AES125 Antara Estetika dan Etika

Beberapa tahun lalu, saya hadir di sebuah forum bincang di kediaman kang Yoyon almarhum (pendiri Actors Unlimited). Satu dari sedikit seniman Bandung, tokoh teater yang saya kenal. Saat itu hadir juga beberapa seniman dan budayawan. Saya beruntung bisa hadir di sana. Selalu menarik berbincang dengan mereka karena sudut pandang dan cara berpikir yang berbeda dalam memandang segala sesuatu.
Hadir juga dalam pertemuan itu seniman lukis Jeihan Sukmantoro. Pelukis terkenal - yang konon kanvas kosongnya saja sudah dibayar para kolektornya dengan harga sepuluh juta rupiah. Ya begitulah hidup seniman sejauh yang saya kenali, proses yang sangat panjang sampai karya-karyanya bisa dihargai sangat mahal. Tapi di sisi lain banyak juga seniman yang hidupnya sangat sulit.
Satu hal penting yang saya catat dari pertemuan itu adalah apa yang disampaikan Jeihan. Dia bilang bahwa Etika itu munculnya dari Estetika, dari keindahan. Kata-kata beliau spontan terrekam dalam benak saya. Ingatan saya nyambung dengan apa yang disampaikan Abah Iwan Abdurachman - bahwa manusia yang dekat dengan alam - cenderung rendah hati. Saya kira karena keindahan adalah salah satu hal yang dengan mudah kita saksikan di alam. Bagaimana menjelaskannya? Nah ini yang sepertinya sulit dijelaskan karena hal-hal ini berada di ranah Nurani, ranah kepekaan dan kesadaran manusia, sesuatu yang di luar jangkauan pikiran dan nalar. Keindahan memang tidak pernah bisa diukur - dia hanya bisa dirasakan dan dihayati.
Kenapa kemudian menjadi sangat penting dalam proses pendidikan anak-anak kita untuk memapar mereka sebanyak mungkin ke berbagai pengalaman estetis, termasuk di dalamnya melihat dan mengalami kebajikan, agar pengalaman estetika menumbuhkan etika dalam diri mereka. Etika dalam hal ini bisa dipandang sebagai sebuah penghormatan, penghargaan yang mendalam (reverence) terhadap segala sesuatu di luar diri seseorang - karena ada sesuatu yang sakral yang hadir di segala sesuatu di alam semesta ini. Salam.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES141 Jumpa Bermakna Dengan Mas Prapto (Suprapto Surjodarmo) bagian 2
Oke, mari lanjutkan cerita perjumpaan saya dengan mas Prapto. Tulisan pertama ada di tautan ini. Setelah menyaksikan pertunjukkan tari di ITB malam sebelumnya, keesokan paginya, SMS di hape saya kembali menunjukkan pesan baru dari teman saya. Dia menanyakan apakah saya berminat kalau diajak jumpa d…

AES103 Jumpa Bermakna dengan mas Prapto (Suprapto Surjodarmo)
Tulisan ini saya kira juga jadi kepingan pengalaman saya yang saya rasa cukup memengaruhi cara berpikir saya dan dengan demikian konstruksi Konsep Pembelajaran Holistik di Semi Palar. Tulisan ini akan jadi dua bagian - karena memang terjadi dalam dua segmen peristiwa yang bagi saya sangat bermakna.…

AES836 Titipan dari Herry (alm)
Sejak minggu malam, banyak dari kita teralihkan perhatiannya ke dalam peristiwa kepergian sahabat kita Herry, suami dari Ria, ayah dari Evan dan Davin yang sekian belas tahun jadi bagian dari keluarga besar Semi Palar dan berbagai dinamika interaksi di dalamnya. @joefelus, saya juga sempat menulisk…
