AtomicEssay

AES951 Siap Bersekolah

Andy Sutiosopenulis arsip2

Pagi ini di ruang tempat kami berdiskusi - berkoordinasi, terdegar suara tangisan seorang anak. Hari Selasa ini kami baru memasuki hari ke lima bersekolah, di TP ke 22 ini. Mengamati sebentar, sepertinya ini terjadi karena kenyamanan teman baru ini di rumah barunya. Murid di TK-A yang masih perlu waktu untuk merasa yakin bahwa Semi Palar adalah tempat yang nyaman dan aman untuk dirinya beraktivitas lepas dari kehadiran orangtuanya. 

Sudah jadi keyakinan kami bahwa Semi Palar harus jadi ruang yang aman untuk teman-teman berproses menumbuh kembangkan dirinya. Rasa aman dalam diri setiap individu tentunya tidak otomatis hadir - dan ini sangat relatif dari individu ke individu. Saat seorang anak belum bisa merasa aman dan nyaman - waktu yang cukup perlu diberikan sampai ia menemukan bahwa tempat yang baru ini adalah tempat yang nyaman untuk dirinya bersama teman dan kakak pendamping di kelas.

Salah satu pengalaman kami di Semi Palar, ada seorang anak di TK-A yang perlu waktu 3 bulan agar ia menemukan keyakinan bahwa ruang kelas, teman-teman dan kakak adalah ruang yang nyaman dan aman bagiku untuk belajar dan berproses sehari-hari. 3 bulan. Di hari pertama, minggu pertama, si kecil ini tampak masih sangat lekat dengan ibunya. 

Saya sempat menyampaikan kepada ibunya, jangan-jangan si kecil ini belum siap sekolah. Tapi ibunya bilang, "Oh ngga ka Andy, dia itu setiap pagi semangat sekolah - hanya masih minta saya menemaninya". Saya bilang, "Oh gitu ya. Ibu sendiri bagaimana? Apakah punya waktu menemani si kecil?". Ibunya mengiyakan. Dan demikianlah proses itu berjalan tiga bulan lamanya. Pertama di dalam kelas, kemudian ibunya bergeser duduk membaca buku di depan pintu kelas, kemudian bergeser lagi menjauh, sampai akhirnya menunggu di area depan kantor. 

Tepat di akhir bulan ke tiga, ibunya mengantar si kecil ke Smipa - seperti biasa. Di rumah dan di perjalanan tidak ada yang berbeda. Sampai ibunya hendak memarkir kendaraan, si kecil bilang, "Ibu, ibu pulang aja... Ini kan sekolah aku, aku bisa sendiri"... Ibunya sempat bingung, terkejut sekaligus tidak percaya. Tapi anak itu membuka pintu mobil, turun, dan berjalan masuk ke area sekolah tanpa menoleh lagi ke belakang... Mungkin ia sudah menemukan bahwa ini adalah tempat yang baik buat aku... 

Pengalaman pribadi untuk anak saya yang sulung - sangat berbeda. Di sebuah sekolah swasta yang jadi pilihan kami, orangtua diberi waktu hanya 1 minggu untuk menemani anak di sekolah. Di hari terakhir minggu pertama itu, lonceng berbunyi, anak-anak diarahkan masuk kelas, orangtua diminta menunggu di luar. Anak saya mendengar lonceng tersebut sudah merasa gelisah. Tangannya memeluk kaki saya erat-erat. Wajahnya cemas. Tidak lama seorang guru datang dan membujuk anak saya masuk kelas. Anak saya menolak. Guru tadi akhirnya memegang badan anak saya dan menariknya dari kaki saya, memaksanya masuk kelas. Anak saya meronta-ronta dan berontak. Wajah sang guru menatap saya dan bilang, bapak silakan tunggu di luar. Saat itu hampir semua orangtua sudah berada di luar pagar. Saya salah satu yang terakhir keluar area sekolah. Lalu pintu gerbang ditutup dan gerbang tersebut digembok dari dalam...

Duh sampai hari ini saya masih ingat dengan jelas peristiwa itu... Peristiwa yang membuat saya merenungkan dalam-dalam apa itu sekolah. Kenapa anak saya harus punya pengalaman semacam itu. Tidak lama, empat bulan kemudian, anak saya mogok sekolah... Beberapa waktu setelah itu saya - entah kenapa menemukan Majalah Basis (terbitan Kanisius Jogja) yang judulnya dituis besar-besar di halaman depan "Sekolah atau Penjara"... 

Rumah Belajar adalah kata yang dipilih untuk membuat rumah ini betul-betul rumah kedua. Rumah yang memberikan rasa aman bagi teman-teman kecil belajar hari demi hari. Ketenangan, rasa nyaman dan kesenangan adalah faktor penting yang membuka sel-sel otak untuk mencerap berbagai pengalaman yang hadir. Karenanya ini jadi sangat penting... 

Dalam proses adaptasi anak masuk sekolah, kesiapan anak harus menjadi prioritas. Saat mereka merasakan bahwa hadir ke sekolah adalah sebuah paksaan, satu kendala besar untuk belajar dan berproses langsung muncul. Semi Palar secara sadar berusaha terus mengupayakan bahwa Rumah Belajar adalah rumah kedua untuk anak-anak. Saat ada satu - dua hal yang muncul dan menjadi kendala, guru dan orangtua perlu segera berkomunikasi untuk menemukan apa pemicunya. 

Semoga catatan pendek ini jadi catatan penting untuk proses kita bersama di Semi Palar di waktu-waktu mendatang. Salam.

Foto di atas ini adalah foto salah satu murid Semi Palar (angkatan kedua) di tahun-tahun awal penyelenggaraannya. 

Komentar (2)

Andy Sutioso

Wah belum tuntas sudah dilike... Baru saya tuntaskan ka Mamat.

Andy Sutioso

Minta ijin bu @vinca - foto jadul putrinya dipinjam untuk ilustrasi tulisan ini.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES621 Arogansi Intelektual

Judul di atas ini terpantik atas obrolan dengan salah seorang calon orangtua murid Semi Palar - dalam kesempatan beliau mengantar putrinya mengikuti proses Trial di Rumah Belajar Semi Palar. Teman ini satu almamater dengan saya di jurusan Arsitektur, dan sekarang mengajar di Jurusan Integrated Arts…

Andy Sutioso00
AtomicEssay

AES558 Belajar Sadar tentang Krisis Iklim

Bertahun-tahun saya mencoba berbagi tentang situasi kerusakan lingkungan dan mencoba berbagai hal untuk membangunkan kesadaran orang-orang terdekat - terutama keluarga dan di Rumah Belajar Semi Palar mengenai hal ini. Menjelaskan bahwa bumi kita, rumah kita sedang ada dalam keadaan bahaya - karena…

Andy Sutioso50
AtomicEssay

AES481 Berguru pada Kehidupan

Kalau kita diberi pilihan, belajar di sekolah atau berguru pada kehidupan, pilihan mana yang akan kita ambil? Sebelum menentukan satu dari kedua pilihan tersebut, apakah kita betul-betul memahami makna di balik kedua pilihan tersebut? Mundur satu langkah lagi, apakah sebetulnya tujuan mendasar dari…

Andy Sutioso10