AtomicEssay

AES#036 Perkara Kacamata

Murdeanipenulis arsip2

Yang paling menyebalkan ketika hendak pergi adalah kehilangan benda yang perlu dibawa, harus mencari-cari dulu. Kunci mobil, pernah. HP, pernah. Dompet, pernah. Kemarin kasusnya adalah kacamata. Biasanya memang kuletakkan di meja setelah mandi, jadi setelah berpakaian kupakai kembali. Tapi kemarin aku tidak menemukan kacamataku di meja. Kupastikan kacamata itu juga tidak ada di kepalaku. Dalam keadaan rabun aku menelusuri kembali dari dalam kamar mandi, jemuran, hingga ke kamar namun tetap tidak kutemukan. Aku berusaha mengingat-ingat di mana kira-kira aku meletakkan kacamata setalah dari kamar mandi. Kutanya semua penghuni rumah, bahkan kukerahkan Boni untuk mencari ulang, just incase karena kerabunanku aku tidak melihat kacamata itu tergeletak di suatu tempat. The clock is ticking, aku perlu segara berangkat mengantar Boni ke tempat magang. Sebenarnya ada banyak kacamata lama, tapi aku malas membongkar boxnya, dan dalam keadaan rabun begini jadi dobel malasnya. Pokoknya kacamata yg biasa ini harus ketemu no matter what.

Di tengah kehectican, Sony nyeletuk, “Hening dulu…” Dalam sekejap aku tersadar untuk kembali sadar setelah terseret narasi mental, dan frustrasi yang memenuhi kepala. Dan tiba-tiba saja muncul gerakan spontan masuk ke kamar lalu membuka lemari pakaian, dan tadaaa…. kacamatanya ada di situ, dari tadi menunggu dengan sabar untuk ditemukan.

Dari situ kemudian memunculkan banyak insight dan refleksi tentang bagaimana kesadaran bekerja dan kaitannya dengan pikiran sadar dan bawah sadar/subliminal. Sebelumnya, aku memaksa otak bekerja, berusaha mengingat, menelusuri, membuat hipotesis, kemungkinan, dan ini membuat kepala rasanya penuh, muncul rasa frustrasi, dan malah menahan informasi dan solusi yang sebenarnya ada. Otakku sebenarnya sudah menyimpan memori lokasi kacamata, tapi perhatian sadar terlalu “ramai” untuk mengaksesnya. Apalagi saat aku mencari dalam keadaan rabun, fokusku menjadi semakin menyempit. Fokus tinggi meningkatkan energi mental, tapi membuatku terjebak pada satu jalur berpikir.

Nah ketika Sony mengingatkan aku untuk hening, seperti ada jangkar yang menambatkanku pada momen saat ini, jeda sejenak yang memberi ruang bagi proses memori bawah sadar untuk muncul. Fokus pun makin meluas meski masih dalam keadaan rabun. Maka muncul lah gerakan spontan membuka lemari. Solusi ini muncul bukan karena aku berpikir keras, tapi justru karena otak diberi ruang untuk berpikir dengan jernih. Kacamata = simbol untuk melihat dengan lebih jernih.

Ini menyadarkanku bahwa sebenarnya kita tidak perlu mengerahkan daya upaya yang sangat keras untuk berpikir dan mencari solusi atas permasalahan kita. Albert Einstein mengatakan, “You can’t solve a problem from the same level of consciousness that created it.” Jika kita masih terjebak di tengah emosi, frustrasi, atau pola mental yang sama, solusi tidak akan muncul. Solusi muncul bukan dari usaha keras memikirkan masalah, tapi dari ruang kesadaran yang jernih, di mana pikiran bawah sadar dan intuisi bisa bekerja.

Dari situ kemudian aku mengevaluasi kebiasaan aku (dan manusia pada umumnya) berpikir. Banyak hal-hal yang jadi terungkap, dan ingin aku tuliskan, tapi kayaknya di lain waktu aja deh. Aku butuh praktek dulu, karena kusadari aku ternyata masih sering hidup di kepala. Apalagi kalau sudah banyak muncul ide yang bisa kutuliskan.

Komentar (2)

Lei

ajaib ya cara kerjanya, makin dicari makin ga ketemu, makin pengen makin ga bisa malah kl udh tenang, tiba2 keidean. hidup yah, bener2 deh..

Murdeani

Begitulah adanya... Makanya jadi menarik nih aku lg menumbuhkan habit baru: disiplin dalam berpikir. Kesadaran lah yg memimpin pikiran, bukan pikiran yang menentukan kapan kita sadar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES#047 Ekspektasi atau Kontrol?

Ngobras#5 adalah Ngobras perdana yang membawakan topik khusus terkait parenting dan hidup berkesadaran di setiap sesinya. Di sesi yang diadakan tanggal 5 Februari 2026 ini, topiknya adalah tentang ekspektasi dalam pengasuhan. Topik ini dipilih oleh lebih banyak orangtua di WAG Ngobras (belum gabung…

Murdeani40
AtomicEssay

AES#046 Ngobras Yuk...

Sewaktu kak Andy menginisiasi forum untuk orangtua yang diberi nama Ngobras, aku sangat menyambut baik. Selaras dengan tema besar TP 21 ini yakni spiritualitas, menurutku parenting adalah salah satu praktiknya. Mungkin banyak dari kita yang ketika mendengar kata spiritualitas, yang muncul di kepala…

Murdeani60
AtomicEssay

AES#045 Membumikan Kesadaran

Bagi mereka yang sedang atau telah lama mengenal ranah spiritual, pasti sudah familiar dengan istilah “kesadaran”. Meskipun kadang masih ada saja miskom tentang istilah ini, namun rata2 paham apa yang ditunjuk olehnya. Namun bagi yang masih awam sama sekali, atau tidak tertarik dengan ranah spiritu…

Murdeani30