AES960 Berguru pada Garpu

Meminjam tajuk pertunjukkan musik Abah Iwan beberapa waktu lalu di Rongga Budaya, Dusun Bambu, pagi di Ngobras ke 3 TP22 terjadi peristiwa yang gambarnya saya tempatkan di atas ini. Konser Abah Iwan bertajuk Berguru pada Alam, karena ya begitulah apa yang beliau sampaikan / ekspresikan di dalam konser, adalah berbagai pembelajaran yang bisa beliau tangkap selama puluhan tahun beliau keluar masuk hutan dan pegunungan.

Di Semi Palar kita mulai dengan sesuatu yang lebih sederhana - tapi prinsipnya sama... Di awal pertemuan Dini mengajak kita semua yang hadir untuk mengamati sebuah objek, garpu, apa adanya...
Mengungkapkan sesuatu tentang garpu dari apa yang diamati. Bukan atas kesimpulan, bukan atas pengalaman... Bergantian kita menyampaikan sesuatu tentang garpu itu dan kesimpulannya sangat menarik. Salah satunya adalah bahwa menyampaikan sesuatu apa adanya jauh lebih sulit daripada menjelaskan sesuatu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kita. Kita tahu garpu itu tajam karena mungkin pernah tertusuk. Kita tahu juga bahwa garpu itu temannya sendok dan alat untuk makan bakmie... Tapi perlu waktu lebih lama untuk menggambarkan bahwa garpu itu runcing, melengkung, kaku, mengkilap dan permukaannya bertekstur dan sebagainya...
Ternyata melihat dengan jernih, apa adanya adalah sesuatu yang tidak mudah. Begitulah salah satu pertanda lagi bahwa manusia terlalu dibalut pikiran-pikiran dan pengetahuannya. Sulit bagi kita untuk melihat apa adanya, sebagaimana anak-anak kecil melihat dunia di sekelilingnya... Manusia cenderung melihat segala sesuatu di sekelilingnya dengan berbagai lapisan, balutan pengetahuan dan pengalamannya... Karenanya menjadi sulit bagi manusia dewasa untuk selalu melihat segala sesuatu dengan antusiasme yang meluap-luap. Kita merasa sudah tahu banyak hal...

Saya ingin mengaitkan hal ini dengan video yang saya putarkan di Taki-taki TP22. Tentang bagaimana kemajuan teknologi semakin membutakan kita pada hal-hal di sekitar kita.
Video yang mengaitkan tentang Artificial Intelligence dengan Ancestral Intelligence - (kecerdasan para leluhur kita). Di dalam video ini disebut juga tentang kemampuan mengamati masyarakat tradisi yang disebut sebagai Ilmu Titen... Jadi nyambung banget kan apa yang jadi bahasan dan pengalaman di ngobras kali ini, apa yang disampaikan oleh abah Iwan dan video yang diproduksi kanal Youtube Renungan Ilmu.
Sekian posting saya kali ini... Menyambut Festival Literasi - seusai Selametan kita Kembali ke Akar, dan paska ngobras Melihat Lebih Jernih. Salam literasi buat semua. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Oh iya, tulisan ini juga jadi postingan perdana saya di platform Simpul ini.
Semoga berlanjut dan bisa semakin bermanfaat buat semua yang terkoneksi melalui platform ini.
Komentar (1)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES889 Gerbang Pikiran dan Ruang Batin
Masih nyambung sama pertemuan Bukan Ngobras tapi Tetap Ngobras beberapa hari yang lalu. Pagi ini saya baru punya kesempatan untuk menuliskan catatan tentang pertemuan kemarin - secara spesifik dalam konteks menrancang pijakan - dan kerangka (framework) agar pertemuan Ngobras di waktu-waktu mendatan…

AAS884 Pertemuan Para Pencari Makna
Ajaib!. Saya masih merenungkan pertemuan kemarin, ngobras #4 yang kemarin terjadi di ruang bengkel - Rumah Belajar Semi Palar. Coba aja direnungkan apa yang terjadi, dari mulai prosesnya, sampai ke obrolan apa yang terjadi kemarin. Mungkin saya kurang gaul, tapi sejauh pengalaman dan pencarian saya…

AAS883 Lapisan Kesadaran (2) | Menjelang Ngobras #4
Menjelang ngobras ke 4 besok, pagi ini setelah selesai melaksanakan waktu hening pagi, saya seperti biasa mencoba menemukan hal apa yang bisa jadi pembelajaran menemukan kepingan untuk melengkapi pembelajaran saya. Mencoba menemukan insights apa yang bisa membantu saya menjalani hari ini dan hari-h…

