Atomicessaysmipa

AES18 Panah Hidup di Semi Palar

matheusaribowopenulis arsip2

"Mengapa disebut Pulang Pergi, bukan pergi pulang?" Bukankah kita pergi dulu baru bisa pulang? bisa jadi, tapi …. Bagi saya pulang bukan karena kita sudah pergi, tetapi karena kita menentukan makna dan siapa rumah kita. Saya sebut sebagai siapa, sebagai subjek karena rumah itu hidup, bergerak, merespon, dan menyimpan. Sebab subjek adalah pelaku dalam kalimat. Dalam perkara Pulang dan Pergi, rumah adalah pelakunya. Rumah itu hidup, bergerak, dan merespons. Mungkin kita selama ini tak pernah benar-benar pulang. Mungkin juga, belum sebenar-benarnya memaknai pulang. Bisa saja seperti penggalan puisi Anakmu Bukanlah Anakmu karya Kahlil Gibran, “Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup.” Dari kalimat ini kita bisa merenungkan, siapakah rumah bagi anak panah? Apakah busur, tangan, sarung busur, ataukah justru sasaran? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul malam itu, pengalaman pertama saya menikmati Musik Sore di sekolah. 

Mengapa fokus saya kemudian beralih dari melepas K6, K9, dan K12 menjadi rumah dan si pemanah. Dalam penggalan puisi itu jelas, bahwa “kau” di sana sebagai kata ganti orang tua. Si pemanah yang berarti orang tua. Maka jelas, bahwa teman-teman K6, K9, dan K12 itu pulang dari Smipa kepada orang tua. Namun, sekaligus momen pelepasan di ujung Musik Sore itu adalah kolaborasi Smipa sebagai busur dan orang tua sebagai pemanah untuk melepaskan anak panah. Melepaskan anak panah menuju sasarannya? apakah anak panah bisa menentukan sasarannya sendiri? Sekali lagi, Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup.” Anak panah hidup. Ya, teman-teman K6, K9, K12 ini panah-panah yang hidup. Seolah Smipa dan orang tua menentukan arah lajunya, namun siapa dapat mengira bahwa kehidupan memiliki jalannya sendiri. Maka busur dan pemanah pastilah lebih tabah dari hujan bulan Juni. Proses menemukan gaya pegas, meruncingkan mata panah, dan menumbuhkan “daya” untuk terlontar dalam diri anak panah adalah kolaborasi yang terjadi selama ini di tempat ini, Semi Palar.

Busur dibuat kokoh sekaligus lentur untuk menjamin anak panah dapat ditarik secara maksimal dan terlontar sepenuhnya. Pemanah perlu kuat, fokus, dan awas dalam melihat sasaran. Ini tentu sangat merefleksikan peran Smipa (yang di dalamnya ada Kakak-kakak) dan orang tua. Perpisahan tak hanya menyoal tidak lagi bersama atau ada jarak yang memisahkan, sebab bisa jadi pisah itu bukan berarti menjaga jarak, namun jarak yang menjaga. Sekarang anak panah hidup telah dilepaskan. Kemana anak-anak panah itu akan pulang? Atau kemana mereka akan pergi?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES 1545 Berselancar

"Ati ati, Jo." Kata Nina di bawah yang langsung saya iyakan dari atas atap. Kemarin sore ada angin puting beliung menerbangkan banyak benda dari kampung belakang termasuk atap asbes bahkan genting sehingga ada beberapa genting di atas rumah saya pecah karena terhantam. Sebetulnya saya ingin meminta…

joefelus21
AtomicEssay

AES#041 Perjalanan Mandiri Sebagai Orang Tua

Hari Jumat beberapa waktu yang lalu kelasnya Boni mengadakan perjalanan mandiri ke rumah narasumber masing-masing untuk mempelajari lebih lanjut tentang kehidupan di Jawa. Ini dalam rangka persiapan Perjalanan Besar ke Jawa Tengah yang akan diselenggarakan bulan Februari yang akan datang. Perjalana…

Murdeani72
AES

AES 002 "Perjalanan Mandiri" Saat saya belajar melepas

Sabtu kemaren Leia melaksanakan salah satu kegiatan di semipalar yang menurut saya unik sekaligus cukup mengaduk-aduk perasaan, yaitu Perjalanan Mandiri. Di kegiatan ini anak-anak diminta untuk mengunjungi kerabat yang jarang mereka temuin sebagai bentuk silaturahmi dan latihan kemandirian. Yang bi…

ichaleia73