AES75 tahun ke 17
17 tahun berada di antara keluarga besar Smipa. Besar itu relatif, karena Smipa termasuk sekolah yang mungil. Yang membuat terasa besar untukku, sepertinya lebih pada dinamikanya, olahannya, interaksi dengan individu yang terlibat di dalamnya. Bila diingat kembali tahun demi tahun, dalam pandanganku perjalanannya tak jauh beda dengan perjalanan mendewasa seorang anak. Melewati masa kanak-kanak yang indah dan bahagia, pertumbuhan berpusat pada fisik. Pengalaman-pengalaman bermain, eksplorasi, belajar yang seru dan menyenangkan. Sangat percaya diri, ingin membuktikan diri dan yakin dengan kemampuan-kemampuan baru yang dikuasai. Memasuki masa pra remaja, banyak fenomena yang juga mirip-mirip dengan anak seusia itu. Mulai menyadari bahwa dirinya berdiri sendiri. Kadang merasa perlu membandingkan diri, Kadang ragu. Kadang canggung. Kadang sibuk dengan keinginan terus berkembang. Banyak hal berkecamuk dalam diri, banyak pertanyaan tak terungkap, tapi terus bertumbuh menemukan diri lewat berbagai peristiwa. Di masa remaja, seolah mengalami pubertas, banyak pula perubahan dalam dirinya. Ada masa penuh galau, diwarnai konflik dan kekhawatiran. Lalu ada masa tenang dan anggun, hingga memasuki masa mendewasa. Mungkin kalau bisa bercerita, tidak ada hari yang serupa. Setiap hari punya cerita bahagia dan mengharukan, tantangan dan kesulitan, capaian dan keberhasilan, drama dan kehebohan yang membuatnya hidup.
Mungkin ini cocoklogi versi ku saja, dengan intensitas keterlibatan dan bertumbuhnya kedua anakku di sini. Tapi mungkin juga yang membuatnya terasa manusiawi sekali untuk aku adalah kenyataan bahwa ada banyak dinamika kehidupan di dalamnya. Ada harapan, cita-cita, semangat dan upaya untuk anak-anak yang berproses di sini. Ada kasih, kesediaan berupaya, keinginan untuk memberi yang terbaik dari anak, kakak dan orangtua. Meski yang sebaliknyapun ada. Di sisi lain, kalau diibaratkan manusia, mungkin ada pula kesalahan, kealpaan yang terjadi disadari ataupun tidak. Mudah-mudahan untuk itu dibukakan pintu maaf.
Aku sendiri banyak menemukan kepingan diri di Smipa. Banyak pertanyaan muncul yang kemudian terjawab seiring waktu. Terus belajar di manapun ditempatkan. Memang bawaan nama yang dipilih tampaknya, Rumah Belajar buat semua.
Salam dengan penuh syukur atas perjalanan Smipa menapaki tahun ke 17.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES82 stasiun tabebuya
Hari cerah, separuh jumlah teman Gatrik dan kedua kakak membuka hari pertama bertemu di tahun ajaran ini dengan waktu hening di lapang rumput. Mereka duduk tenang di tengah udara segar ruang terbuka, di hamparan rumput hijau. Disambung doa dan obrolan pagi. Senang sekali bisa melihat interaksi lang…

AE08 Makna Semi Palar?
Kemarin saya mendapat kabar bahwa 21 September 17 tahun yang lalu tersematkanlah nama Rumah Belajar Semi Palar di sebuah bangunan yang berada di ujung Jalan Sukamulya. Saya pun baru tahu bahwa Semi Palar memiliki makna tumbuh menjadi harapan, yang mana nama tersebut menjadi identitas, jati diri dan…

AES002 Kenapa Kisah Sulit Selalu Lebih Membekas?
Jujur, pemikiran ini tiba-tiba lewat di kepalaku setelah aku selesai membaca ulang buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela dan Laskar Pelangi. Aku ngerasa ada perbedaan perasaan yang lumayan kontras setelah membaca kedua buku itu. Di buku Totto-chan, walaupun sekolah mereka emang unik dan punya tan…
Nawwa22
