AtomicEssay

AES024 Mengunjungi Orang Tua

Sanyapenulis arsip2

Orang tua kami sama-sama tinggal di Bandung Raya. Jaraknya sekitar 10km dan 40km dari rumah kami. Dekat tapi agak jarang berkunjung karena kesibukan sehari-hari. Saat libur kami sempatkan berkunjung, sambil menengok dan ngobrol. Melihat kabar mereka. Para orang tua sangat senang dengan kedatangan kami anak cucu. Lucunya mereka masih menganggap kami sebagai anak-anak walaupun kami sudah besar dan punya anak. Orang tua selalu menganggap anaknya masih anak-anak berapapun usia kami. Disiapkan makanan, dibelikan jajanan, wah istimewa.

Untuk para cucu ini lebih spesial, pakai telur dan kerupuk 2. Benar-benar dimanjakan. Apapun dituruti, dipeluk, diajak bermain, disayang-sayang. Tentu saja sebagai orang tua kami senang anaknya dimanjakan oleh para kakek nenek.

Tapi kenapa mereka sangat menyayangi cucunya?

Padahal sepertinya dulu mereka tidak sesayang itu dengan kami para anaknya?

Sepertinya para kakek nenek menganggap cucunya adalah anak mereka yang masih kecil. Kembali ke jaman dulu saat kami kecil. Punya cucu seperti kesempatan kedua, menyayangi kita yang dulu tidak dicintai sepenuhnya.

Menyayangi cucu seperti bentuk kompensasi atas kesibukan mereka dulu hilangnya momen mereka bersama anak, mereka yang giat mencari nafkah untuk membesarkan kami para anak, sehingga lupa memenuhi kebutuhan batin anak. Dibalasnya sekarang saat mereka punya cucu. Apapun akan diberikan untuk cucu, yang dulu tidak bisa memberikan apa yang kita mau apa yang kita inginkan.

Begitu baik dan tidak pernah marah pada cucunya, sebagai balasan karena dulu mendidik kita dengan keras, saat ini memproyeksikan rasa bersalahnya dengan berbuat baik untuk cucunya.

Segala kekurangan dan kelemahan mereka dulu, saat ini berbuah kebaikan dan kasih sayang pada para cucu. Karena dalam hatinya mereka tahu waktu tidak bisa diulang kembali. Hadirnya para cucu menebus rasa kerinduan mereka terhadap kami para anak yang sudah bukan anak-anak lagi.

Sepertinya begitu,

Tapi aku terlalu malu untuk bertanya, biarlah momen indah ini kunikmati saja, akrabnya para kakek nenek dan para cucu. Semoga suatu saat aku bisa menikmati momen ini, bersama para cucu, tanpa ada rasa bersalah pada anakku. Calon orang tua para cucuku kelak.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES048 Pasangan

Katanya pasangan itu seperti cermin, satu sama lain serupa. Plek ketiplek. Siapa yang berdiri di depan cermin itulah yang dilihat, sama. Namun banyak juga orang yang mengeluh pasangannya berbeda jauh setelah bersama setelah kenal lebih jauh, persamaan lambat laun berubah menjadi perbedaan, sifatnya…

Sanya21
AtomicEssay

AES 1540 Sebuah Perayaan

Kenapa topik kematian menjadi sebuah hal yang paling jarang diperbincangkan dan menjadi semacam hal yang tabu? Saya tidak terlalu mengerti jika itu dikaitkan dengan semacam rambu-rambu dalam hubungan sosial, tapi jika saya menyelami pengalaman pribadi, terutama akhir-akhir ini saya sangat lekat dal…

joefelus40
AtomicEssay

AES873 Sepuh

Tulisan @joefelus belakangan ini memantik lagi satu topik yang sempat ingin dituliskan tapi teralihkan oleh hal lainnya. Beberapa tulisan Joe bercerita tentang ayahnya yang berbaring karena sakit dan karena usianya yang sudah lanjut. Beberapa tahun yang lalu, ibu mertua saya meninggal di usia 95 ta…

Andy Sutioso31