AtomicEssay

AES410 JurnalSumba#9 Budaya Sumba

Andy Sutiosopenulis arsip4

Sebagai daerah yang belum banyak tersentuh pembangunan, hal-hal yang secara kultural sejak awal dimiliki, masih banyak yang hidup di Sumba. Dalam banyak hal, tradisi dan nilai-nilai asli budaya lokal juga jadi faktor penghambat bagi kemajuan Sumba. Tapi di sisi lain, masih banyak hal yang hidup dan dihidupkan oleh masyarakat Sumba. Hal ini sangat menarik buat saya. 

Sedikit menyimpang dari tulisan ini, saya jadi teringat obrolan saya dengan Andre (ayah Arfa) yang sempat mengungkapkan bahwa salah satu bidang ilmu terpenting di Indonesia adalah antropologi (dan juga sosiologi) karena Indonesia sangat kaya dan beragam khasanah budaya dan kemasyarakatannya - dan perlu pendekatan-pendekatan tertentu supaya segala ikhtiar pembangunan bisa berjalan selaras dengan nilai-nilai yang dihayati di masyarakatnya. 

Kembali ke topik di atas, Sumba memang masih sangat kental tradisi dan adat istiadatnya. Yang paling kentara adalah bagaimana makam (kuburan) dari anggota keluarga terlihat jelas dibangun di halaman depan rumah masyarakat sama. Kematian berarti sangat dekat dengan kehidupan mereka. Sangat-sangat dekat. Buat kita yang tinggal di kota besar, orang-orang yang telah meninggal dunia ditempatkan di pemakaman tertentu, terpisah dari kehidupan kita sehari-hari. Di budaya tertentu, termasuk di agama saya, orang yang telah meninggal dikremasi dan abunya ditempatkan di Kolombarium (tempat penyimpanan abu) yang ada di dekat gereja atau di tempat khusus. Masyarakat tionghoa jaman dulu punya meja abu, tempat menyimpan abu leluhur dan keluarganya sehari-hari menyalakan wangi-wangian dan menyiapkan sajian bagi arwah leluhurnya. Kematian ditempatkan sangat dekat dengan kehidupan masyarakatnya, seperti di Sumba. 

Foto di atas saya ambil di Prai Ijing, deretan kubur batu megalitikum yang terletak di luar perkampungan. Di Sumba, semakin tinggi strata seorang warga di masyarakatnya, semakin besar kubur batunya. Salah seorang raja di Sumba Timbur katanya tutup makamnya dibuat dari batu utuh yang beratnya mencapai 60 ton, dan batu itu dipindahkan dari tempat penambangan ke tempat pemakamannya menggunakan tenaga manusia. Karenanya biayanya sangat-sangat mahal. Karena adat istiadat ini masih dipegang teguh, hal ini juga yang membuat kesejahteraan masyarakat Sumba sulit berkembang. Setiap upacara, yang menyelenggarakan upacara maupun tamu harus menyiapkan hewan kurban - kerbau, atau babi - yang harganya sangat mahal, bisa mencapai puluhan juta rupiah. Masyarakat sumba sampai hari ini masih lebih mementingkan upacara dan nilai-nilai adat masyarakatnya dibandingkan pendidikan anak-anaknya. Pendidikan, kesejahteraan, dan kebudayaan masih menjadi dua kutub kepentingan yang bertolak belakang dan belum bisa ditempatkan secara seimbang di dalam dinamika kehidupan masyarakat Sumba di abad ke dua puluh ini. 

bersambung ke esai selanjutnya. 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES606 Disada menyapa Maumere

Cita-cita Semi Palar untuk ikut memberikan warna kepada dunia pendidikan di berbagai sudut Indonesia kembali mendapatkan ruangnya. Kali ini Semi Palar melalui tim Smipa Disada, berkesempatan untuk hadir di Maumere, Flores, NTT. Satu lagi tempat di Indonesia Timur yang bisa kami kunjungi dan di sana…

Andy Sutioso00
AtomicEssay

AES545 Mendamping Berangkat ke Sumba

Ini kali kedua Semi Palar, melalui tim Smipa Disada mendampingi persiapan mahasiswa peserta PMD3T yang merupakan mata kuliah pilihan yang diselenggarakan oleh Jurusan Matematika Unpar. Secara kelembagaan ini adalah kolaborasi antara Smipa Disada dan Jurusan Matematika Unpar - untuk tahun ke dua pen…

Andy Sutioso20
AtomicEssay

AES485 Membersamai Pengajar Muda

Subuh tadi saya berangkat ke Jakarta untuk berjumpa sekelompok anak muda yang sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke berbagai tempat di Indonesia. Mereka akan membaktikan satu tahun waktu enerji dan upaya mereka untuk mendamping belajar anak-anak di berbagai sekolah di Indonesia. Gerakan Indo…

Andy Sutioso20