AES097 Menggunakan Otak

Obrolan pagi ditengah perjalanan pulang setelah mengantar anak-anak tadi membawa aku dan Fajrin berdiskusi mengenai pentingnya terus 'menggunakan otak'. Terpantik dari rute jalan melewati sekolah almamaterku. Betapa gilanya dulu harus berjuang bertahan hidup selama 3 tahun diantara murid-murid ber-IQ sangat superior. Berada pada kolam besar dengan para ikan besar mau tidak mau ikan kecil ini dipaksa berjuang melewati batas.
Kami para orang dewasa sekarang cenderung melakukan kegiatan secara otomatis, perjuangan mengembangkan potensi otak kami berhenti saat status akademik kami berakhir. Melanjutkan hari dengan bekerja, minim pengembangan diri.
Padahal kemampuan berpikir jika tidak diasah akan semakin menurun, perlu stimulasi untuk menjaga performanya. Layaknya pisau yang semakin menumpul jika sering digunakan begitu pula dengan otak yang semestinya terus diasah untuk menjaga ketajamannya.
Berlindung dibalik kesibukan, kami memang sering menjadikan itu sebagai alasan untuk berhenti belajar. Belajar diibaratkan sebagai hal yang tidak penting karena menyita waktu dan pikiran yang sudah jenuh akibat bekerja. Namun kami terkadang lupa bahwa belajar merupakan kebiasaan baik yang akan diwariskan untuk dijadikan contoh untuk anak-anak kami. Orang tua yang malas akan membuat anak malas begitu pun dengan orang tua yang rajin akan membuat anak rajin, mencontoh kebiasaan orang tuanya.
Sesederhana melakukan hal baru, hal yang belum pernah dicoba akan menjadi suatu stimulasi otak untuk berkembang. Mengisi teka teki silang atau main catur misalnya, atau mulai menulis. Mengembangkan ide menjadi suatu tulisan bukan hal mudah pada awalnya tetapi jika dilatih secara konsisten hasilnya akan tampak. Kadang kita terbentur bayang-bayang semu. Menulis = menjadi novelis atau mulai olahraga = jadi atlet! Ekspektasinya keterlaluan, overthinking-nya terlalu jauh! Jadi ya dibayang-bayangi kebesaran dan kesempurnaan tentu membuat ciut duluan, bukannya memulai malah berhenti sebelum mencoba.
Aku menyadari betul manfaat dari menulis, awalnya kebingungan dan kesulitan mengungkapkan kata sekarang lebih mudah dan mengalir. Mengenai isi tulisan yah menurutku tidak jadi soal karena yang kuharapkan adalah berprosesnya. Menuangkan ide menjadi sebuah tulisan, untukku sendiri. Cerita sedikit aku menaruh kekaguman dari penulis veteran ririungan, Pak @joefelus yang berhasil membuat kata sambutan dalam waktu kurang dari satu jam. Beliau membuatnya dengan bahasa runut dan isinya sudah pasti berbobot, memproyeksikan keandalannya dalam menulis spontan yang sudah pasti selain karena bakat juga dari tingginya jam terbang. Wow besar ku untuk bapak! hahaha
Pengalaman kemarin membuatku lebih termotivasi untuk terus melanjutkan, tidak ada kata terlambat untuk mulai menggunakan otak. Melatihnya ke mode manual, anggap saja mode autopilotnya rusak hehe
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES118 Asumsi
Terpantik dari diskusi siang tadi, ada hal menarik yang ingin aku ulur lebih panjang lagi mengenai menulis. Menulis memang terasa berat dan membingungkan bayangkan saja berapa sering kita menulis esai atau mengarang pada pelajaran bahasa indonesia dibandingkan dengan menjawab soal matematika? Berap…
Sanya21
AES001 Tantangan
Sabtu kemarin saya mendapat pesan WA dari Kak Andy. Sebuah tantangan. Wah ternyata yang dapat tantangan bukan cuma anak-anak tapi orang tuanya juga dapat. Keren kan sekolah mana yang seperti ini, orang tua dapat ikut belajar bersama. Bahasa gaulnya buy 1 get 3. Bayar SPP untuk 1 anak tapi kedua ora…
Sanya71
AES187 Mata Ashita Novel
Halo teman-teman yang budiman, seperti beberapa tulisan terakhir yang saya buat, saya banyak menjelaskan proses refleksi selama pengerjaan novel ini. Dari hari-hari yang terasa kosong, dari pikiran yang terlalu ramai, dari pertanyaan tentang sakit, kehilangan, kesepian, sampai harapan yang entah ka…

