115 sepaket

Teringat ketika anak-anak masih kecil. Libur panjang identik dengan eksplorasi dan bermain bebas, termasuk berkarya atau berkreasi. Mereka mendapat keleluasaan untuk mengeluarkan mainan mereka, membangun kota, rumah-rumahan, jalan, menggambar dengan berbagai bahan, dll. Awalnya gatel karena pastinya berantakan banget. Akhirnya, alih-alih menahan diri untuk ngomel biasanya aku berdamai dengan ikut main, ikut bantu membuat bangunan, jembatan, atau apapun. Seru juga Lalu di akhir masa liburan, beres-beres bareng. Rasanya tidak ada keluhan bosan atau mati gaya sih sepanjang liburan yang bisa beberapa minggu lamanya.
Ruang eksplorasi untuk anak memang seringkali bertabrakan dengan tanggung jawab ibu-ibu untuk menjaga rumah agar tetap rapi dan bersih. Memang ga bisa juga memberi ruang eksplorasi yang banyak batasan dan syaratnya. Paling mungkin membatasi ruang, agar tidak serumah-rumah berantakan, atau memberi syarat untuk membereskan bersama setelah selesai. Memberi ruang eksplorasi yang sepaket dengan tanggung jawab membereskan sebenarnya seperti sekali mendayung, 2 pulau terlampaui. Eksplorasi sendiri membangun banyak hal; rasa percaya diri ketika berhasil membuat sesuatu yang mengasyikan, fokus, ketekunan, mencari solusi kreatif ketika menghadapi kendala, mengasah ketrampilan motorik dan kemampuan teknis, dll. Setelah selesai, membiasakan anak membereskan segala sesuatu ke tempatnya juga tak kalah penting. Jangan ragu, jangan kasihan, karena membereskan mainan atau peralatan berkarya yang sudah ia gunakan memang sebaiknya menjadi bagian dari proses eksplorasi itu sendiri. Bila terbangun baik, kebiasaan ini akan anak bawa dalam kehidupannya kelak.
Ketika kuliah, salah satu dosen yang juga seorang seniman cukup terkenal negeri ini, memberi tips untuk selalu membereskan alat, bahan dan ruang berkarya, karena itu termasuk bagian dari proses berkarya. Ia sendiri baru akan mengatakan karyanya selesai ketika semua kuas sudah dicuci bersih, semua cat sudah tertutup dan tersimpan rapi di tempatnya. Asik banget ga sih..
Komentar (7)
Setuju kak Ine, hanya kalau di dapur pemikiran semacam ini tidak dipraktikan. Masaknya rajin tapi ga ada yang mau nyuci panci. Di dapur profesional juga gitu hahahaha
haha ternyata emang gitu ya? saya juga dapet giliran nyuci kalo anak saya masak pak.. tapi karena memang sepakatnya gitu, dia yang masak, saya yang nyuci, makannya bareng hehe..
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES182 Kolaborasi Buku Anak
Pada Festival Literasi Tahun Pendidikan 21 yang mulai berlangsung ini, ada banyak program menarik. Salah satu yang baru adalah Kolaborasi Buku Anak. Undangan pertama untuk para penulis. Siapapun yang mau boleh menulis cerita bertema imajinatif untuk anak < 10 tahun. Ternyata cukup banyak yang me…

AES181 Terima Kasih!!
Festival Literasi TP 2024-2025 baru saja berakhir, penuh rasa dan syukur. Festival Literasi di Smipa bukan acara yang wah dalam arti mewah atau meriah saja. Yang ingin dicapai bukan sekadar wah. Banyak hal yang ingin kita sasar dan bangun lewat kegiatan ini. Jadi, apa yang membedakan Festival Liter…

AES180
Sudah cukup lama tidak mengunjungi akun Ivan Lanin. Biasanya pada periode merapot, saya suka melihat-lihat postingan beliau. Banyak dapat info perkembangan bahasa Indonesia yang jarang sekali dapat perhatian. Unggahan uda selalu menarik, dengan nuansa humor yang kocak, sekaligus mengajak pembaca be…

