AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi

Halo teman-teman yang budiman,
lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.
Awalnya sederhana saja. Saya tidak sengaja menonton video debat pertama calon presiden 2024. Dari sana, saya mulai penasaran. Bukan hanya pada siapa yang paling benar atau siapa yang paling banyak mendapat tepuk tangan, tetapi pada cara mereka berbicara, menjawab, menyerang, dan membangun citra dirinya di hadapan publik.
Saya sendiri memang baru berusia 17 tahun. Tahun ini saya belum punya pengalaman memilih pemimpin dalam pemilu nasional, sebab kesempatan itu masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Tapi justru karena belum memilih itulah saya merasa bisa melihatnya dari jarak yang agak aman: sebagai penonton, sebagai pembelajar, dan sebagai seseorang yang sedang mencoba memahami bagaimana politik bekerja melalui bahasa.
Menurut saya, ada beberapa cara sederhana untuk menilai seorang pasangan calon.
Pertama, tentu saja rekam jejak. Apa yang pernah ia kerjakan? Jabatan apa yang pernah ia pegang? Bagaimana hasilnya? Politik tidak bisa hanya berdiri di atas janji, sebab janji adalah masa depan yang belum tentu datang. Rekam jejak adalah masa lalu yang bisa diperiksa.
Kedua, program. Apa yang ia tawarkan? Apakah masuk akal? Apakah program itu pernah diuji, diapresiasi, atau setidaknya punya dasar yang jelas? Sebab program yang terdengar indah belum tentu bisa berjalan, dan program yang tampak sederhana kadang justru lebih mungkin diwujudkan.
Ketiga, gaya komunikasi. Bagaimana seorang calon berbicara saat debat? Bagaimana ia merespons pertanyaan panelis? Bagaimana ia menanggapi serangan dari lawan politiknya? Di titik ini, kita bisa memakai kacamata retorika klasik: ethos, logos, dan pathos.
Ethos adalah soal kredibilitas. Logos adalah soal logika dan data. Pathos adalah soal emosi.
Dalam debat pertama itu, saya melihat Prabowo Subianto sebagai seorang storyteller. Ia tidak selalu masuk melalui pintu data yang rinci, tetapi sering masuk melalui narasi besar, emosi, ketulusan, identitas nasional, dan pengalaman personal. Gaya komunikasinya sangat kuat di wilayah pathos.
Pernyataan seperti “yang mengusung Pak Anies itu saya” atau penegasan bahwa ia tidak takut kehilangan jabatan, bagi saya, bukan sekadar kalimat biasa. Itu adalah bentuk komunikasi yang sedang membangun gambaran karakter. Ia tidak sedang semata-mata menyodorkan angka, melainkan sedang menampilkan dirinya sebagai sosok senior, lapang dada, nasionalis, dan seolah-olah tidak terlalu terikat pada ambisi pribadi.
Di panggung debat, strategi seperti ini kuat sekali.
Sebab publik tidak selalu mengingat data. Publik sering lebih mudah mengingat momen. Satu kalimat pendek, satu gestur, satu ekspresi wajah, atau satu potongan video berdurasi lima belas detik bisa jauh lebih mudah menyebar daripada penjelasan kebijakan publik yang rumit. Di era media sosial, pathos punya tenaga yang besar. Ia cepat menyentuh perasaan orang, apalagi jika dibungkus dengan narasi nasionalisme, kerendahan hati, atau drama personal.
Di sisi lain, Anies Baswedan tampak sangat bertumpu pada logos dan ethos. Ia berbicara dengan struktur yang rapi. Argumennya disusun seperti orang yang sudah menyiapkan peta sebelum masuk ke hutan. Ada pola, ada premis, ada kesimpulan. Ia sering memakai angka, regulasi, dan perbandingan konkret untuk membangun kesan bahwa ia menguasai persoalan.
Dalam format debat, strategi seperti ini cukup efektif. Data tidak hanya dipakai untuk menjelaskan, tetapi juga untuk mengunci ruang gerak lawan. Sebab argumen berbasis data idealnya harus dijawab dengan data tandingan. Jika dijawab hanya dengan sentimen, maka jawabannya bisa tampak kurang memadai bagi penonton yang memang mencari kedalaman gagasan.
Namun tentu saja, logos juga punya kelemahan. Tidak semua orang menikmati penjelasan yang terlalu terstruktur. Bagi sebagian penonton, gaya seperti ini bisa terasa tajam dan meyakinkan. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa juga terasa terlalu dingin, terlalu akademis, atau terlalu seperti ruang kelas.
Ganjar Pranowo memiliki warna yang berbeda lagi. Menurut saya, kekuatan utamanya bukan pada paparan statistik yang padat, melainkan pada ethos yang dibangun lewat kedekatan langsung dengan masyarakat. Ia sering tampil sebagai figur yang membumi, dekat dengan rakyat kecil, dan berusaha menunjukkan bahwa jabatan bukan singgasana, melainkan mandat.
Slogan seperti “Tuanku Rakyat, Jabatan Cuma Mandat” adalah formula komunikasi yang menarik. Di dalamnya ada ethos dan pathos sekaligus. Ethos muncul dari posisi dirinya sebagai pelayan publik. Pathos muncul dari rasa keadilan, kesetaraan, dan empati kepada rakyat kecil. Ia tidak memakai emosi dalam bentuk narasi heroik yang besar, melainkan dalam bentuk kedekatan sehari-hari.
Ganjar memakai pathos dengan kadar yang lebih terukur. Bukan drama personal, melainkan koneksi akar rumput. Bukan kisah ksatria tua, melainkan kesan pejabat yang mau turun, mendengar, dan menyapa.
Maka kalau dilihat dari tiga tokoh itu, debat 2024 sebenarnya menarik bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena gaya komunikasinya berbeda-beda.
Prabowo membawa narasi patriotik dan emosional.
Anies membawa dialektika kritis berbasis data.
Ganjar membawa populisme yang dibangun dari kedekatan dengan rakyat.
Tiga-tiganya punya pasar pendengar masing-masing. Ada orang yang tersentuh oleh ketegasan dan narasi besar. Ada yang lebih percaya pada susunan argumen dan data. Ada pula yang lebih nyaman dengan pemimpin yang terlihat dekat dengan kehidupan sehari-hari rakyat.
Di sinilah saya mulai sadar bahwa pemilu bukan hanya soal siapa yang punya program paling bagus. Pemilu juga soal siapa yang paling berhasil menerjemahkan dirinya ke dalam bahasa yang bisa diterima publik.
Sebab dalam politik, gagasan yang baik tidak cukup hanya benar. Ia juga harus bisa disampaikan dengan cara yang membuat orang mau mendengarkan.
Dan barangkali itulah pelajaran terbesar saya setelah menonton debat itu. Bahwa memilih pemimpin tidak bisa hanya mengandalkan rasa suka atau tidak suka. Kita perlu melihat rekam jejaknya, membaca programnya, dan memahami cara ia berbicara. Sebab dari bahasa, sering kali kita bisa melihat bagaimana seseorang berpikir. Dari cara menjawab, kita bisa melihat bagaimana ia menghadapi tekanan. Dari cara menyerang, kita bisa melihat batas etikanya.
Saya belum punya pengalaman memilih. Tapi saya rasa, belajar membaca politik bisa dimulai sebelum kita masuk ke bilik suara.
Karena pada akhirnya, pemilu bukan hanya milik mereka yang sudah mencoblos.
Pemilu juga milik generasi yang sedang belajar memahami bagaimana sebuah negara memilih arah jalannya.
Ada di Kompilasi:
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

AES193 Menulis Kanji
Tulisan di Ririungan tanggal 15 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, terpantau sudah satu bulan lamanya saya tidak menulis di Ririungan seperti biasanya. Bukan karena tidak ingin menulis, tapi barangkali karena saya sedang menunggu sesuatu yang cukup menarik untuk dituliskan dalam sebuah esai…





