AtomicEssay

AES245 membedah makna Ilmu

Andy Sutiosopenulis arsip2

Tulisan ini hasil obrolan saya dengan kak Lyn. Kebetulan kak Lyn sedang menyiapkan materi untuk olahan Rumpi Sada di minggu depan. Dalam salah satu salindianya ada tertulis kata ilmu. Sewaktu kak Lyn minta pendapat saya, saya jadi terpikirkan tentang apa yang dikatakan Aki Muhidin. Untuk membahas tentang ini kita perlu menambahkan satu kata lagi: pengetahuan. 

Kalau menelaah kata-kata Aki Muhidin, semestinya kita bisa menyimpulkan bahwa kita tahu sesuatu belum berarti kita paham, bisa, tuman dan ngajadi. Menurut pemahaman saya orang yang berilmu itu adalah orang yang bukan sekedar tahu (nyaho, knowing) tapi sudah ngajadi (being). Ngajadi bisa diartikan juga sebagai menghayati - bahwa pengetahuan itu sudah meng-hayat (hayat=badan). Jadi boleh dikata individu itu sudah membadani apa yang diketahuinya. Dalam bahasa Sunda, istilahnya mungkin sudah ngahiji, sudah menyatu, melebur. Inilah yang boleh disebut sebagai orang-orang yang berilmu.  

Di jaman sekarang ini, apa lagi dengan akses informasi yang begitu mudah, begitu banyak juga orang-orang yang merasa berilmu. Seakan-akan paham segala sesuatu, bisa cerita segala rupa. Selain banyak tahu, yang penting pede aja. Makanya dia bisa mengkritik kiri kanan atas bawah semaunya. Tapi kalau didalami, bisa jadi dia tidak tahu apa-apa. 

Dalam konteks pendidikan holistik, ada lapisan yang lebih sulit dicapai yaitu pengenalan diri. Karena untuk mengenal diri, kita perlu menelaah betul-betul sisi dalam diri kita. Ini bukan perkara mudah. Secara inderawi, mata manusia orientasinya ke luar. Indera penglihatan kita sangat kuat karena pertama-tama dibutuhkan untuk pertahanan diri (survival). Semua indera manusia memang orientasinya keluar. Untuk memahami apa yang ada di lingkungan sekitarnya, kita punya perangkatnya. Ini juga yang mengakibatkan sulit sekali bagi manusia untuk menyimbangkan pengenalan sisi dalam dan sisi luar hidupnya.

Sebaliknya secara spesifik kita tidak punya anggota / organ tubuh untuk melihat ke dalam diri... Ini jadi tantangan besar bagi manusia karena menyeimbangkan pengenalan sisi dalam dan sisi luar dirinya perlu pendekatan tersendiri juga. Kita juga perlu belajar tentang ini. Sejauh pemahaman saya sampai di titik ini, satu-satunya cara adalah melalui waktu hening. Hal lain yang juga sangat membantu adalah proses-proses reflektif yang perlu dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Sampai jumpa di esai berikutnya. 

Photo by Wallace Chuck from Pexels

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES517 When The Student is Ready

Beberapa waktu lalu, saya kedatangan seorang kenalan baru yang datang dari Perancis. Namanya Suzanne Dufour. Suzanne datang untuk ngobrol-ngobrol atas rekomendasi salah satu orangtua alumni Semi Palar. Suzanne ini sedang bepergian ke berbagai tempat di Asia - terakhir beliau tinggal tiga bulan di M…

Andy Sutioso41
AtomicEssay

AES06 - Belajar terus mengelola emosi

Hari kemarin, saya mengikuti kegiatan Lingkar Belajar (LB) yaitu pengelolaan emosi kakak. Yang mana, LB tersebut bertujuan untuk belajar dan mengingat kembali bagaimana mengelola emosi saat menjalankan amanah di keseharian, memang bagi kakak fasilitator di Smipa yang memiliki misi tidak hanya trans…

Asep Ramdan63
AtomicEssay

AES 355 Be True To Yourself

Siapapun yang sesekali baca segala bentuk ocehan saya, pasti sudah tahu bahwa saya dari keluarga sederhana yang semasa kecil dibesarkan di kampung dengan segala macam keterbatasan. Segala bentuk keterbatasan itu tentunya punya banyak dampak terhadap karakter, personality, kepercayaan diri dan lain…

joefelus62