AtomicEssay

AES 120 KPB & K6 & The Fig Tree

Saskia Electrapenulis arsip2

Minggu ini dan minggu lalu teman-teman KPB (K12) berkegiatan bersama dengan teman-teman K6. Seluruh rangkaian kegiatan terdiri dari 3 pertemuan. Di pertemuan pertama kita berdiskusi tentang energi dengan definisi yang lebih luas, lalu di pertemuan kedua kita yoga bersama dan membahas tentang pengenalan diri. Dan untuk pertemuan terakhir kita membahas tentang hewan yang sudah mereka pilih yang mereka rasa paling menggambarkan dirinya. 

Di awal rangkaian kegiatan ini ada keraguan yang cukup besar dalam diriku, karena sejujurnya aku merasa bahwa kapasitas aku kurang untuk memfasilitasi teman-teman K6. Apalagi diskusi tentang energi, dimana kayaknya ada 1001 definisi energi yang aku sendiri kayaknya kalau diminta mendefinisikan hal itu masih banyak sekali ruang untuk kebingungan nya. Namun setelah masuk ke pertemuan kedua mulai terasa lebih mengalir sih, dengan topik pengenalan diri yang aku rasa aku lebih bisa membawakan topik itu. Yang agak lucu di pertemuan kedua ini adalah di kelompok ku, entah kenapa banyak banget orang-orang yang merasa kekurangan nya itu di bidang matematika. Jadi kayak support group untuk yang pusing sama matematika gitu kesan nya sih. Lalu di pertemuan ketiga, sangat menarik untuk ku melihat bagaimana teman-teman K6 menggambarkan diri mereka dalam metafora hewan/tanaman. 

Entah kenapa ada sesuatu tentang rangkaian kegiatan ini yang mengingatkan aku pada satu bagian dari novel The Bell Jar karya tulis Sylvia Plath. “I saw my life branching out before me like the green fig tree in the story. From the tip of every branch, like a fat purple fig, a wonderful future beckoned and winked. One fig was a husband and a happy home and children, and another fig was a famous poet and another fig was a brilliant professor, and another fig was Ee Gee, the amazing editor, and another fig was Europe and Africa and South America, and another fig was Constantin and Socrates and Attila and a pack of other lovers with queer names and offbeat professions, and another fig was an Olympic lady crew champion, and beyond and above these figs were many more figs I couldn't quite make out. I saw myself sitting in the crotch of this fig tree, starving to death, just because I couldn't make up my mind which of the figs I would choose. I wanted each and every one of them, but choosing one meant losing all the rest, and, as I sat there, unable to decide, the figs began to wrinkle and go black, and, one by one, they plopped to the ground at my feet.” 

Analogi fig tree ini menurutku menarik, karena menggambarkan bagaimana kita memiliki banyak pilihan dalam hidup kita, dan memang pada akhirnya kita harus memilih. Pilihan nya pasti akan berbeda dengan orang lain, and that’s actually the beauty of it.Secara keseluruhan, ini menjadi pengalaman yang cukup tidak terduga. Dalam artian aku pun di awal menjalani nya dengan segala kebingungan aku sendiri, tapi untungnya aku, Kiran, Jose, dan Kak Tema bisa cukup memfasilitasi rangkaian kegiatan ini dengan optimal. Pesan moral yang aku pribadi dapatkan dari sini adalah untuk tidak membiarkan sedikit kebingungan itu menghalangi ku. Kalau Kata Kak Leo sih, justru bingung itu bagus, tandanya kita masih ada effort untuk berpikir.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES126 Tanda-Tanda Tanda Tanya

Semalam sebelum aku tertidur aku bertanya “Besok pagi mau sarapan pake telor dadar atau telor ceplok ya?” Lalu, saat bangun tidur aku bertanya “Kira-kira kalau aku dulu milih kampus yang berbeda, hidup aku sekarang kayak gimana ya?” Bahkan saat melangkah masuk metro line B pun muncul pertanyaan “Ap…

Saskia Electra10
AtomicEssay

AES125 Semuanya Tiba Tiba

Rasanya kehidupan belakangan ini banyak elemen ‘tiba-tiba’ nya deh, dalam beberapa konteks. Walaupun secara garis besar ku masih ngerasa ling-lung menjalani rutinitas baru ku disini; perlahan tapi pasti mulai lebih terbiasa. Sekarang sudah jauh lebih kenal dengan teman-teman, hafal nama gedung dan…

Saskia Electra32
AtomicEssay

AES124 Lika Liku dan Gebrakan Menjadi MABA

“Sas, gimana kabarnya disana?” Gimana ya kabar aku, aku sendiri yang menjalani bingung gimana cara jawab pertanyaan ini. Seperti orang pada umumnya, reflek pertama adalah “hi, kabar aku baik kok”. Tapi aku jadi bingung, apa bener kabar aku lagi baik-baik aja. Rasanya ada banyak pilihan kata lain ya…

Saskia Electra42