AES: 007: Menjaga Kewarasan Dengan 'Mental Hygene'

Aku seringkali dikonontasikan sebagai seseorang yang sangat memantau perihal perpolitikan di negri pertiwi ini. Tentu ada kebenaran dalam pernyataan-pernyataan itu, aku banyak menghabiskan waktu membaca persoalan para seniman-seniman kebijakan yang membuat undang-undang bagai mem-puisi-kan aspirasi mereka untuk dibaca dan diteliti oleh orang-orang dari ujung-ke-ujung perpulauan yang kita tinggali. Saya juga setara suka berpartisipasi dalam diskursus publik, pengutaraan timbul balik diantara satu orang ke yang lain menurutku begitu begitu menyenangkan untuk ditonton dan dimainkan. Sekaligus, saya rasa semua hal tersebut krusial untuk dilakukan (menurut saya perlu lebih banyak!) untuk mengakari demokrasi di benak sosial orang-orang Indonesia.
Namun, suatu observasi yang sering saya hadapi adalah frustrasi pribadi yang menjadi konsekuensi atas pemaparan masa depan yang sepertinya terasa begitu kelam dan mendalam, bagaimana ketertarikan mendalam dalam kurun waktu yang panjang akan ironisnya membentuk apatisme dan keputusasaan -- para idealis yang semakin lama menjadi pragmatis dan pesimis.
Maka, saya rasa suatu hal yang jarang didiskusikan di luar kalangan profesi jurnalistik investigatif adalah keperluan untuk memprioritaskan penjagaan kesehatan mental. Dalam profesi tersebut, mereka perlu memahami bahwa 1) keberatan emosional di satu sisi atau yang lain akan membawa dampak negatif bagi kemampuan untuk menanggapi suatu informasi dengan konsisten dan akurat 2) bahwa menanggapi setiap kejadian dan detil akan menjadi distraksi dari topik-topik yang berpotensi lebih krusial 3) kesehatan mental, seperti kesehatan fisik perlu dipedulikan dengan seksama.
Dalam berada di polemik-polemik di Indonesia haruslah insyaf bahwa perlulah untuk melepaskan diri (detachment) dari topik yang memberatkan benak (distressing content) dari waktu ke waktu, dan memisahkan topik tersebut dari pribadi kita. Bagaimana pun media online terasa terlepas dari kehidupan kita, konten-konten yang menghasilkan respons vitriolik akan sulit untuk dilupakan. Untuk saya secara pribadi, saya lebih memiliki preferensi dengan tulisan-tulisan retrospektif karena akan secara fundamental lebih komprehensif dan lepas dari prejudis dan constraint artikel-artikel actualité.
Sebuah artikel yang sebenarnya ditujui untuk peneliti OSINT namun saya rasa relevan:
https://www.bellingcat.com/resources/2022/11/23/how-to-maintain-mental-hygiene-as-an-open-source-researcher/
Ini telah menjadi PSA singkat dari saya, terima kasih atas perhatiannya.
Komentar (1)
Mantap. Sepakat. Walaupun sebelum mental health ada urusan kesadaran juga di lapisan bawahnya... ,,
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 013: Hari Ketiga, Tahun Kedua
Angin mendinginkan kota, menyambut hari yang baru. Seperti membidik panah, hari ini kami menetapkan arah tujuan kami di tahun ajaran baru. Bayang-bayang masa depan menjadi peta yang memandu arah. Mungkin hari ini adalah penanaman akar baru yang kelak akan membuahkan hasil. Dan sekarang, kita menant…

AES 012: Hari Kedua, Tahun Kedua
Jarum jam menunjuk angka 7, dan Basecamp terasa kosong, sunyi.Hari ini dingin sekali, terlebih karena kekosongannya.Meletakkan lagi tas-ku untuk kedua kalinya di tahun ini, terlihat seorang sosok. Jarum jam menanti jam 8. Jam 8 telah tiba dan kelas telah dimulai. Rasa seperti dilakukan berminggu-mi…

AES 011: Hari Pertama, Tahun Kedua
Mentari telah bersinar, dan aku berada di ambang telat.Bersenjatakan buku, kertas, dan laptop aku letakkan di dalam tas.Meletakkan tas di basecamp aku berlagak cepat menuju lapangan basket. Hari ini adalah hari pertama dalam tahun ajaran yang baru, tahun ajaran kedua-ku di KPB Semi Palar. Tidak lam…

