AtomicEssay

AES16 Bahasa cinta paling indah adalah doa

Asapenulis arsip2

"Cinta adalah doa. Setiap doa yang terucap adalah bukti cinta yang paling tulus." – Jalaluddin Rumi  

Ada satu bahasa cinta yang tak terlihat, tak bersuara, namun begitu kuat mengikat hati. Ia tidak membutuhkan rangkaian kata manis atau janji-janji yang berlebihan. Ia adalah doa, ungkapan cinta paling murni yang melintasi batas ruang dan waktu.  

Ketika seseorang mencintai dengan sepenuh hati, ia tidak hanya menunjukkan rasa itu dengan kata atau perbuatan, tetapi juga dengan doa yang ia panjatkan dalam keheningan. Doa menjadi bentuk kepedulian yang paling tulus, karena dalam doa ada harapan terbaik yang dipanjatkan untuk orang yang dikasihi.  

Mencintai dengan doa adalah tanda bahwa kita telah mencapai level tertinggi dalam mencintai seseorang. Kita tidak lagi sekadar menginginkan kebahagiaan bersama, tetapi juga berdoa agar setiap langkahnya diberkahi dan jalannya dimudahkan saat dia jauh dari kita. Sebab cinta sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang menginginkan yang terbaik bagi orang yang kita cintai.  

"Siapa yang mencintaimu akan mendoakanmu, dan siapa yang mendoakanmu berarti dia telah mencintaimu dengan cara yang paling dalam."

Namun, tidak semua orang mampu mencintai dengan cara ini. Cinta dalam doa membutuhkan keimanan yang kuat, hati yang sabar, dan ketulusan yang tak mengharap balasan. Ia adalah wujud kepercayaan kepada takdir, menyerahkan segala urusan kepada Yang Maha Kuasa, termasuk urusan hati.  

Dengan doa, kita menyerahkan segala urusan cinta kepada Sang Pemilik Hati, agar jika memang dia yang terbaik, Allah akan mendekatkannya, dan jika bukan, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.  

Cinta dalam doa bukan hanya tentang sepasang insan yang saling jatuh cinta. Ia juga tentang kasih sayang seorang ibu yang mendoakan anaknya, seorang saudara yang berharap kebaikan bagi saudaranya, seorang sahabat yang ingin temannya selalu dalam lindungan Tuhan.  

Ketika kita saling mendoakan, hubungan yang terjalin menjadi lebih erat dan penuh keberkahan. Karena cinta yang terucap dalam doa adalah cinta yang tidak menuntut, tidak mengikat, tetapi mengalir dengan ketulusan.  

Jika suatu saat kau merasa tak mampu lagi menyampaikan cinta dengan kata-kata, sampaikanlah dalam doa. Biarkan namanya mengalir dalam sujudmu, dalam sunyimu, dalam setiap pintamu kepada Tuhan. Sebab, di situlah cinta menemukan bentuknya yang paling indah, sederhana, tulus, dan penuh makna.  

Komentar (2)

Andy Sutioso

Waah bagus amat ini tulisannya.

Asa

Terima kasih apresiasinya, Kak Andy

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES936 Hidup adalah Udunan

TIdak ada peristiwa kebetulan, minggu lalu salah satu kakak bilang sama saya, kak Andy kapan kita ngobrol... Hmm, pikiran yang sama juga mampir dalam diri, bahwa memang sudah waktunya ngobrol dengan kakak ini. Nyambung ya... Akhirnya hari minggu kemarin kitapun jumpa setelah olahraga pagi - sambil…

Andy Sutioso31
AtomicEssay

AES 1540 Sebuah Perayaan

Kenapa topik kematian menjadi sebuah hal yang paling jarang diperbincangkan dan menjadi semacam hal yang tabu? Saya tidak terlalu mengerti jika itu dikaitkan dengan semacam rambu-rambu dalam hubungan sosial, tapi jika saya menyelami pengalaman pribadi, terutama akhir-akhir ini saya sangat lekat dal…

joefelus40
AtomicEssay

AES881 The Living Years : Bicara Lintas Generasi

Karena sedang banyak membicarakan tentang generasi, saya ingin menempatkan lagu ini di Ririungan. Lagu lawas yang dibawakan oleh grup musik Mike & The Mechanics. Judulnya The Living Years. Lagu yang masih kerap saya putar di playlist saya. Beberapa waktu lalu di tengah kemacetan lalu lintas, la…

Andy Sutioso10