AE13 Belajar

Baru tiga bulan di tahun 2022, tapi rasanya banyak terjadi perubahan baru. Sat-set-sat-set tiba-tiba corona punya varian baru. Sat-set-sat-set tiba-tiba Russia perang sama Ukraina. Sat-set-sat-set tiba-tiba mobil udah berdaya listrik, dunia metaverse sudah eksis. Wow.
Buat saya pribadi, hidup di zaman yang perubahannya serba cepat ini, butuh adaptasi. Hal yang paling mendasar adalah dengan mempelajari hal-hal baru. Kayaknya enggak bisa, deh, saya hanya duduk diam tidak bergerak untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas diri. Mungkin ada orang yang biasa-biasa saja dengan perubahan dan hal-hal baru, tapi kalau saya, enggak. Bukannya FOMO, setidaknya bisa dijadikan bahan obrolan bersama murid-murid remaja yang memang hidup di zaman masa kini.
Buat saya belajar itu penting. Teringat quotes yang diutarakan oleh seorang CEO start up, "Belajar apa saja, supaya pintar apa saja. Ilmu itu tidak akan langsung terpakai, tapi suatu saat nanti pasti akan terpakai."
Waktu saya lagi KKN di Jampang Kulon, saya pernah diajarkan cara mengusir anjing oleh warga. Pertama saya tidak acuh dan hanya jadi bahan lucu-lucuan saja, ibarat kata hanya menjadi bahan ramah-tamah. Eh, ternyata ilmu ini sangatlah terpakai, setiap saya sedang bertandang ke daerah baru dan bertemu dengan anjing liar, jurus mengusir anjing tersebut sangatlah terpakai.
Oke, kembali ke masa kini.
Dulu saya kuliah di jurusan jurnalistik. Yang mana saya benar-benar dibentuk menjadi seorang wartawan untuk media cetak. Begitu lulus, bingung. Karena banyak perubahan yang terjadi. Media cetak bukan lagi yang paling bergengsi, posisinya digeser jauh oleh media daring. Saat ini media daring pun mulai ketar-ketir, posisinya hampir digeser oleh media sosial yang kontennya banyak berasal dari masyarakat yang bukan jurnalis. Rekan-rekan saya yang menjadi jurnalis di media, banyak yang dituntut untuk mulai menjadi konten kreator untuk kanal Youtube, Tiktok, dan Instagram.
Walaupun sudah tutup buku menjadi seorang jurnalis, saya tetap harus upgrade skill journalism saya. Gimana caranya? Sekolah lagi? Duh, inget kemarin pengalaman ngerjain thesis rasanya semangat pun mundur teratur. Thanks to pandemi, sekarang belajar enggak perlu sekolah lagi. Banyak banget kursus-kursus singkat yang diadakan secara daring. Memang, sih, enggak dapet ijazah hanya sertifikat. Namun setidaknya, ada pengetahuan singkat yang bisa ditambah ke dalam folder di dalam otak ini.
Ada banyak hal baru di bidang jurnalism pada khususnya dan tulis menulis pada umumnya. Untuk mengisi waktu luang, saya sering berselancar untuk mencari tahu beberapa kebaharuan tersebut. Ada tiga hal yang menarik, versi saya, untuk dipelajari. Copywriter, search engine optimization, dan Google Ads. Ketiga hal tersebut dipayungi oleh satu kata: marketing. Saya pun tertantang untuk meningkatkan skill menulis saya, yang tadinya hanya menulis berita, menulis caption di Instagram, dan menulis rapot, menjadi menulis di bidang marketing. Sudah tiga bulan ini saya mengikuti kursus daring untuk mempelajari ketiga hal tersebut.
Untuk apa? Sebenarnya saat ini belum ada tujuannya, belajar aja dulu. Lebih baik meningkatkan kualitas diri dengan belajar daripada duduk diam sambil gosipin orang, kan? hahahaha.
Saya sering bagi-bagi ilmu kepada murid-murid saya di KPB. Apalagi sekarang mereka lagi coba jualan. Saya sering sharing terkait pembuatan konten untuk instagram, membuat iklan, dan bagaimana strategi marketing yang bisa mereka lakukan. Seru ternyata, bisa langsung dipraktekin. Walaupun mungkin banyak "kok gini, kok gitu", namanya juga belajar. Belajar itu, kan, proses, bukan hasil akhir. Aneh rasanya, kalau menjunjung proses, tapi tetap hasil akhir yang menjadi penilaian.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berhubung ngomongin proses murid yang lagi jualan, saya mau bantu mereka untuk promosi. Mereka lagi bikin produk dari kertas daur ulang, berupa kalender dan notes, produknya bisa dilihat di @sageproject_ . Selain jualan produk mereka juga bikin workshop pembuatan kertas daur ulang, alasannya karena mereka memiliki harapan ilmu yang sudah mereka pelajari selama dua tahun ini bisa bermanfaat untuk orang lain. Kalau tertarik untuk ikut, bisa langsung daftar di link: workshop kertas.
Sumber gambar: School vector created by storyset - www.freepik.com
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AE12 Kesepian
"Kak, aku boleh cerita?" tanya salah satu murid, ketika saya sedang duduk sendirian berkutat dengan laptop. Saya menatap wajah sang empunya suara, terpahat mimik sedih di sana. Ketika saya mengiyakan, dia pun duduk di depan saya dan memulai kisahnya. Baru mengucap satu kata, dia pun menangis. Saya…

AE11 Ribet
Satu hal yang menjadi ciri khas remaja itu adalah enggak mau ribet. Segala sesuatu inginnya yang mudah, yang gampang, yang instan. Tapi mereka juga ingin menciptakan sesuatu yang "WAH". Nah, loh, ini dua hal yang bertolak belakang. Gambar: Business vector created by pikisuperstar - www.freepik.com

AE10 Guru
Terucap selamat untuk para guru di hari ini. Ah, saya jadi mengingat-ingat guru-guru saya di masa lampau, bukan hanya guru di sekolah, tapi juga guru-guru saya di bidang yang lainnya. Saya jadi ingin membuat sebuah ucapan terima kasih untuk mereka. Bu Edah Ibu guru ini adalah guru pertama yang saya…
