AtomicEssay

AES053 Learn, Unlearn, Relearn (3)

Megapenulis arsip2

Akhir 2024 kemarin aku berkesempatan naik kereta jarak jauh, Bandung - Malang, selama 13 jam. Ini kali pertama setelah lebih dari 20 tahun lalu aku tidak pernah berkendara selama itu menggunakan kereta api. Tentu, banyak sekali perubahan yang kurasakan. 

Kulihat, KAI banyak berbenah diri. Gerbong kereta sangat bersih, gorden kain yang biasanya menjadi tempat persembunyian bayi kecoa, diganti dengan blind berwarna putih; selimut untuk penumpang diberikan dalam bungkus plastik tertutup yang sudah melalui proses sterilisasi (kubaca di bungkusannya); dan toilet pun (yang terbagi antara toilet pria dan wanita) bersih dan harum, sabun cuci tangan dan tisu masih tersedia sampai akhir perjalanan. Yang paling menyenangkan, gerbong kereta bebas dari pengamen dan penjual asongan yang zaman dulu bebas keluar-masuk. 

Di antara semua kelebihan itu, terselip juga sebersit perasaan kehilangan. Ah iya, sekitar 30 tahun lalu, kereta api –selain bus–, adalah sahabat setiaku selama masa-masa kuliah.  Perjalanan selama belasan jam selalu menjadi agenda rutin enam bulanan. Saat itu, penumpang mendapat makan malam yang sudah termasuk dalam harga tiket (kereta berangkat sekitar pukul 5 sore). Menu yang disajikan biasanya nasi rames atau nasi goreng. Selepas subuh, kami akan diberi sekotak kue atau sepotong roti beserta kopi atau teh panas. Dan... makan malam serta minuman panas untuk penumpang semuanya dihidangkan menggunakan piring dan mug non-sekali pakai dengan peralatan makan lengkap! 

Sekarang, tidak ada lagi kudapan dan minuman hangat di pagi hari. Makan malam pun berbayar, tidak termasuk dalam tiket kereta. Penumpang masih bisa memesan makanan yang ditawarkan pramugari, tapi sebagian besar adalah makanan siap saji yang hanya dihangatkan di microwave. Bahkan, mereka juga menjual mie instan dalam cup dan minuman sachet yang hanya perlu diseduh air panas. 

Aku harus menerima, zaman memang sudah banyak berubah. Di samping semua kelebihan yang ditawarkan PT KAI, banyak hal baik yang tergerus zaman. Tidak ada lagi teh manis hangat di pagi hari menemani aku melamun di sisi jendela sambil menunggu matahari terbit. 

Komentar (3)

joefelus

Sekedar info, kereta api di Indonesia menurut saya lebih baik dengan keretaapi di Amerika! Serius loh ga becanda. :)

Mega

Masa iya, bang Jo? Asa ngga percaya. Memangnya KA di Amrik gimana? Jadi penasaran. Btw, kalo lagi iseng boleh coba naik KA komuter di Bandung, udah bagus skr. Rutenya Padalarang - Rancaekek. Tarifnya jauh-dekat 5rb. Bisa brenti di Ciroyom, Kebon Kawung, Gedebage dll.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES052 Sebuah Perjumpaan pada Sebuah Musim

Bulan Januari. Hujan masih sering turun, meskipun tidak sekerap bulan November dan Desember kemarin. Buah rambutan mulai sering terlihat tergantung di kios-kios buah di tepi jalan. Aku jadi teringat, di suatu sore kira-kira dua bulan lalu, saat aku sedang mengupas buah mangga, tiba-tiba sebersit ra…

Mega30
AtomicEssay

AES051 Melipir

Sudah satu minggu aku berhenti menulis. Eh, bukan berhenti, tapi 'terhenti', kata kak Andy. Tidak apa-apa terhenti, tapi jangan berhenti. Terhenti hanya sementara, seperti saat kita mengemudi lalu tiba-tiba lampu lalu lintas berubah merah. Kita terhenti sebentar, lalu melaju lagi menuju tempat tuju…

Mega00
AtomicEssay

AES050 Lalu, Apa?

Yeay! Ini AES istimewa, karena setelah tiga tahun tepat sejak AES pertamaku tentang Selametan Smipa TP 12 yang diadakan pada 17 Agustus 2016, aku berhasil mencapai angka 50! Ngga ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan @joefelus yang berhasil melahirkan seribu lebih tulisan dalam kurun waktu yang…

Mega13