AES-014 - Ngobras Kehidupan Setelah Smipa
NGOBRAS 12-8-26
KEHIDUPAN SETELAH SMIPA
Tulisan dibuat Senin 14-9-26 9.19-12.28
Menarik dari pembahasan ngobras di Agustus. Tentang 'Petualangan' anak-anak kita yg sekarang sudah jadi alumni KPB. Rata-rata sudah berumur 26 tahunan. Namun dari muka-mukanya yang sudah mengalami petualangan dengan penuh ombaknya masing2, terkesan 'Lebih Dewasa', yang tentu 'Melampaui' saya pada umur yang sama dahulu kala.
Ada perkataan terlontar, "Aku itu siapa di luar Smipa ?". Mungkin berpikir Smipa dengan ragam pembentukannya yang unik, yang pastinya sudah terus 'Dobrak Benturkan Sana Sini' berupaya 'Mengeluarkan Bintang'-nya. Mereka yang pada masanya sempat berpikir "Siapa Aku ?", maklum sekolah kita 'Unik', orangtuanya 'Unik', alhasil anak2nya pun dipaksa mengeluarkan 'Keunikan'-nya, tentu dengan proses 'Metamorfosis' - nya sendiri-sendiri.
Semuanya mengesankan, kebetulan ada satu yang sepertinya relevant dengan keadaan Putri kami yg pertama, yang kadang 'Pemalu' , 'Emosi labil', 'Bingung' , seperti 'Belum Ajeg' seperti 'Layang-Layang' yang harus terus dipegang kuat, namun alumni KPB ini ternyata 'Bisa Melewatinya'. Katanya dengan lakukan 'Evaluasi Diri' tiap akhir bulan, 'Apresiasi Diri' ketika berhasil mencapai. Ya dia lakukan dengan 'Jurnaling' untuk belajar 'Mengenal Diri Sendiri', 'Memetakan Peta Hidup', 'Melihat Dunia Dengan Lebih Utuh'. (Kita juga ortu-ortu yang lebih sering berupaya 'Mengenal Orang Lain & Luar', lupa untuk 'Mengenal Diri yang Terus Bercokol' sampai akhir hayat malah juga sampai nanti kekal juga toh masih bercokol dengan Diri ini.) Tentu si Anak ini 'Berjuang Berkutat' terutama dari masa2 K-7 masuk Pubertas, namun dia dengan pendidikan Ala Smipa yang terus mencoba 'Mendobrak & Benturkan', bisa juga 'Menemukan Bintangnya' pada masanya. Ya....'Pada Masanya', hal ini yang paling nyeesss sekali untuk saya.
Ada juga yang mengalami 'Kepercayaan Diri' yang runtuh, harus dibangun, dan terus dicari. Ini juga tidak mudah, karna selama 4 tahun terus 'Menunggu Waktu'. Namun sambil 'Dijalanin dan Tidak Disadari' itu, dengan prosesnya yang seperti 'Tidak Terlihat', senyatanya telah 'Menembus Menerobos' untuk 'Mengakar Kuat'. Nah pertanyaan menohok untuk kita orang tua, kalau mengalami kasus anak 'Memilih Keluar' sekolah tidak bisa mengikuti, lalu sesudah ikut Ujian Persamaan, lulus namun 4 tahun agak luntang lantung, yang lain mengisi waktu dengan 'Kuliah', anak kita mengisi waktu dengan banyak di 'Rumah'. Ya tentu bukan 'Melamun merenung' tapi ternyata si Anak ini 'Berjuang' dengan caranya, dan hal yang sangat indah untuk si Anak waktu kita orang tua bisa 'Menenami Mendampingi'. Tentu ini pilihan yang sangat sulit, tapi mencoba saling mengingatkan tentang 'Pada Masanya'. Si anak ini yang sudah berhasil melewati 'Krisis Kepercayaan Diri' mengatakan, "Dari keadaan terpuruk, bangkit perlahan bertahap. Belajar apresiasi dari kesulitan. Jalan itu ada, asal mau keluar".
(Sulit juga tulis EYD, bedanya kutip dua kutip satu dan kutip dalam kalimat ^^ ??? ). "Anak-Anak memiliki 'Jalur Sendiri', nanti mereka juga 'Akan sampai'. ", kutipan keren juga didapat. Tentu hal ini bukanlah sifat 'Permissive' (Membiarkan), bukan juga 'Pesimis' (Kumaha Maneh Weh) namun karna Anak - 'Punya Bintang'-nya sendiri (Kata lainnya 'Punya Ritme'-nya sendiri) Jadi mengingatkan kita juga 'Jangan Membanding-Banding kan' apalagi 'Membanting-Banting kan'. Ya kembali dengan kata 'Menemani Mendampingi' - yang teringat puisi yang dibacakan Kak Wiwit di acara POT dari Kahlil Gibran : "Anakmu Bukanlah Milikmu", nanti saya bagikan puisinya yang diambil dari Google hasil Googling yang tanpa Digiling jadi tidak perlu Diroasting. (Dan saya pun sekarang jadi 'Meng-Grandung-i' sang Pujangga Gibran yang tentu tidak sampai 'Meng-Gondrong-i' apalagi jadi 'Grandong' si Nenek Penyihir Hijau yang Bijak itu dengan cekikannya khasnya. Bercanda ^^)
"Tidak apa belum terlihat 'Tumbuh Kuncup', namun akarnya 'Terus Tumbuh Menancap Menerobos'", nni juga yang dibahas dari POT waktu itu "Generasi Kembali Ke Akar". Ya 'Belajarlah Menanti karna Semua Akan Muncul Pada Masa-nya'. Ada cerita juga dari seorang anak yang memilih 'Revisi Perjalanan' studinya, dan terlontarkan kembali ucapan keren dari acara ini, "'Merevisi Prjalanan' itu bukan kesalahan, tapi 'Perjalanan Hidup'". Ya teringat jargon iklan Detergen suatu waktu, "Ga kotor ya ga belajar". Namun kembali hanya terlihat 'Manis' di perkataan, 'Mengerikan' di tindakan, tapi ada tuh anak-anak kita yang 'Menemukan Bintang' dengan 'Merevisi'. Mengapa kita tidak membiarkan mereka 'Mencari Bintang-nya' dan bukan (khawatirnya) 'Bintang-nya Orang Tua'. Terlepas tentu 'Tidak mudah' untuk orang tua 'menerima (menjalani)-nya'. Namun kembali lagi dengan kata 'Menemani Mendampingi', bila merevisi membuat lebih baik, mengapa tidak ?
Hal indah lainnya dari alumni-alumni ini, ada yang baru jebolan K9 tidak lama namun karna berpikirnya 'Sudah Dewasa' duluan malah banyak berteman dengan yang tua-tua. Yang heran itu pola pikirnya : bila sekarang ini lebih sering berpikir 'Yang Penting Saya' tapi anak ini malah 'Merepotkan Diri' dengan membantu yang lain. Anak yang Terlihat Biasa-biasa saja dari penampilan, tapi begitu 'Matang' dalam pola pikir dan tindakan.
Apa saja yang terbangun dari kisah anak-anak ini, yang tentu harus kita ingatkan juga untuk kita sendiri dan kepada mereka. (Tidak Mengurut) Satu : "Karakter Pembelajar" - menjaga 'Api Belajar' dari setiap anak, rasa 'Keingin Tahuan / Penasaran' yang harus terus dikembangkan. Dua : "Belajar Team Work / Kerja Sama" - dengan banyak kepribadian, belajar saling menerima, mengatasi kelemahan, menguatkan kelebihan. Tiga : "Masing-Masing Unik" - semua dengan keunikannya masing-masing, jangan khawatir berbeda, karna memang semuanya berbeda-beda. Empat : "Punya Nilai yang Dihidupi" - punya prinsip diri, tidak menghidupi expetasi orang lain. Lima : "Banyak Bekal Belajar" - yang entah kapan dipakainya, tetap terus belajar. Enam : "Berani Bertanya + Minta Masukan" - bukan dengan 'Asumsi', karna ada 'Biaya' yang sangat mahal, bila tidak bertanya, "There is no Stupid Question". Tujuh : "Terus Belajar Hal Baru" - dunia berubah tiap hari. Delapan : "Terbiasa Planning Perencanaan". Sembilan : "Niat Kuat"
Suatu ketika saya berbicara panjang lebar dengan si sulung. Tentu dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada guru-guru saya pendahulu, kata saya kepadanya, "Tapi mencoba berpikir bila 'hal didepan' (realita dunia) bisa dimajukan, mengapa tidak dimulai duluan ?" Berpikir dengan metode pembelajaran Smipa dan dengan melihat pengalaman alumni-alumni di depan (yang tentu semua juga 'berkeringat, berdarah, berairmata') namun sepertinya pantas untuk 'Menghadapi Dunia Nyata Lebih Cepat'. Tentu ada kekhawatiran : "Gimana kalau saya harus menunggu lebih lama untuk anak?", selama anak sedang berjuang 'Meraih Bintang' nya ya dengan sukacita saya akan 'Dampingi dan Temani', karna 'Penantian itu akan Indah Pada Masa-nya' (sok keren ngungkapin begini) . Melihat semua 'Proses Menanti' ini juga sebagai 'Proses Belajar', sampai tiba waktunya dia 'Mandiri' dan 'Terbang' keluar dari kepompongnya. Istilah cantik lainnya : 'Kepingan Karakter' yang terus dibangun.
Mungkinkan karna dari kecil sampai Besar itu membuat KPB jadi "Zona Nyaman" anak ? Memang Kelompok Petualang Belajar itu selalu 'Nyentrik'. Pencetus Sekolah pun mengalami 'Ombak' nya sendiri tentang konsep ini, namun katanya, "Inilah Puncak Pendidikan Smipa" yang Pimpinan pun walau keren mengucapkan itu tapi tetap tidak bisa menjelaskan, karna 'Harus Dijalani' biar jelas. Ibarat mau makan nasi goreng enak buatan Milikiti ya harus "Dibikin Dimakan Dijalani" bukan "Dikhayal Diliurkan". Memang tetap kita orang tua pastinya selalu 'Mengupayakan yang Terbaik', seperti iklan Teh Sosis, "Apapun Pilihannya, Yang terbaik untuk anak-anak". Benar perlu 'Keberanian' (bila 'Kenekadan' terlalu bombastis) untuk meneruskan anak-anak di KPB, namun ya kembali lagi 'Apapun Pilihannya' setiap anak 'Ada Masanya", tugas kita 'Menemani Mendampingi'. Beri kesempatan anak 'Explore dalam-dalam minatnya'. Dan kembali lagi juga 'Jangan Banding-Bandingkan'. Kalau anak kita kurang di satu sisi, maka harus dicemplungkan, kalau kata seorang Kakak Smipa : "Belajar Tega".
Tentu anak-anak ini sekarang sudah berdiri disini, dan mereka saat ini melihat 'Moment kilas balik', yang diceritakan dengan 'Guyonan Candaan', namun tersiratkan tidak terlihat ;Tangisan Keringat Darah' (Kalau mau lebih menaikkan tensi suasana ala filosofi Eropa) dari orang tua dan.....si anak itu sendiri. Terucapkan juga oleh seorang anak di sesi Ngobras ini, "Memang menghadapi hal yang tidak pasti, namun 'Ketakutan lama-lama Meredup". Wih keren banget....anak-anak ini. Ya untuk kita orang tua juga sama-sama 'Terus Belajar', setiap tema-tema yang diusung Smipa akan 'Menjembatani' antara 'Nilai yang Ingin Dibangun' Smipa dengan 'Harapan' orang tua. Terus berupaya mencoba melihatnya dari 'Bird Eye' agar 'Tau Arah' dan 'Blind Spot'.
Benar 'Waktu' itu dari dulu itu selalu jadi 'Misteri Ilahi', tugas kita orang tua itu 'Sabar dan Mendampingi'. Mie instant aja perlu waktu, kalau buru-buru ya masih 'Keriuk Keriuk', kalau kelamaan 'Buyatak'. Takaran airpun harus pas sesuai selera, dikit jadi 'Nyemek', banyak jadi 'Hambar'. Teringat sebuah lagu dari 'Payung Teduh' - berjudul "Nanti", salah satunya liriknya : "Ulat Terbang tak akan cantik, Biji bunga yang belum terbelah, Waktu adalah Rupa, Berjalanlah Berdampingan". (Memang mau liat "Kupu-Kupu" terbang tapi berbadan masih "Ulat" ^^)
Penutup, saya kirimkan puisi Kahlil Gibran :
Anakmu Bukanlah Milikmu
Anakmu bukanlah milikmu,
Mereka dalah Putra Putri Sang Hidup
yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau
Mereka ada padamu
tetapi bukanlah milikmu
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu
Sebab pada mereka
ada alam pikirannya sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
yang tidak dapat kau kunjungi
sekalipun dalam mimpimu
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampu
Kaulah busur,
dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Mahatahu membidik sasaran keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap
Kita tutup dengan : Amin........
Komentar (3)
Masukan sedikit. Kalau ada foto / gambar dan disimpan di bagian awal akan jadi featured image. Kalau dishare ke WA atau lainnya gambar itu akan terbawa. Makasih Samuel 🙏🏼
Peristiwa ini buat saya sangat mengharukan... Bincang lintas generasi... Mengingatkan saya sama lagu ini...
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES 015 - MELIHAT DENGAN JERNIH
NGOBRAS 15 - MELIHAT DENGAN JERNIHTulisan ditulis Senin 14-9-26 13.15-14.47Ngobras kali ini dimulai dengan 'Mengamati Sendok & Kacamata'. Saya karena 'Hilang Konsentrasi' di awal, jadi rada tulalit salah konsep. Baru kemarin ini ngobrol dengan Bu Firda, ternyata 'Melihat Apa Adanya' (saya pikir…
AES013 - NGOBRAS KE 9 - TENTANG SMIPA - 18-6-26
. Karna Ngobras terakhir, dan TIDAK TERLIHAT ADA TEMA, maka omongan mengalir kemana-mana.. Catatan ini AGAK ACAK, dan agak tercampur dengan PERSEPSI dari pencatat. Jadi TOLONG DIKOREKSI bila salah, dan DITAMBAHKAN bila kurang.. Obrolan yang BERHUBUNGAN, akan COBA DISATUKAN dengan topik, sehingga AG…
AES012 - Puisi Picisan di Ngobras 18-6-26
Ini sebenarnya puisi waktu sy utlah kemarin2, tapi dipikiri2 ok juga dibagikan dibacakan ^^. Ada perubahan dari versi awalnya, semoga ternikmati ya ^^. Masuki tahun pelajaran yang entah ke berapa...Memang sedih nyatanya bertambah tuaNamun senang mengarung beramai riaMenerus belajar serasa kembali m…

