AtomicEssay

AES565 Tak Kenal maka Tak Sayang #2

Andy Sutiosopenulis arsip2

Kalau kita tidak pernah bersentuhan secara dekat dengan alam, sulit untuk punya rasa sayang terhadap alam. Sederhana sekali formulanya. Kita sering dengar ungkapan Tak Kenal maka Tak Sayang. 

Perkembangan peradaban manusia sampai hari ini membawa manusia semakin berjarak dengan alam. Karenanya manusia semakin tidak paham betapa pentingnya menjaga alam. Manusia pergi ke alam hanya untuk berrekreasi atau mencari hiburan - istilahnya healing - dan juga untuk berfoto-foto belaka. Alam hanya jadi latar belakang foto untuk menunjukkan "I've been here, or I've been there" untuk update status di medsos. Pergi ke alam tapi tanpa interaksi yang cukup mendalam dan karenanya manusia tetap tidak terkoneksi dengan alam. 

Sepulang liburan, manusia kembali ke dalam kotaknya di dalam ruang-ruang tertutup di kota, bernafas dari udara sintetis dan minum air dalam botol-botol kemasan. Duduk-duduk di rumput buatan dikelilingi dekorasi tanam-tanaman dari plastik yang dibuat di pabrik. Manusia berjarak dengan alam karenanya manusia tidak paham juga pentingnya menjaga kelestarian alam. Manusia berpikir segala teknologi yang dibuatnya membuatnya bisa lepas dari alam. Lupa pada fitrahnya bahwa manusia adalah bagian dari alam dan siklus alamiah yang terus bergulir. Ironisnya dengan segala kepandaiannya, manusia merasa mampu memanipulasi segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Kesadaran untuk menyayangi dan menjaga alam harus muncul dari rasa. Seperti halnya kita menjaga orang-orang yang dekat dengan kita, orang-orang yang kita sayangi. Rasa akan muncul dari seringnya kita berinteraksi secara dekat dengan alam. Sekedar mengapresiasi, mensyukuri segarnya udara pagi, hangatnya mentari dan hembusan angin di wajah kita. Menyapa pagi, menantikan mentari muncul di ufuk Timur dan merindukan bintang di langit adalah rasa yang perlu kita jaga dan terus munculkan dalam alam batin kita. 

Dalam kesadaran ini pulalah berbagai bentuk kegiatan di Semi Palar dirancang. Termasuk juga mengajak keluarga Semi Palar untuk pergi Niis Ka Gambung, untuk merayakan kehidupan, manusia dan alam sekitarnya. Merasakan dinginnya hawa pegunungan, melihat matahari terbit dan terbenam, melihat pendar cahaya bintang, menghirup segarnya udara gunung, menginjakkan kaki di lumpur dan batuan sungai yang dialiri derasnya aliran air yang belum lama dilepaskan dari mata air yang menjadi sumbernya. Kemewahan yang sulit didapatkan di dalam sumpeknya kehidupan kota.

Semoga semakin banyak yang bisa berpartisipasi. Mari lebih banyak bersentuhan dengan alam, karena dengan alam yang lestarilah kita bisa terus merayakan kehidupan. Salam  

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES594 Niis: Smipa Banget!

Catatan singkat untuk keberangkatan keluarga Semi Palar ke Gambung dalam konteks ikhtiar kolaborasi PPM dan Semi Palar CoOp. Ini adalah keberangkatan Niis yang ke tiga. Pesertanya bervariasi, ada peserta yang pergi kembali ke sini, juga beberapa peserta baru. Melibatkan juga orangtua lama dannorang…

Andy Sutioso40
AtomicEssay

AES554 Ke Gambung Merayakan Kehidupan

Selamat pagi semesta. Semoga tulisan ini bisa menjelaskan lebih jauh tentang Merayakan Kehidupan. Tema yang kita coba angkat bersama di Tahun Pendidikan ke 19 di Semi Palar. Selama ini sekolah banyak dipahami sebagai proses yang berjalan terpisah dari dinamika kehidupan. Sekolah adalah bagian dari…

Andy Sutioso21
AtomicEssay

AES624 Langkah Pertama

Tulisan hari ini cukup spesial karena dituliskan bersama kak @matheusaribowo, @yantisuryanii7, @innocentiaine dan @sukarma di Nakara Cafe. Sore ini kita nulis bareng, ngopi AES ceritanya. Ngopi AES ini sudah lama banget ga kita jalankan, terakhir di tanggal 27 September 2023 di cafe Haloa. Kemudian…

Andy Sutioso62