AES507 Keterbatasan dan Pengelolaan

Kali ini mau menulis singkat tentang pengelolaan - yang bahasa kerennya manajemen. Tulisan ini memang bahan pengamatan dan tentunya berdasarkan pengalaman juga. Sederhananya simpulan saya begini : manusia akan pandai mengelola kalau sering berada dalam kondisi keterbatasan (limitation). Kalau terus-terusan berada dalam situasi kebercukupan bahkan keberlimpahan (abundance), lalu apa perlunya mengelola? Akhirnya karena tidak terbiasa, akhirnya ya manusia jadi tidak pandai mengelola. Kalau semua serba cukup bahkan berlimpah, lalu apa perlunya saya mengirit? Apa perlunya saya mengatur prioritas dan lain sebagainya?
Saya ingin menambahkan cerita yang saya dapat dari ibu Widiastuti - asesor akreditasi yang belum lama ini hadir di Semi Palar. Beliau sempat bertanya apakah orang tua tidak protes atau setidaknya khawatir dengan proses pembelajaran yang dirancang, khususnya yang membawa anak-anak mengeksplorasi ke berbagai tempat yang jauh dari sekolah, ke alam atau ke tempat-tempat lainnya. Kami jawab ya semestinya orangtua sudah paham karena ini adalah bagian dari pembelajaran holistik di Semi Palar. Ada banyak kata kunci dari proses tersebut, eksplorasi, kemandirian, penyesuaian diri (adaptasi) pengenalan, pengelolaan diri dan sebagainya. Belum lagi soal belajar bersosialisasi, saling jaga antar teman, mencoba hal baru dan seterusnya, dan seterusnya. Intinya perjalanan atau penjelajahan selalu jadi ruang untuk belajar pengelolaan yang luar biasa karena kita berjauhan dengan segala keleluasaan fasilitas yang biasa kita dapatkan saat kita ada di rumah (atau ada di sekolah).
Yang lebih menarik adalah cerita bu Widi. Bahwa di sekolah anaknya sempat ada kegiatan perkemahan di Cibubur. Beliau cerita bahwa di tengah-tengah kegiatan ada orangtua yang datang ke lokasi dan mengirimkan galonan air mineral. Yang di luar dugaan - dan ini membuat saya dan kakak-kakak nyaris ga percaya - adalah bahwa air yang dikirimkan itu diperuntukkan untuk keperluan mandi. Jujur saya bengong dan bingung mendengar cerita itu. Lalu anak belajar apa dari situasi itu? Apa yang ditangkap anak dari pengalaman tadi?
Saya pikir ini sangat perlu dipahami oleh para orangtua - dalam konteks pendidikan anak-anaknya - terutama di ruang belajar yang seperti Semi Palar - yang tujuannya adalah menumbuhkan diri anak secara utuh. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman sekaya mungkin - supaya pemaknaan dirinya dan semesta di luar dirinya juga semakin kaya.
Photo by Timur Weber from Pexels: https://www.pexels.com/photo/packing-suitcase-for-traveling-9186152/
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES06 - Belajar terus mengelola emosi
Hari kemarin, saya mengikuti kegiatan Lingkar Belajar (LB) yaitu pengelolaan emosi kakak. Yang mana, LB tersebut bertujuan untuk belajar dan mengingat kembali bagaimana mengelola emosi saat menjalankan amanah di keseharian, memang bagi kakak fasilitator di Smipa yang memiliki misi tidak hanya trans…

AES 355 Be True To Yourself
Siapapun yang sesekali baca segala bentuk ocehan saya, pasti sudah tahu bahwa saya dari keluarga sederhana yang semasa kecil dibesarkan di kampung dengan segala macam keterbatasan. Segala bentuk keterbatasan itu tentunya punya banyak dampak terhadap karakter, personality, kepercayaan diri dan lain…
joefelus62AES001 Ketakutan dan Keyakinan
Menulis mungkin sesuatu yang belum terbiasa saya lakukan, biasanya saya menulis hanya sekedar tulisan pribadi saja bukan tulisan yang di publikasikan heheh. Rasanya jika tulisan sendiri di publikasikan banyak sekali ketakutan, tidak percaya diri jika tulisan sendiri yang random dibaca oleh khalayak…


