak mengizinkan pengalaman itu menyentuh seluruh lapisan diri aku. Rasa marah mungkin tetap ada, tapi bentuknya rasa jengah, rasa enggan, dan keinginan agar situasi berubah tanpa aku terlibat di dalamnya.
- Jika aku yang harus bersihkan pup itu, mungkin aku akan sepenuhnya mengalami pengalaman itu, dan rasa marah atau jengkel akan muncul dan naik ke permukaan. Ketika itu terjadi, aku punya pilihan: menolaknya (menjadi marah, kesal, menyalahkan) atau menerimanya (merasakan, menerima, memilih bertindak dari ruang yang jernih). Dalam pengertian ini, membersihkan pup kucing bisa jadi praktik momen kesadaran, karena ia memanggil rasa yang ingin kita hindari. Dan justru di situlah gerbang untuk lebih mengenali diri sendiri. Mengenali di sini bukan cuma berarti tahu tentang identitas diri, atau apa yg disukai dan tak disukai, tapi lebih dalam dari itu: melihat ke dalam dan jujur dg emosi dan rasa, luka apa yang belum berani kita buka dsb.
- Aku jadi bisa melihat dinamika dalam relasi emosionalku dg Sony. Siapa yang menanggung rasa, siapa yang menghindar, siapa yang jadi cermin bagi siapa
Agar menjadi bahan renungan dan bisa menginternalisasi pemahaman ini, coba ubah semua cerita ini bukan tentang kucing yg pup sembarangan, tapi tentang anak kita sendiri, yang dalam keseharian memang seringkali menekan tombol-tombol emosi kita. Ini juga tentang pengemudi di jalanan yang bikin kita naik darah, atau mungkin pasangan kita yang ngga ngerti-ngerti dibilangin berkali-kali kalau handuk basah itu harus dijemur, bukan dibiarkan di atas tempat tidur.
Semua yang terjadi di realita kita, bukan tentang orang lain, tapi tentang diri kita sendiri. Penderitaan muncul bukan semata karena pengalaman itu sendiri, tapi justru karena kita menolak pengalaman itu. Begitu mungkin kira-kira yang dimaksud dengan filosofi Jawa “Nrimo Ing Pandum”. Menerima bukan berarti pasrah, tapi membuka ruang agar kita hadir utuh seapaadanya di tengah pengalaman yang datang dan pergi, karena yang ingin disentuh adalah bagian dalam diri yang menanti untuk dipeluk.
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7840/aes021-menemukan-bintangku-catatan-dari-selametan-tp-21
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7803/aes019-pelajaran-kesadaran-dari-kucing
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES#047 Ekspektasi atau Kontrol?
Ngobras#5 adalah Ngobras perdana yang membawakan topik khusus terkait parenting dan hidup berkesadaran di setiap sesinya. Di sesi yang diadakan tanggal 5 Februari 2026 ini, topiknya adalah tentang ekspektasi dalam pengasuhan. Topik ini dipilih oleh lebih banyak orangtua di WAG Ngobras (belum gabung…
Murdeani40
AES#046 Ngobras Yuk...
Sewaktu kak Andy menginisiasi forum untuk orangtua yang diberi nama Ngobras, aku sangat menyambut baik. Selaras dengan tema besar TP 21 ini yakni spiritualitas, menurutku parenting adalah salah satu praktiknya. Mungkin banyak dari kita yang ketika mendengar kata spiritualitas, yang muncul di kepala…
Murdeani60
AES#045 Membumikan Kesadaran
Bagi mereka yang sedang atau telah lama mengenal ranah spiritual, pasti sudah familiar dengan istilah “kesadaran”. Meskipun kadang masih ada saja miskom tentang istilah ini, namun rata2 paham apa yang ditunjuk olehnya. Namun bagi yang masih awam sama sekali, atau tidak tertarik dengan ranah spiritu…
Murdeani30