AtomicEssay

AES#029 Telur Setengah Matang

Murdeanipenulis arsip2

Berawal dari obrolan tentang telur di WAG ITBSmuleans, grup alumni ITB yang senang nyanyi di aplikasi Smule, yang sehari-hari ramai membahas hal-hal yang unfaedah dan nirmanfaat, aku jadi teringat pengalamanku makan telur setengah matang dulu sewaktu masih anak-anak. Oleh Ibu, kami ketiga anaknya diwajibkan makan telur rebus setengah matang setiap pagi. Dan seperti anak lain yang pada masa itu tak berani membantah, aku pun terpaksa menurutinya, meski tubuh ini menolak. Eneg. Selama bertahun-tahun, saya merasa tersiksa setiap pagi. Ibuku, tentu saja menasehati dengan memberikan pandangan-pandangan positif tentang khasiat telur ayam kampung, dan bagaimana niat baiknya memberikan kami gizi yang optimal. “Tuh kan buktinya kalian pintar,” katanya puas, meski aku ga pernah tuh merasa pintar. IP nasakom aja pernah, sampai dapet surat undangan dari kampus untuk mengikuti psikotes. Ga dipercaya bisa masuk ITB

Anyway, setelah aku dewasa dan terlepas dari kewajiban makan telur setengah matang tentu saja aku lega sekali. Menjadi dewasa itu enak sekali, karena aku bisa membuat keputusan-keputusan untuk hidupku (meski sering direcokin juga, bahkan hingga udah beranak pinak). Lucunya, setelah mengenal kopitiam — kedai kopi ala peranakan Tionghoa di Singapura, aku malah menyukai telur rebus setengah matang. Akhirnya aku pun dengan sukarela suka membuatnya sendiri di rumah. Kenapa baru terasa nikmat sekarang ya?

Ketika konteksnya berubah, ga ada paksaan, ga ada harus, hanya pilihan dan rasa ingin tahu, maka sesuatu yang dulu aku asosiasikan dengan ketidaknyamanan malah bisa dinikmati. Jadi, ternyata dulu itu yang aku tolak bukan telur setengah matangnya, tapi energi di balik pengalaman itu. Ada rasa terpaksa, kehilangan kebebasan, kehilangan selera pribadi. Ini soal pengalaman yang melekat pada ritual telur setengah matang tersebut.

Ini pastinya juga terjadi dengan banyak hal di hidup kita, bukan hanya soal telur setengah matang. Ketika persepsi lama melunak, hal-hal yang dulu pahit pun bisa terasa manis, karena kita memandangnya dari kehadiran yang baru, bukan dari luka lama. Kamu ada pengalaman serupa?

--

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7954/aes030-algoritma-kehidupan

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7942/aes028-kena-batunya

Komentar (3)

joefelus

Cobain telur setengah matangnya di poached, lalu buat saos hollandise buat diatasnya. pasti kecintaan akan telur meningkat 1000 kali :D

Murdeani

Wainii bikin sausnya gimana? Pengen kari am sajaa hahaha

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES#047 Ekspektasi atau Kontrol?

Ngobras#5 adalah Ngobras perdana yang membawakan topik khusus terkait parenting dan hidup berkesadaran di setiap sesinya. Di sesi yang diadakan tanggal 5 Februari 2026 ini, topiknya adalah tentang ekspektasi dalam pengasuhan. Topik ini dipilih oleh lebih banyak orangtua di WAG Ngobras (belum gabung…

Murdeani40
AtomicEssay

AES#046 Ngobras Yuk...

Sewaktu kak Andy menginisiasi forum untuk orangtua yang diberi nama Ngobras, aku sangat menyambut baik. Selaras dengan tema besar TP 21 ini yakni spiritualitas, menurutku parenting adalah salah satu praktiknya. Mungkin banyak dari kita yang ketika mendengar kata spiritualitas, yang muncul di kepala…

Murdeani60
AtomicEssay

AES#045 Membumikan Kesadaran

Bagi mereka yang sedang atau telah lama mengenal ranah spiritual, pasti sudah familiar dengan istilah “kesadaran”. Meskipun kadang masih ada saja miskom tentang istilah ini, namun rata2 paham apa yang ditunjuk olehnya. Namun bagi yang masih awam sama sekali, atau tidak tertarik dengan ranah spiritu…

Murdeani30