AES180

Sudah cukup lama tidak mengunjungi akun Ivan Lanin. Biasanya pada periode merapot, saya suka melihat-lihat postingan beliau. Banyak dapat info perkembangan bahasa Indonesia yang jarang sekali dapat perhatian. Unggahan uda selalu menarik, dengan nuansa humor yang kocak, sekaligus mengajak pembaca berpikir dan mendapat wawasan baru.
Kemarin, di antara unggahannya, muncul tulisan, "Saya genap menuntaskan 365 hari untuk menulis." Whooa… seperti AES niiih… (meski belum ngalahin pak @joefelus
). Beliau menulis di Medium ( https://ivanlanin.medium.com/ ). Sudah cukup lama, tapi tampaknya yang 365 terakhir ditulis secara rutin setiap hari sejak November 2023. Saya baru sempat mengintip sekilas dan membaca beberapa tulisannya. Tulisan-tulisan singkat, rata-rata sekitar 500 kata, sedikit lebih banyak dari jumlah minimum kata pada AES. Topiknya juga beragam, dari yang serius mengenai kelas-kelas pelatihan kebahasaannya, tentang kesibukan hariannya, tentang perjalanan diri, pengalaman dan refleksinya. Pada salah satu tulisannya, beliau menjelaskan alasannya mulai menulis rutin untuk berlatih bercerita adalah karena munculnya ChatGPT. Sebagai wikipediawan, tentu meresahkan ketika kecerdasan artifisial (AI) sudah bisa membuat menulis dengan gaya ensiklopedis seperti yang biasa ia lakukan. Jadilah ia melatih bidang lain yang belum dikuasai AI, yaitu menulis cerita pengalaman pribadi.
Membaca tulisan uda selalu menyenangkan untuk saya, karena jelas, baik dan pastinya benar. Sesuai dengan profilnya lah; "Wikipediawan pencinta bahasa Indonesia yang berlatih bercerita setiap hari". Pada salah satu tulisannya, beliau bercerita tentang rutinitasnya selama setahun bercerita tersebut. Ternyata tak hanya menulis, beliau juga meluangkan waktu 1 jam setiap hari untuk membaca sekitar 30 tulisan para penulis lain di medium yang ia ikuti. Mau bilang itu kan karena pekerjaan atau renjana beliau, bisa saja. Namun tetap saja bukan hal yang mudah dilakukan dan butuh komitment tulus untuk bisa konsisten melakukan hal itu. Komitment semacam itu yang tampaknya membedakan kemampuan belajar dan bertumbuh setiap orang. Bahkan orang selevel beliau pun masih terus berlatih dan mengasah kemampuannya. Salut!
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES208 Don’t Try
Charles Bukowski tried his whole life to become a writer. After school he wrote hundreds of stories in the hopes that they would be published and be recognized, making it into his living, but it never quite happened. Disillusioned, he took a blue collar job in a Post Office, where he worked for 10…
AES158 Kembali Menulis
Waktu itu, sudah cukup lama sejak rutin menulis AES-ku terhenti. Dengan alasan, tergantikan oleh keasikan baru menggambar mandala. Aku sedang berdiskusi dengan rekan SPP tentang persiapan lingkar belajar untuk kakak jenjang kecil, dengan topik emosi. Khususnya dalam hal pengelolaan emosi di kelas,…

AES150 bene scriptum
Pagi ini menerima kiriman, Vivere et Interpretari; sebuah buku tulisan Tasha, KPB 2022. Pas banget karena bisa langsung baca, mengisi libur. Terimakasih @natasha-setyamukti ! Perjalanan 3 tahun, 6 semester di KPB, dikemas dalam sebuah buku setebal 157 halaman. Wow, menarik sekali 1 rangkaian proses…
