AtomicEssay

AES551 Duka Cita (Grief #2)

Andy Sutiosopenulis arsip2

Hari Minggu lalu saya meluncur ke Jakarta untuk menjemput Lyn yang sedang menemani mama yang kondisinya sangat tidak menentu. Rencananya saya berangkat pagi hari dan pulang ke Bandung sore hari. Sampai sore, kondisi mama tampak sangat tidak stabil. Akhir kami menunda rencana pulang ke Bandung menjadi hari Senin subuh - sambil memastikan kondisi mama lebih stabil. Mama mertua sakit sudah sejak 5 minggu yang lalu. Kondisi beliau terus menurun - semakin melemah. Tapi kami semua mengenal mama itu fisiknya kuat sekali. Karenanya beliau di akhir bulan Juli ini akan menginjak usia yang ke 95 tahun. Beliau memang dianugerahi usia panjang. Juga sebuah anugerah yang sangat disyukuri. 

Tuhan ternyata punya rencana lain, Mama pergi kembali ke pangkuan Sang Pencipta Senin dini hari pukul 02.02 - dengan tenang di dalam tidurnya. Mama berpulang dengan sangat indahnya - di dalam damai... 

Tentunya sedih tidak terhindari - tapi di sisi lain, pada saat mama berpulang saya lebih banyak merasa bersyukur. Lega, karena sejak 5 minggu yang lalu kondisi badan mama terus melemah dan di minggu-minggu terakhir harus dibantu dengan masker oksigen untuk membantu pernapasannya. Makan sudah melalui sonde dan lain sebagainya. Pertanda bahwa badan mama sudah tidak lagi mampu menyokong hidupnya secara mandiri. Sudah 7 tahun juga mama harus berbaring dan mengandalkan bantuan orang lain untuk berbagai kebutuhannya. Ada duka, tapi ada rasa kebersyukuran atas kepergian mama saat itu. 

Rasa sedih saya justru meluap saat menjelang peti jenazah mama ditutup. Saya tidak bisa menahan emosi saya muncul ke permukaan. Entah apa penyebabnya. Apakah karena saya sempat membacakan tulisan saya - saat diminta membawakan kesaksian tentang mama saat misa Tutup Peti. Mungkin juga. Tapi saya tidak tahu, tapi kesedihan memang melanda diri saya di saat itu. 

Tulisan pertama saya yang senada dengan judul yang sama - Grief - saya tuliskan sewaktu mengenang 5 tahun kepergian adik saya. Saya kira perasaan sedih kita mencerminkan seberapa dekat individu tersebut dengan diri kita. Semakin dekat, tentunya semakin besar rasa duka atas kehilangan kita. Demikian catatan saya tentang kepergian mama mertua. Saya pikir, duka cita kita adalah salah satu bentuk juga merayakan kehidupan. Rasa syukur tentunya adalah satu cara kita merayakan kehidupan, kedukaan juga sama, karena rasa duka kita menggambarkan makna yang hadir dari orang yang meninggalkan kita di kehidupan ini. Rasa duka kita adalah cara kita merayakan kehadiran mereka di dalam kehidupan kita. 

Foto Cover : Margaretha Inka 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES873 Sepuh

Tulisan @joefelus belakangan ini memantik lagi satu topik yang sempat ingin dituliskan tapi teralihkan oleh hal lainnya. Beberapa tulisan Joe bercerita tentang ayahnya yang berbaring karena sakit dan karena usianya yang sudah lanjut. Beberapa tahun yang lalu, ibu mertua saya meninggal di usia 95 ta…

Andy Sutioso31
AtomicEssay

AES835 Seperti Keluarga

Entah karena namanya Rumah Belajar, perasaan bahwa tempat ini adalah rumah, dan warganya adalah keluarga sangat terasa setidaknya buat saya. Walaupun begitu, saya amati juga bahwa hal yang sama sepertinya dirasakan juga oleh banyak warga Smipa yang lainnya. Ada perasaan kedekatan dan kebersamaan ya…

Andy Sutioso00
AtomicEssay

AES610 Volunteering

Ini bukan cerita tentang saya tapi tentang pengalaman kedua anak saya, Inka dan @rico yang sekarang sedang berdomisili di Jerman. Beberapa hari di sekitar Natal masuk pesan di grup keluarga kami bahwa daerah di sekitar tempat tinggal mereka di Hanover dilanda banjir. Ya bukan hanya di Indonesia yan…

Andy Sutioso40