AtomicEssay

AES183 Hal Kecil

carloslospenulis arsip3

Halo teman-teman yang budiman, dalam proses pembuatan novel saya akhir-akhir ini, saya menyadari satu hal yang mungkin terdengar kecil, tapi diam-diam terus mengganggu pikiran saya. Saya merasa cara paling tepat menyampaikan pendapat kadang justru dengan tidak melihat langsung orangnya.

Mungkin terdengar aneh. Tapi saat berbicara langsung, sering kali ada banyak hal yang ikut masuk: ekspresi wajah, rasa canggung, takut salah bicara, takut melukai, atau takut tidak dipahami. Kata-kata yang awalnya terasa utuh di kepala tiba-tiba menjadi pendek, berubah arah, atau bahkan hilang begitu saja.

Sedangkan tulisan berbeda. Tulisan memberi waktu untuk diam sebentar. Memberi kesempatan pada pikiran untuk duduk lebih lama sebelum berbicara. Barangkali itu sebabnya saya lebih senang mengutarakan sesuatu melalui teks—melalui kalimat-kalimat panjang yang terkadang bahkan saya sendiri baru mengerti maknanya setelah selesai ditulis.

Gagasan saya rasanya selalu tertanam terlalu dalam. Saya perlu menggali lama untuk menemukannya lagi. Kadang seperti mencari barang yang saya simpan sendiri lalu lupa meletakkannya di mana.

Sementara itu, teman-teman saya sekarang sedang menjalani penjelajahan. Saya membayangkan mereka mungkin sedang tertawa di perjalanan, berjalan bersama, bercakap-cakap tanpa terlalu memikirkan hal-hal yang rumit. Barangkali mereka sedang menemukan ritmenya sendiri sebagai satu kelompok—satu harmoni.

Dan saya? Entahlah.

Kadang saya merasa seperti seseorang yang gagal menyajikan hidangan utama kelas sebelas. Seolah ada satu bagian dari pengalaman itu yang terlewat begitu saja. Lalu pikiran mulai bekerja dengan cara yang sering kali tidak membantu.

Apakah saya gagal menemukan "bintang" yang selama ini begitu sering dibicarakan?

Ataukah sebenarnya bintang saya ada, hanya saja cahayanya terlalu redup, terlalu muram, atau terlalu jauh dari jalur yang sudah digambar orang lain?

Saya tidak tahu. Tapi semakin lama saya memikirkannya, semakin saya sadar mungkin saya sedang melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar melewatkan sebuah kegiatan sekolah.

Saya sedang mencoba berdebat dengan sistem yang sudah berdiri lama. Sistem yang punya jalurnya sendiri tentang bagaimana seseorang seharusnya belajar, bertumbuh, dan dianggap berhasil. Dan saya sadar, itu bukan pertarungan kecil.

Karena melawan sesuatu yang besar sering kali bukan soal menang atau kalah. Kadang itu hanya soal bertahan agar diri kita tidak ikut hilang di dalamnya. Jadi doakan saya selamat dari pertarungan ini.

Bukan agar saya keluar sebagai pemenang. Tapi agar setelah semuanya selesai, saya masih tetap menjadi diri saya sendiri.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES73 The Experience Locker

Two roads diverged in a wood, and I took the one less traveled by, and that has made all the difference -Robert Frost- Since I’ve taken an unorthodox approach to life since I was born, there’s been so many experiences that I’ve been through, I sometimes forget most of them. Talking to people older…

Rico20
AtomicEssay

AES187 Mata Ashita Novel

Halo teman-teman yang budiman, seperti beberapa tulisan terakhir yang saya buat, saya banyak menjelaskan proses refleksi selama pengerjaan novel ini. Dari hari-hari yang terasa kosong, dari pikiran yang terlalu ramai, dari pertanyaan tentang sakit, kehilangan, kesepian, sampai harapan yang entah ka…

carloslos21
AtomicEssay

AES176 Perfect Days: Bagaimana Cara Mencintai Kesederhanaan?

Baru-baru ini aku nonton Perfect Days karya Wim Wenders, dan rasanya langsung nyambung banget sama pengalaman nonton Taste of Cherry dari Abbas Kiarostami. Keduanya bisa dibilang “slow cinema” murni, tapi punya rasa yang kontras meski sama-sama minimalis. Taste of Cherry terasa lebih gelap dan filo…

carloslos42