AES183 Batik
Batik Indonesia memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan batik negara lain dari segi ragam motif dan desain pengerjaannya yang cenderung lebih halus. Batik itu sendiri secara garis besar digolongkan menjadi dua yaitu batik pedalaman dan batik pesisiran. Batik pedalaman meliputi daerah Yogyakarta dan Surakarta yang memiliki ciri penggunaan warna lembut dengan motif klasik. Sedangkan batik pesisiran adalah Batik batik yang tumbuh subur di luar batik keraton yang berasal dari wilayah Gresik, Madura dan Tuban dengan ciri penggunaan warna cerah dan motif kekayaan laut.
Saat ini, Batik berada di puncak popularitas. Batik sudah ditetapkan sebagai Indonesian Cultural Heritage yaitu warisan budaya tak benda oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) tepatnya pada tanggal 2 Oktober 2009.
Meskipun kata batik dirujuk dari bahasa Jawa, namun asal muasal batik sesungguhnya masih menjadi misteri dan masih diperdebatan sampai saat ini. Pada tahun 1677, terdapat bukti sejarah mengenai perdagangan sutera dari Cina ke Jawa, Sumatra, Persia dan Hindustan. Selain itu juga terdapat catatan-catatan tertulis mengenai ekspor batik dari Jawa ke Malabar pada catatan tahun 1516 disusul tahun 1518. Di dalam catatan itu dikatakan mengenai kain-kain diwarna indah yang disebut tulis (bahasa Jawa) yang dalam bahasa Indonesia juga berarti tulis. Batik tulis biasa disebut "batik klasik" atau "batik murni".
Pada awalnya, seni batik hanya ada di lingkungan keraton. Hal ini sebagai salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi para aristokrat pada karya seni yang dihasilkan. Namun pada waktu sekarang, seni batik sudah menyebar luas di masyarakat bahkan profesi sebagai pembatik sudah menjadi mata pencaharian masyarakat terkhusus kaum perempuan.
Berdasarkan fakta di lapangan jenis pewarna alami tidak terlalu diminati oleh orang-orang di luar sana. Alasan lainnya di antara lain adalah karena proses pembuatan batik pewarna alami lebih lama mengakibatkan biaya produksi mahal. Proses pencelupan/pewarnaan memerlukan waktu yang panjang hingga sesuai dengan warna yang diinginkan. Pengulangan pada proses pencelupan dilakukan lebih banyak agar menghasilkan warna yang lebih baik. Selain itu dilakukan juga proses mordanting untuk mengurangi kelunturan warna kain terhadap pengaruh pencucian maupun pada proses pencelupan.
https://media.neliti.com/media/publications/62476-ID-batik-sebagai-identitas-kultural-bangsa.pdf https://repo.undiksha.ac.id/3180/3/1612031005-BAB%201%20PENDAHULUAN.pdf
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES203 Eksplor Braga 17+24/01/2023
Braga yang kita kenal, adalah satu jalan searah yang sering di jadikan pilihan untuk "hangout" dengan teman-teman atau keluarga, dan di jadikan tempat wisata. Namun ternyata Braga lebih dari itu. Setelah aku pergi keliling Braga yang ternyata lebih dari hanya satu jalan searah, aku seperti pergi ke…
AES202 Babarengan cirikhas SMIPA
Babarengan sudah jadi ciri khas kegiatan di Smipa, semua jenjang melakukan kegiatan ini. Kegiatan babarengan dilakukan bisa bersama orantua, kolaborasi antar jenjang, dan perkelas itu sendiri. Babarengan biasanya identik dengan main bersama, lepas dari kegiatan belajar dan ujian yang telah selesai.…

AES201 Perjalanan Magang
Akhirnya aku telah melaksanakan magang selama 3 bulan, kegiatan ini adalah proses wajib KPB. Lika-liku selama 3 bulan yang tidak sebentar itu ku lewati. Untungnya aku bisa menyelesaikannya dengan bermakna. Banyak pengalaman dan cerita baru yang kujalani. Beruntung sekali aku bisa menjalani proses m…