AES199 Krisis Identitas di Norwegian Wood

Halo teman-teman yang budiman, setelah membaca untuk kedua kalinya novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami, saya akhirnya mulai memahami satu hal yang sebelumnya kurang saya perhatikan: betapa mudahnya manusia kehilangan dirinya sendiri, terutama ketika masih berada dalam masa muda.
Menariknya, ketika membaca novel ini untuk kedua kalinya, saya justru merasa sedikit bersalah. Bayangkan saja, dalam novel pertama yang saya tulis, saya malah membuat salah satu karakter ciptaan saya membaca Norwegian Wood. Sudah masih muda, sedang berada di rumah sakit pula, eh malah saya beri bacaan yang isinya tidak jauh-jauh dari kehilangan, kesepian, dan kematian. Hahaha, rasanya saya memang sedikit kejam kepada karakter ciptaan sendiri.
Tapi barangkali itulah menariknya sebuah karya sastra. Kita bisa membaca buku yang sama berkali-kali, tetapi tidak selalu membawa pulang pemahaman yang sama. Pada pembacaan pertama, saya melihat Norwegian Wood sebagai kisah percintaan anak muda yang cukup rumit. Namun, pada pembacaan kedua, saya mulai melihatnya sebagai cerita tentang manusia-manusia yang berusaha hidup bersama masa lalunya. Ada yang berhasil berjalan, ada yang tertinggal, dan ada pula yang tidak pernah benar-benar menemukan jalan keluar.
Saya rasa, pada dasarnya manusia memang sulit melepaskan diri dari masa lalu. Kita bisa berpindah tempat, bertemu orang baru, bahkan membangun kehidupan yang sama sekali berbeda. Namun, kenangan punya kebiasaan buruk: ia bisa datang kembali tanpa diundang.
Seperti halnya Naoko. Naoko adalah salah satu karakter yang paling menarik sekaligus menyedihkan bagi saya. Ia hidup bersama bayang-bayang Kizuki, kekasihnya yang meninggal ketika masih berusia 17 tahun. Kepergian Kizuki bukan hanya menghilangkan seseorang dari kehidupannya, melainkan juga meruntuhkan sebagian dunia yang selama ini ia kenal.
Kemudian datanglah Toru Watanabe, sahabat Kizuki yang juga membawa luka dari peristiwa yang sama. Awalnya, saya menganggap Naoko menjadikan Toru sebagai semacam sandaran untuk menggantikan Kizuki. Namun, semakin jauh saya membaca, semakin saya merasa bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Toru boleh hadir, menemani, bahkan mencintainya. Tetapi Toru tetaplah Toru. Ia tidak mungkin menjadi Kizuki yang sudah tiada.
Dan barangkali di situlah letak tragedinya. Manusia sering berharap bahwa sesuatu yang hilang bisa digantikan oleh sesuatu yang baru. Padahal, tidak semua kehilangan menyediakan ruang untuk pengganti. Ada orang yang pergi dan meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapa pun, betapapun kerasnya kita mencoba.
Sementara itu, Toru sendiri bagi saya adalah manusia yang cukup kontradiktif. Ia sering terdengar rasional. Cara berpikirnya tenang, pengamatannya tajam, dan ia seolah mampu memahami orang-orang di sekitarnya dengan cukup baik. Namun, ketika persoalannya menyangkut dirinya sendiri, segala rasionalitas itu mendadak kehilangan arah.
Ia kebingungan menentukan apakah harus terus menunggu Naoko atau memulai kehidupan baru bersama Midori. Lucu juga kalau dipikir-pikir. Manusia bisa begitu pandai membaca persoalan orang lain, tetapi sering kali menjadi buta ketika harus membaca isi kepalanya sendiri. Saya rasa Toru adalah contoh menarik dari persoalan itu. Ia mampu memahami penderitaan orang lain, tetapi tidak sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya ia inginkan.
Kemudian hadirlah Midori. Kalau Naoko bagi saya adalah gambaran masa lalu Toru, maka Midori adalah kemungkinan masa depannya. Midori punya kepribadian yang hampir bertolak belakang dengan Naoko. Ia lebih terbuka, ekspresif, dan tidak terlalu sungkan menyampaikan keinginannya. Ia juga punya persoalan hidup sendiri, tetapi caranya menghadapi kehidupan terasa berbeda. Midori tidak hanya ingin dicintai dalam diam. Ia ingin kehadirannya diakui, diperhatikan, dan dipilih dengan sungguh-sungguh.
Sedangkan hubungan Toru dengan Naoko terasa seperti usaha panjang untuk mempertahankan sesuatu yang perlahan menjauh. Bukan karena Naoko sengaja ingin dikejar, melainkan karena ada penderitaan dalam dirinya yang bahkan tidak mampu dijangkau oleh Toru.
Di sinilah saya melihat ketiga karakter tersebut seolah menempati posisi yang berbeda. Naoko adalah masa lalu yang belum selesai. Midori adalah masa depan yang belum pasti. Sedangkan Toru berdiri di antara keduanya, tidak sepenuhnya mampu meninggalkan yang lama, tetapi juga belum berani menerima yang baru. Bukankah itu juga sering terjadi pada manusia seusia kita?
Kita hidup di masa sekarang, tetapi sebagian pikiran masih tertinggal di masa lalu. Di sisi lain, kita terus diminta memikirkan masa depan. Mau menjadi apa, mau pergi ke mana, dan mau menjalani hidup seperti bagaimana. Akhirnya, kita terlalu sibuk memikirkan dua waktu yang berbeda sampai lupa bahwa diri kita sebenarnya sedang hidup pada hari ini.
Namun, ada satu bagian yang menurut saya perlu dipandang lebih hati-hati. Ketika Naoko akhirnya tiada, kita mungkin tergoda mengatakan bahwa Midori telah memenangkan hati Toru. Saya sendiri sempat berpikir begitu. Tetapi setelah direnungkan, rasanya kurang tepat jika kehidupan mereka dianggap sebagai sebuah perlombaan. Sebab Naoko bukan peserta yang kalah, dan Midori pun bukan pemenang yang mendapatkan hadiah. Kepergian Naoko adalah tragedi, sementara hubungan Toru dengan Midori adalah kemungkinan untuk tetap melanjutkan kehidupan.
Bahkan sampai akhir cerita, Murakami tidak benar-benar memberikan kepastian yang menenangkan. Toru ingin mendekati Midori, tetapi ia sendiri masih seperti seseorang yang kehilangan arah. Barangkali itulah mengapa saya menyukai cara Murakami menutup ceritanya. Tidak semua persoalan manusia harus mendapatkan jawaban yang rapi.
Oh iya, ada satu hal lagi yang awalnya cukup mengganggu saya ketika membaca novel ini, yaitu adegan-adegan seksualnya. Jujur saja, pada pembacaan pertama saya sempat berpikir, mengapa harus ada begitu banyak adegan semacam itu? Apakah memang diperlukan untuk menceritakan kehidupan anak muda?
Tetapi pada pembacaan kedua, saya mulai memahami kemungkinan maksudnya. degan-adegan tersebut bukan hanya berbicara tentang hasrat, tetapi juga tentang kesepian, tekanan batin, dan kebutuhan manusia untuk merasa dekat dengan orang lain. Para karakternya sering kali mencari kehangatan fisik ketika hubungan emosional mereka justru sedang kacau.
Dan kedekatan fisik, sebagaimana diperlihatkan dalam cerita ini, tidak selalu berhasil menghilangkan kesepian. Seseorang bisa tidur bersama orang lain, tetapi tetap merasa sendirian ketika pagi datang. Saya rasa itulah salah satu ironi kehidupan manusia yang berhasil digambarkan Murakami. Kita menginginkan kedekatan, tetapi sering tidak tahu bagaimana caranya benar-benar memahami orang yang berada di dekat kita.
Pada akhirnya, Norwegian Wood bagi saya bukan sekadar novel percintaan. Ia adalah cerita tentang manusia-manusia muda yang sedang menghadapi kehilangan, mencari identitas, dan mencoba bertahan di tengah kehidupan yang tidak selalu memberi jawaban. Toru, Naoko, dan Midori mungkin hanya tokoh fiksi. Namun, kegelisahan mereka terasa cukup dekat dengan kehidupan kita.
Di usia muda, kita sering menganggap bahwa bertambahnya umur akan membuat segala sesuatu menjadi lebih jelas. Padahal kenyataannya, semakin dewasa seseorang, semakin banyak pula pertanyaan yang harus dihadapinya. Dan mungkin krisis identitas bukan semata-mata tentang tidak mengetahui siapa diri kita. Barangkali ia juga tentang ketidakmampuan menerima bahwa diri kita yang sekarang sudah tidak sama dengan diri kita di masa lalu.
Teman-teman yang budiman, setelah dua kali membaca Norwegian Wood, saya belum tentu memahami seluruh maksud Murakami. Masih banyak bagian yang rasanya perlu saya renungkan kembali. Namun, setidaknya saya membawa pulang satu pemikiran kecil.
"Bahwa manusia tidak selalu kehilangan dirinya karena tidak tahu hendak pergi ke mana. Kadang ia kehilangan dirinya justru karena terlalu lama berdiri di tempat yang seharusnya sudah ia tinggalkan."
Dan barangkali, seperti Toru Watanabe, kita semua sedang belajar satu hal yang sama: bagaimana caranya tetap hidup bersama kenangan, tanpa harus menjadikan masa lalu sebagai satu-satunya tempat tinggal.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES001: Hari-Hari dikelilingi Banyak Buku
“Saya ga inget banyak detail di buku yang saya baca, payah ya. haha. tapi setidaknya saya ingat perasaan saya ketika membaca bukunya” Obrolan ringan tentang buku di sela-sela menyortir buku untuk festlit selalu membuat saya senang bergabung menjadi panitia Festlit. Tiap tahun, panitia Festlit menyo…

AES196 Membahas Soal Musik Indonesia
Tulisan di Ririungan Tanggal 10 September 2026Halo teman-teman yang budiman, pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita sedikit soal musik. Saya rasa, sebagai remaja, musik sudah menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir di perjalanan, di kamar, di sela tugas sek…
AES03 Buku Bacaanku
Di Jabawaskita kali ini aku membaca buku “The Alchemist” yang ditulis oleh Paulo Coelho. Aku meminjam buku ini dari Jehan (teman sekelas) dan mulai membaca di awal-awal K8. Aku membaca seluruh buku ini selama 5 minggu (kurang lebih), setiap Jabawaskita. Saat aku melihat cover buku tersebut, aku lum…


