AES 102 Berbagi Jalan

MengALAMI kembali pengALAMAN intens bersepeda di jalanan Bandung sebulan ini, gagasan utopisku tetiba muncul. Bahwa mungkin dengan naiknya tren bersepeda serta konsistennya kami, BaikSirkel dalam mengisi ruas-ruas jalanan kota dengan sepeda, akan TURUT MEMELANKAN RITME KOTA YANG RASANYA SEMAKIN TERGESA. Adakah juga yang merasakannya? Pengendara kendaraan bermotor di Bandung terasa lebih tergesa dan kurang "aware" dengan sekitarnya. Seolah jalan raya hanya milik kendaraan bermotor, segala benda dan aktivitas lain di dalamnya menjadi "hambatan" bagi kendaraan bermotor.
Lalu kita, sesama pengguna jalan terus dibenturkan seolah harus saling melawan dan berebut ruang yang sama dan mestinya bisa digunakan bersama. Mengapa?
Tentu saja, karena peran penyelenggara negara dan pelayan publik yang gagal dalam meramu regulasi dan menyediakan fasilitas yang proporsional dan merata. Dampaknya, budaya berkendara menjadi yang sekarang saya rasakan ini. Kalau kata Silampukau dalam lagunya, Balada Harian:
"Kota tumbuh,
kian asing, kian tak peduli;
dan kita tersisih di dunia yang ngeri,
dan tak terpahami ini.
Tik-tok jam. Dering alarm.
Pagi tak terhindarkan.
Tik-tok jam. Kini ku paham,
waktu sekedar hitungan yang melingkar,
kekal di kehampaan."
Kota dibangun untuk mesin, tak berpihak kepada manusia. Kepada kemanusiaan. Berjalan kaki dan bersepeda dianggap hambatan. Sepeda dianggap biang kemacetan. Lagi dan lagi, kita dibenturkan secara horisontal karena ketidakmampuan mereka pemangku kebijakan. Jadi, ini bukan tentang pesepeda dan pejalan kaki melawan pengendara ranmor. Ini tentang bagaimana budaya sepeda dan berjalan kaki pelan-pelan mengikis "kecepatan" ritme kota. Kembali menyelaraskan antara arus hidup dan rasa kemanusiaan dalam berbagi ruang gerak bersama, sehari-hari.
Karena, impian utopisnya sederhana, pesepeda, pejalan kaki, komunitas sepeda, tur sepeda, dan para pesepeda harian (bike to work), serta seluruh pesepeda dan pejalan kaki yang konsisten ada di jalanan setiap hari, bisa turut serta dalam MENJAGA RITME kota, agar tidak tergesa dan lebih berirama.
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES 44 Dorong tak Dosa
Ada sebuah lagu karya seorang teman di Solo, berjudul "Nol". Liriknya menarasikan keikhlasan dan "mengosongkan diri". Sederhana sekali liriknya : Kita hanya butuhkeikhlasan untuk menjalani semuaMungkin terlihat lemahKetika dicaci tapi mengampuni Kita hanya butuhkeikhlasan tanpa perlu pengakuanMungk…

#AES40 MaLAYa (Mamat, Lyn, Andy, Yanti)
Pada 23 Januari 2023 Bandung dan Cimahi masih diselimuti awan teduh. Sepertinya langit sengaja mengerahkan para awan untuk memayungi petualang Malaya bertualang dalam kayuhan. Hawa dingin tidak mengerutkan hangatnya perjumpaan dan tekad untuk bersama menyusuri segala medan di depan. Beriring doa da…

AES39 Kembali Mengayuh
Cerita hari ini (Senin, 23 Januari 2023) memang akan saya tulis. Hari yang sederhana, namun amat berkesan (seperti juga ungkapan kak Lyn tentang perjalanan ini; "berkesan"). Sesederhana kayuhan sepeda. Ketika tetap mengayuh, kita berjalan. Dalam kayuhan, kita seimbang, meski seolah tak ada yang men…

