AES262 Literasi : Mengamati Jauh, Dekat dan ke Dalam

Beberapa hari ini saya tidak menulis esai saya. Sejak sebelum Imlek, memang agenda saya super padat dan melelahkan. Beberapa kali saya memulai esai saya dan tidak bisa menuntaskannya. Saya ingin memposting jeda menulis, saya pikir lebih baik saya tunda esai saya dan karenanya sekarang saya berhutang beberapa esai yang mesti saya tuntaskan. Ada banyak ide di kepala untuk apa yang mau saya tuliskan. Salah satunya tulisan saya malam ini.
Kembali tentang Literasi. Mudah-mudahan tidak bosan karena ternyata Literasi kalau ditelaah mendalam ya nyaris tak berbatas. Kedalamannya belum bisa diduga sampai mana. Kenapa selama ini literasi hanya diterjemahkan ke dalam baca dan menulis, sepertinya proses panjang telah membawanya sampai ke sana. Banyak hal-hal penting bahkan esensial yang tertimbun dalam prosesnya. Penelusuran dan proses kita di Semi Palar sepertinya membawa kita menemukan kembali hal-hal yang terlupakan - walaupun penting terkait Literasi.
Akhir minggu lalu, saya dan tim Smipa Disada mendampingi 11 orang guru Sekolah Linimasa dalam program Pelatihan Intensif di Lembang. Temanya ya ini, Literasi juga tentang Numerasi. Ada mindset yang perlu dipastikan tepat karena literasi adalah tentang membaca, mengamati segala sesuatu untuk kemudian bisa memprosesnya lebih lanjut. Sampai sejauh ini kami meyakini bahwa literasi adalah dasar / landasan segala proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran holistik, sejak di TP17 ini kami telah memilah lebih jauh di mana Literasi terdiri dari Literasi Diri (mengenal diri) dan Literasi Semesta (mengenal sisi luar diri manusia).
Di Lembang hal ini yang kita coba kenalkan kepada rekan-rekan guru Linimasa. Pagi-pagi sebelum matahari terbit kami sudah berangkat untuk menikmati terbitnya matahari pagi dari Timur - muncul perlahan di balik gunung yang menutupinya. Melihat jauh ke garis cakrawala. Menjelang siang, kami mengajak guru-guru Linimasa untuk melihat hal-hal kecil yang ada di sekitar mereka. Bisa jadi mereka melewatkan keindahan bunga kecil di sebelah kaki mereka saat pandangan mereka menikmati indahnya matahari pagi. Melihat jauh, kemudian melihat dekat... Yang lebih sering terlupa adalah bagaimana kita semua sering lupa untuk melihat ke dalam diri. Padahal sisi dalam diri adalah sisi yang terpenting - tapi kerap terlupakan. Literasi semesta dan literasi diri, keduanya perlu berjalan beriringan dan seimbang pula. Supaya manusia bisa kenal keutuhan ciptaan Tuhan, di sisi luar maupun di sisi dalam dirinya, buana ageng dan buana alit... Semoga kita semua bisa belajar menerapkannya di dalam diri kita masing-masing.
Photo by Andrea Piacquadio from Pexels
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES409 JurnalSumba#8 | Isko
Saya berkesempatan untuk berinteraksi cukup dekat - selama kurang lebih empat puluh lima menit dengan satu orang siswa SD Bali Loura yang bernama Isko. Isko adalah siswa kelas V. Saya berjumpa dengan dia di saung bambu. Salah satu tempat sederhana, saung di halaman SD Bali Loura, tempat di mana bia…

AES406 JurnalSumba#5 Literasi Lendongara
Salah satu kampung yang kami kunjungi bersama mobil Klik-klik adalah Lendongara. Mobil Klik-klik ini adalah mobil LC yang berberkeliling dari kampung ke kampung di sekitar LC Umma Manganne. Kampung ini lokasinya tidak jauh dari LC - relatif dekat dari kota tapi masih terasa jauh. Tidak terkoneksi -…

AES868 Pesta Literasi
Tulisan ini agak terlambat munculnya. Terlambat karena memang belum bisa meluangkan waktu di tengah seminggu keriuhan Festival Literasi. Kemudian juga karena perlu waktu untuk mengendapkan berbagai proses dan pengalaman untuk bisa dituangkan ke dalam esai pendek. Berevolusi dari Festival Buku (Fest…
