AES11 'Ngadegkeun Saung'

Di awal petualangannya di kelas 6 SD TP22, teman Jawada memiliki misi untuk mengenal ragam ekosistem yang ada di Wana Kerlap Kerlip. Latar tempat Wana Kerlap Kerlip versi teman Jawada adalah sebuah talun atau food forest yang ada di daerah Jawa Barat. Mengenal talun sebagai tempat eksplorasi rasa ingin tahu yang berkaitan dengan ekosistem biotik dan abiotik serta mengenal lebih dalam tentang budaya dan kebiasaan orang Sunda. Di sana kami berkenalan dengan seseorang yang mengenal baik budaya dan kebiasaan orang Sunda serta ahli dalam bangunan tradisional yaitu Mang Unang (nama tokoh tema, nama asli Kang Asep dari Kebun Talun Sangkuriang).
Teman Jawada diperkenalkan ekosistem yang ada di sebuah talun, dengan buka wawasan tentang hewan yang tinggal di talun seperti luwak, kemudian buka wawasan tentang tanaman pangan dengan bercocok tanam di sekolah, untuk kemudian dikenalkan dengan kebiasaan orang Sunda. Mang Unang mengenalkan salah satu kebiasaan orang Sunda yaitu kuriak dan botram. Kuriak sendiri merupakan proses renovasi atau proses membuat sebuah bangunan yang dilakukan bersama-sama dengan bergotong royong saling membantu satu sama lain.
Hingga akhirnya teman Jawada diajak oleh Mang Unang untuk membuat sebuah saung yang akan dijadikan sebuah tempat berkumpul sebagai bagian dari kebiasaan orang Sunda. Saung ini nantinya akan dijadikan tempat berkumpul seperti botram (makan bersama), niis (santai), dan ngawangkong (ngobrol).
Proses pembuatan saung dilakukan bersama Mang Unang dan Pak Uhen. Mang Unang adalah arsitek dan kepala proyeknya sedangkan Pak Uhen mandornya. Mang Unang menemani prosesnya hanya di awal proses pembuatan rangka saung. Sambil membuat setiap bagian rangka saung, Mang Unang pun menjelaskan filosofi saung menurut orang Sunda. Kemudian teman Jawada melanjutkan kegiatan kuriak bersama Kakak dan Pak Uhen setiap hari Rabu dengan durasi 2 jam setiap minggunya. Hingga akhirnya pada tanggal 23 September 2026, saungnya sudah berdiri dan sudah bisa ditempati.
Agar keberadaan saung diberkahi oleh Tuhan YME, teman Jawada diajak untuk menyiapkan sebuah ritual 'Ngadegkeun' versi mereka sebagai rasa syukur karena saung sudah berdiri dan siap digunakan. Teman Jawada mengundang teman-teman SDB yaitu kelompok Maksuba (SD4) dan Nagasari (SD5). Kami memasak kudapan tradisional seperti bandrek, rebusan pisang, singkong dan ubi, serta lontong dan bala-bala. Setelah memasak, kami berkumpul di dekat saung, dengan rangkaian acara sebagai berikut :
10.30 - 10.45 : Pembukaan oleh MC dan penjelasan proses membuat saung
10.45 - 11.00 : Mengangkat saung - sebagai proses 'Ngedegkeun' : saung non permanen
11.00 - 11.30 : Pembacaan mantra dan menabur bunga di sekitar saung lanjut dengan doa
11.30 - 12.00 : Main bersama - turnamen bebentengan
12.00 - 12.30 : Botram dan doa pulang
Jika dilihat kembali rundownnya, seluruh kegiatan tersebut sepenuhnya mereka yang rancang. Kakak lebih banyak memberikan kesempatan kepada teman Jawada untuk mengelola kegiatan sesuai waktu yang sudah ditentukan. Kami pun melihat bahwa proses kuriak ini bukan hanya untuk kelas 6 saja, tapi lebih dari itu. Kami berkolaborasi antar SDB agar kegiatan Ngadegkeun lebih guyub, berkomunikasi dengan SDK agar saling terinformasi tentang ruang bermain baru, serta jadi ruang berinteraksi bagi Kakak dengan berbagai pihak.
Kami yakin, bahwa saung ini tidak hanya untuk kami, tapi untuk semua keluarga besar Smipa. Semoga berkenan!
Ada di Kompilasi:
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 006 - Hujan kembali turun
Hujan kembali turun di penghujung tahun ini, membersamai di bulan Oktober yang sendu. Padahal sudah bergaung kekhawatiran soal sedahsyat apa kekeringan akan terjadi di tahun ini. Dari sejak awal tahun 2026, petani sudah berbicara tentang fenomena El Nino baru yang cukup ekstrem; saking mencekamnya,…
angga10
AES024 "What are you up to?"
Ada masa ketika hidup sudah berada di jalur yang tepat, karier mulai terbentuk, pencapaian satu per satu terpenuhi, banyak hal berjalan sebagaimana mestinya.Namun ditengah semua yang tampak baik, perlahan timbul perasaan asing terhadap kehidupan yang di jalani. Seolah semuanya sudah sesuai, tetapi…

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…



