AES#026 Kisah Dua Serigala

Apa kalian pernah dengar tentang kisah Dua Serigala? Ini kisah dari suku Cherokee, tentang seorang kakek yang bercerita pada cucunya bahwa di dalam diri setiap orang ada dua serigala yang sedang bertarung. Yang satu mewakili amarah, iri, kesombongan, takut, dan ego. Yang satu lagi mewakili cinta, kedamaian, kerendahan hati, pokoknya yang berkaitan dengan kebaikan. Si cucu kemudian bertanya, siapa di antara dua serigala itu yang akan menang? Jawab kakeknya, “Yang kau beri makan.”
Dulu waktu pertama kali mendengar kisah itu, aku sangat terinspirasi. Kisah itu menumbuhkan semangat untuk fokus pada memupuk hal-hal baik pada diriku, karena dari sanalah muncul harapan, keindahan, dan rasa aman. Ini sama sekali ngga salah. Namun kini, seiring bertumbuhnya pemaknaanku terhadap kehidupan, aku pun melihat sudut pandang lain terhadap kisah itu, yang melampaui pertarungan antara kedua serigala tersebut.
Dualitas memang jadi cara awal kita memahami dunia. Terang-gelap, baik-buruk, senang-sedih. Di SD pun kita belajar lawan kata kan? Tapi sebenarnya di balik itu ada lapisan yang lebih luas, tempat semua sisi itu berasal dari sumber yang sama. Jika kita berhenti melihat kedua serigala itu sebagai musuh, mereka bukan lagi jadi dua entitas yang bertarung, melainkan dua gerak dari satu kehidupan yang sama.
Bayangkan napas. Kalau kita cuma mau menarik napas, kita bisa tersedak. Kalau cuma mau menghembus, bisa-bisa kehabisan napas. Keduanya adalah siklus, satu tarian keseimbangan. Dan jika kita sadari napas, ada jeda alami antarnapas, ada kekosongan sesaat di situ yang sesungguhnya adalah ruang hening di mana napas itu terjadi. Dua gerak dari satu kesadaran yang sama.
Maka, bagiku kini bukan lagi soal serigala mana yang harus dimenangkan, melainkan bagaimana keduanya bisa hidup berdampingan, menari dalam harmoni. Ketika salah satu menyalak, mungkin itu hanyalah sinyal agar kita kembali menoleh ke dalam diri: melihat sisi yang sedang meminta perhatian, rasa yang sedang menunggu untuk dipeluk.
--
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7934/aes027-menghidupi-kesadaran-sebagai-manusia
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7925/aes025-sadar-napas
Komentar (1)
Yess. Saya juga suka banget kisah ini. Keren banget menganalogikannya.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES#047 Ekspektasi atau Kontrol?
Ngobras#5 adalah Ngobras perdana yang membawakan topik khusus terkait parenting dan hidup berkesadaran di setiap sesinya. Di sesi yang diadakan tanggal 5 Februari 2026 ini, topiknya adalah tentang ekspektasi dalam pengasuhan. Topik ini dipilih oleh lebih banyak orangtua di WAG Ngobras (belum gabung…
Murdeani40
AES#046 Ngobras Yuk...
Sewaktu kak Andy menginisiasi forum untuk orangtua yang diberi nama Ngobras, aku sangat menyambut baik. Selaras dengan tema besar TP 21 ini yakni spiritualitas, menurutku parenting adalah salah satu praktiknya. Mungkin banyak dari kita yang ketika mendengar kata spiritualitas, yang muncul di kepala…
Murdeani60
AES#045 Membumikan Kesadaran
Bagi mereka yang sedang atau telah lama mengenal ranah spiritual, pasti sudah familiar dengan istilah “kesadaran”. Meskipun kadang masih ada saja miskom tentang istilah ini, namun rata2 paham apa yang ditunjuk olehnya. Namun bagi yang masih awam sama sekali, atau tidak tertarik dengan ranah spiritu…
Murdeani30