AES686 Merah Putih: Dikibarkan atau Dibiarkan

Entah kenapa, perasaan saya di tanggal 17 Agustus - peringatan hari kemerdekaan Indonesia ini tidak seperti biasanya, saya merasa datar-datar saja, bahkan untuk ikut merespons grup-grup WA mengenai kemerdekaan Indonesia tahun ini saya tidak punya semangat. Ada beberapa alasan yang bisa diceritakan, saya coba tuliskan di sini.
Kali ini saya mau menulis soal bendera Merah Putih. Sekarang ini setiap rumah, bangunan atau instansi, diminta mengibarkan bendera merah putih sebulan penuh. Sejak tanggal 1 sampai dengan tanggal 31 Agustus. Supaya meriah mungkin ya. Tapi ya justru ini yang jadi pemikiran saya. Kemeriahan yang seperti apa, yang bagaimana? Ada apa di baliknya? Ini saya pikir sangat terkait oleh apa yang disampaikan oleh kang Aat Soeratin - tentang perayaan dan pengkhidmatan.
Beberapa waktu terakhir ini saya sedang banyak berpikir dan merenungkan tentang spirit. Nah bagaimana merayakan sesuatu erat kaitannya dengan ini. Kembali ke soal bendera merah putih. Saat di kepramukaan dulu, saya diajari betul bahwa Bendera Merah Putih adalah sesuatu yang sakral dan perlu dijaga. Bendera ini dikibarkan - sebagai tanda kedaulatan negara dan bangsa, tapi juga sekaligus harus dijaga dan dilindungi. Karenanya setiap matahari terbenam, bendera harus diturunkan, dilipat dengan rapi dan disimpan di aman tempat terhormat di dalam rumah kita.
Saat di kepramukaan, apapun yang kita lakukan, saat bendera tertiup angin dan terjatuh, semua menghentikan kegiatan dan berlari untuk kembali menegakkan bendera yang jatuh. Selalu. Tanpa kecuali. Jangkan bendera merah putih, bendera barung ataupun bendera regu adalah simbol harus dijaga - dengan kehormatan kita. Bendera barung atau regu selalu kami bawa pulang bergantian setelah latihan dan harus dibawa kembali di minggu berikutnya. Kalau bendera itu jatuh, kotor atau tertinggal saat berada dalam tanggung jawab kita, kita harus melakukan push-up di hadapan anggota regu atau barung sebagai pertanggung jawaban atas kelalaian kita. Begitulah saya memahami dan memaknai bendera.
Sejak saya masuk di kepramukaan, ayah saya selalu menempatkan saya bertanggung jawab menaik-turunkan bendera di rumah kami. Saat menjelang peringatan 17 Agustus, bendera dikeluarkan di tempat penyimpanannya, setiap pagi saya harus menaikkan bendera, menurunkannya kembali menjelang malam. Saya menghayatinya sebagai cara kita menghormati dan menjaga bendera merah putih di rumah kita. Dalam proses mengibarkan dan menurunkan benderalah kita bisa mendapatkan maknanya.
Sekarang apa jadinya? Bendera kita kibarkan pada tanggal 1 Agustus sampai akhir bulan. Bendera terpapar panas, kehujanan, pagi, siang dan malam... Apakah kemudian kita jadi memaknai bendera merah putih itu? Sepertinya tidak, yang terjadi kita hanya membiarkannya di atas tiang bendera... Saya berani bertaruh, lepas dari bulan Agustus, banyak orang yang lupa bahwa ada bendera merah putih yang berkibar di depan rumah...
Kita tidak lagi mengibarkan bendera merah putih tapi sekedar membiarkannya. Menyedihkan sekali. Saya jadi meragukan apakah pemerintah yang mencanangkan hal ini juga memahami hal ini. Tanda tanya besar. Ini salah satu hal yang sedang sangat jadi perhatian saya akhir-akhir ini - sudah cukup lama tapi memang baru kali ini saya menuliskannya di sini. Semoga tulisan ini bermanfaat.
sumber gambar : https://www.suara.com/news/2023/08/04/110000/
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES843 Mendapat Apresiasi 2
Tulisan receh pagi ini. Foto di bawah ini adalah foto saya yang terpilih oleh Pexels dan difiturkan (featured) di platform tersebut. Sudah ada beberapa foto saya yang terkurasi dan difiturkan. Kali Ini sedikit lebih menarik karena momentumnya. Email notifikasi saya terima sehari setelah saya postin…

AES842 Menantikan 17+8 di tahun 2025
Hari ini hari yang bakalan bersejarah bagi bangsa dan negara Indonesia. Dalam lingkup yang sangat makro, siklus kesemestaan, ini juga akan jadi menarik apakah memang secara kolektif kita semua sebagai bangsa akan beralih ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi - seperti yang kita coba pahami akhir-a…

AES841 Merangkai Doa untuk Indonesia
Setelah dua hari Semi Palar menjalani Pembelajaran Jarak Jauh, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan paska terjadinya rangkaian demonstrasi di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Bandung. Kota kita tercinta. Tulisan ini memang satu rangkaian dengan tulisan sebelumnya tentang burung Garuda y…
