AES 004: Di Atas Ketinggian Langit itu, Aku Berefleksi Pt. 3 - Refleksi

'Wow Owen, sangat inspiratif dan thought provoking thumbnail yang anda pilih" aku katakan kepada diri sendiri dalam kekosongan kamar (atau, klaustrophobia- tergantung prespektif sih); bentuk afirmasi yang konon katanya oleh para pakar-pakar kesehatan jiwa akan sangat membantu dalam menghadapi berbagai deviasi emosional non-senang yang terjadi.
Dalam rangka minggu 3/5 kegiatan 'Trial KPB', saya menulis hal yang terlintas di benakku yang sangat tampak dalam minggu-minggu kegiatan itu, yakni; Diversitas SMIPA.
Jujur, latar belakang saya sebagai seorang manusia pertama kali di bumi ini berada dalam lingkungan yang monolitis, dalam arti saya dikelilingi orang-orang lain yang tidak jauh berbeda dariku. Seperti apakah itu? Nah, aku dikelilingi oleh daku, aku, saya, dan buku (haha emang sih, homeschooling). Oke, tapi apa artinya dong implikasinya terhadap SMIPA secara spesifik?
Entah kapan itu, saya kembali ke sekolahku lampau semasa TK-SD, Santa Angela. Dengan ruang-ruang kelas yang dulu saya pernah lewati, dalam lorong-lorong dan ruang acara dengan panggung besar itu, dengan temboknya yang hijau-putih, dan lapangan-lapanganya yang luas, DAN tentunnya, perpustakaan mungil tercinta yang menunda pulang ke rumah selama waktu yang tak terhingga, aku terasa kembali mengalami berbagai adegan masa lalu yang sepertinya masih berlangsung. Tentu juga, aku menemui teman-teman dan guru lama. Tapi satu hal yang sedikit menghantui adalah betapa banyak saya berubah, namun mereka berada di sana, seperti dibekukkan waktu- mereka hanya bertambah tinggi, berganti seragam jenjang.
JANGAN salah, Santa Angela adalah suatu tempat yang prominen dalam perjalanan hidupku secara besar, dan sebagai tempat childhood, membentuk sebagian besar kepribadian dan identitasku hingga sekarang, tapi suatu hal tentang kelas-kelas bangunan Belanda itu, baris-berbaris sebelum kelas, murid-murid yang terlihat tak ingin menunda keluar kelas saat bel berbunyi -- semua terasa sedikit tidak enak. Itulah saat saya sadar betapa berubah saya dalam waktu 5-6 tahun setelah meninggalkan tempat ini, dan akhirnya tiba dan berkegiatan di SMIPA.
Kurang lebih dengan segala keterbatasannya, SMIPA mampu membentuk ruang yang mengakomodir intrik-intrik baik siswa maupun civitas secara keseluruhan. Perdebatan aktif dan pandangan yang dinamis adalah tema yang sangat terlihat, terutama pada saat saya mencari saran-saran, tanggapan, dan kritik untuk proyek trial KPB disini, bertanya-tanya di kelas, pendopo, bengkel, dsb. Untukku, SMIPA menjadi sebuah gambaran yang saya sekarang anggap sebagai bentuk nyata diversitas, bentuk kecil 'Bhineka Tunggal Ika', jauh dari sebagai perkataan normatif sosial di Indonesia. Mungkin intellegensia tak jauh berbeda dari sekolah swasta lainnya, tapi keberagaman membuat segala perbedaan yang berteriak bagi mata dan telinga.
Itu saja, mungkin penjelasan ini (seperti halnya semua tulisanku) dapat diperpendek ke dalam paragraf 6 saja, tapi detail latar belakang ini saya pikir relevan sebagai validasi (heh, kok balik ke intro ya?) atau dasar opini ini secara pribadi. Saya juga sadar dengan betapa normatif, atau self-evident pandangan ini di SMIPA, yang juga sedikit terdengar sebagai status quo bias bagi saya dalam semester-semester awal di SMIPA, tapi dalam observasi, perkataan itu; diversitas -- terasa merupakan sebuah understatement dalam mendeskripsikan 'Semi Palar'.
To be continued...?
Komentar (2)
Terima kasih Owen untuk refleksi dari proses kamu di Semi Palar. Sangat menarik buat kak Andy. Saya juga senang bisa mengenal Owen yang ternyata piawai dalam bermain kata dan merancang narasi. Keren. Semoga proses kamu di KPB lebih membukakan banyak ruang petualangan baru buat kamu.
Fotonya sangat mengambil hak cipta
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 013: Hari Ketiga, Tahun Kedua
Angin mendinginkan kota, menyambut hari yang baru. Seperti membidik panah, hari ini kami menetapkan arah tujuan kami di tahun ajaran baru. Bayang-bayang masa depan menjadi peta yang memandu arah. Mungkin hari ini adalah penanaman akar baru yang kelak akan membuahkan hasil. Dan sekarang, kita menant…

AES 012: Hari Kedua, Tahun Kedua
Jarum jam menunjuk angka 7, dan Basecamp terasa kosong, sunyi.Hari ini dingin sekali, terlebih karena kekosongannya.Meletakkan lagi tas-ku untuk kedua kalinya di tahun ini, terlihat seorang sosok. Jarum jam menanti jam 8. Jam 8 telah tiba dan kelas telah dimulai. Rasa seperti dilakukan berminggu-mi…

AES 011: Hari Pertama, Tahun Kedua
Mentari telah bersinar, dan aku berada di ambang telat.Bersenjatakan buku, kertas, dan laptop aku letakkan di dalam tas.Meletakkan tas di basecamp aku berlagak cepat menuju lapangan basket. Hari ini adalah hari pertama dalam tahun ajaran yang baru, tahun ajaran kedua-ku di KPB Semi Palar. Tidak lam…


