AES61 Kurikulum Indonesia & Patriarki

Karena tulisanku yang kemarin aku jadi kepikiran, ternyata masih banyak sekali kurikulum atau pelajaran yang sangat patriarkis hingga saat ini. Yang membuatku lebih heran lagi kenapa belum banyak orang yang membahasnya. Contohnya, materi hak dan kewajiban dalam keluarga yang aku bahas kemarin. Aku masih inget jelas, saat aku membaca bagian kewajiban ayah ada tulisan menjadi penaggungjawab keluarga, menjadi contoh yang baik, dan menjadi sumber ekonomi keluarga. Di sisi lain pada tanggungjawab ibu/istri isinya mendengarkan suami, mengurus anak-anak, mengurus urusah rumah tangga.
Tadi pagi aku pun melihat satu video di instragram. Ada seorang perempuan yang membahas soal ujiannya, di soal tersebut ada satu pertanyaan, pertanyaannya adalah “Apa pekerjaan anak perempuan di rumah?” Dan saat ia melihat kunci jawaban dari gurunya, jawabannya adalah mencuci piring. Aku nggak ngerti aja sih, kok bisa materi atau soal kayak gini masih ada, ini 2021. Menurutku harusnya sudah cukup banyak orang yang tahu bahwa mencuci piring bukan sebatas pekerjaan anak perempuan.
Pendidikan dan sekolah harusnya memberikan materi dan informasi yang dapat mendukung seluruh siswa siswi untuk berkembang. Bukan malah merendahkan perempuan, dan mengagung agungkan laki-laki. Dengan adanya materi seperti itu, nggak heran sih kenapa banyaknya anak-anak yang pemikiran nya sangat patriarkis. Bagaimana negara kita bisa maju jika kurikulum sekolah aja masih ada yang kayak gini.
Something has to change, we need to empower women and promote gender equality. By doing that we are helping girls and women (which is literally half of our population) to progress and to reach their full potential. We never know what can this other half of the population contribute to our society if we don’t empower and facilitate them.
"When women are educated, their countries become stronger and more prosperous" - Michelle Obama
picture: https://id.pinterest.com/pin/20969954506360759/
Komentar (4)
Bagus sekali gugatannya, Saski! Kurikulum pendidikan di Indonesia masih butuh banyak perbaikan. Sangat kompleks situasinya karena menyangkut banyak hal termasuk pendidiknya di lapangan yang jauh dari siap! Bersyukurlah sekolahnya di Smipa karena sebab-sebab yang sangat mudah diterka. Kondisi Patriarkis juga masih butuh waktu sangat lama untuk berubah karena banyak faktor budaya, soasial, agama dan sebagainya. Yang jelas butuh banyak penggugat seperti Saski yang menjadi penggerak perubahan!
Thank you Om Joe :)
Hahaa... Gandhi said, be the change you want to see in the world....
Sepakat Saski... Banyak sekali yang masih harus diperbaiki di Indonesia... Dan marilah melakukan sesuatu, daripada mengutuk kegelapan, mari kita menyalakan lilin... Lewat menulis ini, Saski juga sudah melakukan sesuatu - karena membangun kesadaran - mengingatkan kita yang sempat membaca tulisan ini. Mantap!
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES785 Pemimpin yang Holistik
Saya sempat menulis sebuah esai tentang siapa penerus Jokowi. Saat itu seingat saya masih di ujung periode pertama pemerintahan Jokowi, waktu itu Jokowi masih lurus arahnya dan masih bener langkah-langkahnya. Jadi saat itu saya sangat berharap ada sosok yang bisa menggantikan Jokowi dengan kinerja…

AES616 Kedekatan
Duh saya tidak bisa menolak keinginan saya untuk menulis tentang hal ini, tentang kedekatan. Foto yang saya temukan saat mengikuti sebuah channel youtube ini segera menarik perhatian saya, dan dengan segera menusuk ke batin saya. Tidak bisa tidak saya terharu meliat foto ini. Inilah gambaran kedeka…

AES606 Disada menyapa Maumere
Cita-cita Semi Palar untuk ikut memberikan warna kepada dunia pendidikan di berbagai sudut Indonesia kembali mendapatkan ruangnya. Kali ini Semi Palar melalui tim Smipa Disada, berkesempatan untuk hadir di Maumere, Flores, NTT. Satu lagi tempat di Indonesia Timur yang bisa kami kunjungi dan di sana…



